Tulisan Ramadhan #21 : Berhaji dan Berumroh Setiap Hari

Tulisan ini adalah tulisan ke 21/30 pada Ramadhan. Mohon maaf jika ada keterlambatan, sebab beberapa waktu yang lalu situs masih belum normal karena dibobol. Insya Allah akan dipost untuk yang selanjutnya di beberapa hari ke depan. Semoga mampu meningkatkan produktivitas dan menjadi amal kebaikan di Bulan Ramadhan. Silahkan di share jika bermanfaat, karena kebaikan akan terasa kebermanfaatannya jika dibagikan ?

p_20150221_080135-1024x768

Trio Pak Tua. Saya lupa nama-nama beliau ._. . Beliau-beliaulah yang membuat perjalanan Umroh saya pada waktu itu bersama rombongan semakin berwarna

Saya tiba-tiba teringat tentang perjalanan spiritual saya di bulan Februari 2015 yang lalu. Pada waktu itu, Maha Besar Allah yang telah mengizinkan saya mengunjungi rumahNya di Makkah dan Madinah. Pada waktu itu saya berangkat dengan sebuah biro Umroh milik rekan ayah saya. Kebetulan baru berdiri dan kami adalah jamaah umroh pertama yang diberangkatkan. Jadi ceritanya masih promo :p.

Kami berombongan sekitar 30 orang. Di situ ada berbagai macam orang mulai dari yang tua-tua, sampai saya dan adik saya yang ternyata paling muda. Banyak sekali inspirasi yagn dapat saya gali dari beberapa jamaah. Salah satunya adalah dari ketiga orang bapak-bapak tua yang seringkali bercanda bersama saya selama perjalanan. Mereka bertiga diberangkatkan umroh secara gratis oleh Bapak Faisal *sosok di sebelah kanan berbaju putih berkopyah*. Bayangkan mereka yang kurang mampu pada akhirnya di usia senja mereka mendapatkan kesempatan mengunjungi baitullah

Bapak yang disebelah kanan, sebut saja namanya Bapak Abdullah. Beliau pensiunan guru dan sehari-hari bekerja di masjid jami’ malang. Beliaulah yang seolah menjadi boss dari kedua bapak-bapak di sampingnya. Yang menemani makan, yang mencarikan obat kalau sakit, dan lainnya. Saya terkadang dibuat tertawa oleh kelakuan polos bapak-bapak tua ini mulai dari saat naik pesawat, saat di hotel naik lift, namun terkadang ikut terharu menyaksikan ekspresi mereka saat thawaf di Masjidil Haram. Pun demikian saat dengan nikmatnya minum air zam-zam.

Inspirasi saya sesungguhnya ada di dua orang bapak yang disebelah kiri dan tengah. Yang kiri beliau berprofesi sebagai pemulung. Yang tengah sebagai marbot Masjid Jami’ Kota Malang. Saya mendengar cerita dari mereka ketika mereka pertama kali diberi tahu akan diberangkatkan umroh gratis oleh Bapak Fauzan, keduanya bahkan sampai dua hari dua malam menangis. Pulang ke rumah. Bingung bahkan tidak percaya. Sosok yang kekurangan seperti mereka bisa berangkat umroh.

Usut punya usut mengapa pada akhirnya mereka yang diberangkatkan, ternyata barangkali karena amal istimewa mereka. Bapak yang kiri yang merupakan pemulung, seringkali setiap subuh terlihat shalat di Masjid Jami’. Di usianya yang senja beliau tidak ragu untuk melangkahkan kakinya ke masjid. Jalannya sudah sedikit tertatih-tatih walaupun masih terlihat bugar. Ya Allah, pada waktu itu seakan menjadi tamparan keras bagi saya yang masih diberikan kesehatan seperti ini, justru masih sering ketika subuh bermalas-malasan di atas kasur, kemudian ketika mendekati iqamat langsung berlari ke masjid karena takut terlambat ._.V. Sementara Pak Tua tersebut beliau selalu mengawali harinya sebelum memulung dengan berjamaah di Masjid Jami’.

Sementara itu di sebelahnya bapak marbot masjid Jami’, pada akhirnya beliau diberangkatkan karena dinilai oleh rekan-rekannya di Masjid Jami’, bahwa ibadahnya paling rajin. Baik shalat lima waktunya, tadarrusnya, maupun qiyamu lail-nya. Pun dengan usia senjanya, dan seringkali ketika saya ajak bicara low respond atau kadang setengah plonga-plongo tapi spirit beliau untuk beribadah luar biasa.

Keduannya memiliki kesamaan sebuah amal ibadah yang barangkali membuat ketetapan Allah untuk memberangkatkan bapak-bapak tersebut. Saya merinding ketika mendengar ibadah bapak tersebut. Ibadah yang sesungguhnya sederhana tapi beliau berdua istiqomah melakukannya.

Dari Abu Umamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna. (HR. Tirmidzi)

Ya, begitulah kebiasaan beliau. Berdiam diri di Masjid Jami’ selepas subuh, yang barangkali seringkali kita pergunakan untuk tidur kembali. Beliau beri’tikaf hingga matahari terbit, lantas langsung melaksanakan Shalat Dhuha. Sehingga kesimpulannya? Yup, benar sekali. Beliau seolah-olah telah berumroh dan berhaji berkali-kali. 

Saya cukup tercenung dan terharu mendengar kisah tersebut. Sebuah amal istiqomah yang memiliki keutamaan umroh, pada akhirnya Allah memberikan hadiah berupa umroh yang sesungguhnya. Pada akhirnya Allah membalas ketulusan mereka untuk menahan kantuknya mata selepas subuh. Pada akhirnya Allah memperlihatkan mereka akan keutamaan yang selama ini mereka raih dengan ibadahnya yang istiqomah.

Ya, di bulan ramadhan ini, terlebih di sepuluh hari terakhir ini kita bisa mendapatkan hal ini. Kita bisa berumroh dan berhaji setiap hari. Asal kita mau sedikit berlelah-lelah memaksa mata ini terbuka sembari bertilawah, berdzikir ma’tsurot, dan agar badan ini tak beranjak dari tempat bersujud di masjid. Semoga kita termasuk golonga orang-orang yang mendapatkan keutamaan ini.

Masjid Al-Mujahidin
Ceritanya lagi safari masjid di 10 hari terakhir
21.26

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *