Tulisan Ramadhan #17 : Merencanakan Kematian (2)

Tulisan ini adalah tulisan ke 17/30 pada Ramadhan. Mohon maaf jika ada keterlambatan, sebab beberapa waktu yang lalu situs masih belum normal karena dibobol. Insya Allah akan dipost untuk yang selanjutnya di beberapa hari ke depan. Semoga mampu meningkatkan produktivitas dan menjadi amal kebaikan di Bulan Ramadhan. Silahkan di share jika bermanfaat, karena kebaikan akan terasa kebermanfaatannya jika dibagikan ?

Merencanakan Kematian

Merencanakan Kematian

Setelah sebelumnya saya bahas di sini bagian pertamanya, kali ini postingan saya berlanjut kembali.  Kematian. Banyak yang seakan takut mendengar kata ini. Barangkali penulis pun juga masih takut. Masih belum siap. Padahal siap tidak siap pada akhirnya kematian pasti bisa menjemput seseorang kapanpun, di manapun, dan dalam kondisi apapaun. Maka dari itulah, lagi-lagi kita harus kembali berkaca kepada sejarah. Sejarah islam yang mencatat bahwa para sahabat Rasulullah pun dahulu memilih kematiannya masing-masing? Benarkah kematian bisa dipilih?

“Aku ingin terkena anak panah di sini…”

Tentu saja kita masih ingat bagaimana kemuliaan para syuhada’ dalam berbagai peperangan. Bahkan ada beberapa sahabat yang meniatkan dalam perang menjemput kemuliaan syahid di jalan Allah SWT. Pun demikian kisah seorang arab badui yang diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dengan sanad shahih, An-Nasai dan lain-lain, dari Syaddad bin Al-Had

Suatu hari ada seorang laki-laki Arab Badui datang kepada Nabi Muhammad SAW. Kemudian menyatakan diri untuk masuk islam. Badui tersebut berkata kepada nabi, “Aku akan berhijrah bersamamu,”. Kemudian Rasulullah SAW dan para sahabat memberikan nasihat agama kepadanya. Orang badui tersebut pun semakin bersemangat dalam mempelajari agama islam.

Kemudian suatu ketika pada Perang Khaibar, Rasulullah SAW membagikan ghanimah kepada kaum muslimin. Rasulullah memberikan bagian kepada para sahabat yang membuat mereka bergembira. Hampir semua sahabat bahagia mendapatkan bagiannya masing-masing. Namun, ada sebuah hal yang menarik.  Ketika pembagian sampai kepada si Badui, tiba-tiba dia menolaknya sembari berkata, “Apa ini?” Para sahabat menjawab, “Ini adalah bagian ghanimah untukmu yang berasal dari Rasulullah SAW.”

Mendapatkan jawaban para sahabat, si Badui terpaksa mengambil bagian ghanimah itu, tetapi kemudian dia menghadap Rasulullah. Sesampai di hadapan beliau, si Badui bertanya, “Harta apakah ini, wahai Rasulullah?”.
“Ini adalah bagian ghanimah yang aku bagi untukmu.” jawab Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Kembali orang Badui itu berkata, “Bukan karena perkara ini aku mengikutimu, akan tetapi aku mengikutimu karena aku ingin agar suatu saat nanti aku terkena lemparan panah di sini –sambil menunjuk ke lehernya– sehingga aku terbunuh dan masuk ke surga Allah karenanya.” Rasulullah SAW bersabda, “Jika engkau jujur kepada Allah, maka Allah akan membenarkanmu.”

Kemudian pasca itu, kaum muslimin beristirahat sebentar, mereka kemudian  melanjutkan lagi penyerbuan terhadap musuh. Di tengah berkecamuknya peperangan, si Badui dibawa menghadap Rasulullah dengan keadaan terkena panah di tempat yang sesuai dengan yang dia tunjukkan sebelumnya. Melihat itu, Rasulullah bertanya, “Apakah dia orang yang kemarin?” Para sahabat menjawab, “Benar,” Nabi bersabda, “Dia telah berbuat shiddiq (jujur) kepada Allah , maka Allah berbuat shiddiq kepadanya.” Selanjutnya Rasulullah mengafaninya dengan baju besi milik Rasulullah dan beliau mendoakannya dan di antara doa beliau adalah,

“Ya Allah, ini adalah hamba-Mu, dia keluar untuk behijrah di jalan-Mu dan terbunuh sebagai syahid. Dan aku bersaksi atas perkara itu.”

Allahu akbar. Kita pada akhirnya belajar, bahwa kita bisa memilih kematian kita seperti apa. Asalkan kita jujur. Benar-benar dari hati, lillah, fillah, dan billah. Kematian bisa kita pilih walaupun belum tentu yang kita pilih. Bukankah pintu surga pun bermacam-macam? Ada pintunya orang yang berpuasa, pintunya orang yang bertaubat, dan pintu yang lainnya. Lalu bagaimanakah kelak kita mampu memilih kematian yang kita inginkan?

Merenungi hari-hari terakhir ramadhan
Semoga bukan ramadhan yang terakhir
10.11

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *