Tulisan Ramadhan #22 : Tentang Pernikahan….

Tulisan ini adalah tulisan ke 22/30 pada Ramadhan. Semoga mampu meningkatkan produktivitas dan menjadi amal kebaikan di Bulan Ramadhan. Silahkan di share jika bermanfaat, karena kebaikan akan terasa kebermanfaatannya jika dibagikan ?

 

Sumber: http://www.esqlife.com/wp-content/uploads/2016/01/Sejarah-Islam.jpg

Sumber: http://www.esqlife.com/wp-content/uploads/2016/01/Sejarah-Islam.jpg

Ramadhan tahun ini ditengah kesibukan Tugas Akhir entah mengapa spirit yang saya rasakan sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Spirit untuk mereguk ilmu sebanyak-banyaknya dari berbagai kajian baik itu di kampus maupun di masjid-masjid di sekitar surabaya. Mulai dari shirah, hadis, tafsir, dan kajian-kajian yang lainnya yang coba saya ikuti lebih intens dan lebih banyak dari ramadhan tahun sebelumnya. Entah mungkin lelahnya jiwa yang sedang berjuang menyeleseikan tugas akhir ini seakan membutuhkan pelarian. Alhamdulillah pelarian saya bisa ke kajian walaupun terkadang mata malah terpejam ==”.

Dan sudah tentu bagi mahasiswa tingkat akhir seperti saya, pertanyaan-pertanyaan seperti judul di atas selalu bermunculan. Entah dari keluarga, teman terdekat, bahkan dari guru saya SMA dan MTs dahulu. Apalagi teman satu angkatan saya sudah ada yang menikah beberapa. Terus kamu kapan ? #Eaaa #JadiBaper #Abaikan

Ada sebuah intisari kajian Ust. Yosi Al Muzanni saat saya mengikuti dauroh bersama beliau hingga jam 12 malam. Pesertanya hanya sedikit, jadilah pada waktu itu seperti sesi curcol :v .

Pernikahan adalah sebuah ibadah yang tidak main-main. Entah mengapa banyak orang yang meremehkan persiapannya. Ada yang bilang terlalu dini jika mempelajarinya. Padahal kalau antum tahu Ustadz Salim A Fillah sudah mempelajarinya sejak beliau berumur 15 tahun, maka wajar ketika beliau umur 20 tahun sudah menikah. Bahkan panglima perang Usamah bin Zaid menikah di usianya yang begitu muda. Sekarang coba, antum buat jadi orang sukses di dunia belajar ilmu matematika dari kapan? Dari SD kan ? Sekarang coba, antum buat sukses dunia akhirat tentang pernikahan, belajar ilmu nikah dari kapan?

*Langsung JLEB JLEB JLEB*

Pernyatan Ustadz Yosi di atas seakan cukup menjadi jawaban bahwa ketika seseorang mulai posting yang galau-galau, ketika seseorang tiba-tiba suka ikut kajian pra-nikah, bukan berarti seolah menandakan wah kamu sudah ngebet ya. Atau wah ternyata kamu sudah dekat ya. Justru salah jika pola pikir yang terbentuk seperti itu. Anggaplah nikah itu adalah ibadah, berarti perlu ilmu. Sama dengan ilmu dunia, kita ketika kecil ditanya ingin misal menjadi astronot, dan kita sudah mempelajari matematika sejak kecil. Lalu apakah jika dibalik kita akan bertanya kepada anak kecil yang belajar matematika dan sedang belajar menghafal benda-benda angkasa, “Wah adik besok mau ke bulan ya?”. Wah, adik besok mau ke planet apa? Tentu saja tidak kan ? 🙂

Ada sebuah hal yang menyentak saya kembali. Ya, pernikahan barangkali adalah ibadah terpanjang seumur hidup bahkan hingga nanti mati. Kembali lagi misal dianalogikan ibadah shalat. Ya, barangkali shalat jauh lebih panjang. Ia diwajibkan ketika akil baligh, sebutlah ketika kita berusia sekitar 12 tahun hingga meninggal nanti. Sementara menikah, mungkin sekitar umur 20-25 tahun. Namun shalat, sebagaimana ibadah-ibadah yang lainnya tentu memiliki rukhsoh. Memiliki keringanan. Ketika tidak mampu berdiri maka duduk, ketika tidak mampu duduk maka berbaring, ketika berbaring tak mampu bergerak, maka cukup dengan isyarat mata.

Bagaimana dengan pernikahan? Ketika kita sudah terlanjur mengikat janji dan mengijabsahkan seseorang, maka seolah hampir tak ada keringanan. Ketika kita kekurangan uang untuk nafkah, mau tidak mau harus mencari. Ketika kita sakit, pernikahan tidak dipending atau dibatalkan, namun pernikahan pun tetap berlangsung. Tinggal bagaimana suami istri membangun kemesraan. Bahkan sampai sakaratul maut pun, kita masih ingat bagaimana saat Rasulullah dijemput untuk kembali ke pangkuan Allah, beliau tetap dalam kondisi di pangkuan istri tercintanya, Siti Aisyah. Hal itu menjadi pertanda seburuk apapun kondisi kita, maka suka tidak suka, senang tidak senang, ibadah yang bernama pernikahan tetap berlangsung. Maka siapkah kita?

Karena pernikahan tidak bicara masalah walimah saja. Masalah rumah tangga saja. Ada bagaimana kita beradab kepada kedua keluarga. Karena pernikahan bukan bermakna bersatunya dua hati, namun lebih dari itu bersatunya kedua keluarga.

Karena pernikahan sesungguhnya bukan menambah kebahagiaan. Malah menambah masalah. Bayangkan sosok laki-laki yang sebelumnya harus berbakti kepada kedua orang tuanya yang jelas-jelas telah mengasuhnya semenjak kecil, kali ini harus bertambah dengan bakti kepada istrinya. Sosok wanita yang barangkali malah baru dikenalnya. Pun demikian sosok perempuan yang sebelumnya dalam lindungan ayahnya, yang jelas-jelas terbukti bagiamana tiap tetes keringatnya dahulu ketika memperjuangkannya, kini tiba-tiba ia harus berpindah ke lelaki lain yang lagi-lagi mungkin baru dikenalnya.

Karena pernikahan bukan masalah kenikmatan belaka. Ada hal-hal yang harus diperjuangkan. Teramasuk bagaimana membangun hubungan dengan tetangga, menjadi keluarga yang bermanfaat bagi sekitarnya, mendidik anak-anak sesuai dengan tuntunanNya. Melepaskan ego masing-masing diri untuk mampu mencapai tujuan besar kehidupan rumah tangganya.

Ya pernikahan, barangkali sama halnya dengan kematian. Kita harus mempersiapkannya, sebab bisa saja sewaktu-waktu Allah menetapkan takdirNya.

Masjid Al-Mujahidin
Akhirnya bisa sampai tulisan ke-22 yey :3
22.24

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *