Tulisan Ramadhan #24 : Perceraian Terindah

Tulisan ini adalah tulisan ke 24/30 pada Ramadhan. Semoga mampu meningkatkan produktivitas dan menjadi amal kebaikan di Bulan Ramadhan. Silahkan di share jika bermanfaat, karena kebaikan akan terasa kebermanfaatannya jika dibagikan ?

Sumber:  http://1.bp.blogspot.com/-cVpvfYTSVvI/VkcigcJw7pI/AAAAAAAARZk/cwsCsykWIss/s1600/mawar%2Bmerah.jpg

Sumber: http://1.bp.blogspot.com/-cVpvfYTSVvI/VkcigcJw7pI/AAAAAAAARZk/cwsCsykWIss/s1600/mawar%2Bmerah.jpg

“Perkara halal yang dibenci Allah Ta’ala adalah thalaq (perceraian).” [HR. Abu Dawud]

Begitulah Rasulullah melukiskan tentang perceraian berabad yang lalu. Tentu kelak ketika berumah tangga, kita sangat-sangat tidak menginginkan hal ini terjadi. Kecuali mungkin perceraian karena kematian, entah suami atau istri yang meninggal duluan, yang mana hal itu merupakan Qadar atau ketetapan Allah SWT. Bahkan ada riwayat lain yang mengatakan bahwa

“Singgasana raja itu kita ketahui betapa kokohnya. Terlebih singgasana Allah, kokohnya tidak dapat terbayangkan. Jika terjadi perceraian maka singgasana Allah yang demikian hebat kokohnya itu bergetar. Hal itu dapat diilustrasikan bahwa Allah sangat membenci perceraian dan menahan amarahnya sehingga bergetarlah singgasananya. Bukankah orang yang menahan amarahnya, tubuhnya gemetar dan singgasana tempat bersemayamnya bergetar?”

Ikhwah fillah, namun ada sebuah perceraian yang begitu indah. Perceraian yang terjadi di zaman Rasulullah SAW. Ya, perceraian tersebut adalah perceraian antara Abdullah bin Abu Bakar dan Atiqah binti Zaid.

Tertulis dalam tinta emas sejarah, kedua makhluk Allah yang begitu serasi. Abdullah bin Abu Bakar, yang kemuliaannya sungguh luar biasa. Ya, beliau adalah putra dari Abu Bakar Ash-Shiddiq. Keluarga yang begitu dekat dengan Rasulullah. Beliau lah yang ketika peristiwa hijrahnya Rasululllah dari Makkah ke Madinah yang bertugas menguping pembesar-pembesar Kaum Kafir Quraisy di Makkah tentang rencana pembunuhan Rasulullah. Beliau pula yang setiap sorenya melakukan perjalanan secara sembunyi-sembunyi ke Gua Tsur untuk memberitahukan Abu Bakar dan Rasulullah tentang kondisi di Makkah. Sebab itulah, kemuliaan Abdullah bin Abu Bakar sungguh luar biasa.

Adalah Atiqah binti Zaid, sosok wanita yang dalam sejarah dikenal sebagai istri para syuhada’. Bayangkan bersuamikan empat kali dan keempat-empatnya syahid di dalam peperangan semua. Ia adalah saudara dari Said bin Zaid, salah seorang sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga. Atiqah binti Zaid bin Amar bin Nufail merupakan keturunan dari salah satu kabilah Quraisy yang baik nasabnya. Wanita ini memiliki perangai yang lembut, paras yang cantik, berakhlak mulia dan bersih hatinya.

Pada akhirnya kedua sosok tersebut menikah. Sebegitu cantiknya Atiqah binti Zaid, hingga cinta Abdullah pun melebih batas barangkali. Membuat hari-harinya seakan tak tersisa untuk lainnya. Cinta Abdullah bin Abu Bakar begitu besar kepada Atiqah binti Zaid. Hingga cinta tersebut, sebagaimana yang dikatakan Imam Ibnu Hajar, membuat Abdullah bin Abu Bakar lalai dalam perang-perangnya. Membuatnya malas untuk terjun ke medan perang.

Sampai suatu saat, ketika itu Abu Bakar Ash-Shiddiq pergi ke masjid dengan sengaja melewati Rumah Abdullah bin Abu Bakar. Dengan tujuan tentu mengajaknya bersama-sama ke Masjid. Ketika lewat di depan rumahnya, beliau dapati Abdullah bin Abu Bakar sedang bermesra dan bercanda dengan Atiqah. Akhirnya Abu Bakar batalkan niatnya, dan berpikir mungkin nanti Abdullah akan menyusul. Maka Abu Bakar pun tetap pergi ke masjid sendiri.

Sepulangnya dari masjid, betapa terkejutnya Abu Bakar Ash-Shiddiq. Saat melewati rumah Abdullah, keduanya masih bersenda gurau dalam mesra.

Jika cinta telah mulai berubah menjadi diktator dan mulai terlihat angkuh. Memaksa untuk hanya dia yang diperhatikan dan dipedulikan. Bahkan memaksa untuk melupakan berbagai kewajiban hidup. Maka ia harus ditegur.

“Abdullah, sudahkah kamu melaksanakan shalat berjamaah?”. Kemudian Abdullah pun terkejut seraya menjawab, “Belum…..”. Maka tanpa pikir panjang, Abu Bakar pun berkata, “Wahai Abdullah, Atikah telah melalaikan kamu dari kehidupan dan pandangan hidup malah dia juga telah melengahkan kamu dari shalat fardlu, ceraikanlah dia!” Allahu Akbar. Sebuah perintah dari ayahanda Abdullah, ketika Abu bakar dapati anaknya mula melalaikan hak Allah. Ketika beliau dapati Abdullah mula sibuk dengan isterinya yang cantik. Ketika beliau dapati Abdullah terpesona keindahan dunia sehingga menyebabkan semangat juangnya semakin luntur.

Dan hasilnya ? Ya, Abdullah pun menceraikan Atiqah walau dengan berat hati. Ketika cinta yang dibangun dengan tujuan mendekatkan kepada surgaNya malah membuatnya lalai, maka Abdullah pun menceraikannya. Tanpa membantah sedikit pun.

Namun barangkali kecintaan keduanya telah menggila. Hingga perceraian itu membuat Abdullah jatuh sakit. Ia bahkan tak henti-hentinya setiap hari menyenandungkan syair tentang Atiqah. Hingga suatu hari Abu Bakar mendengar Abdullah menyenandungkan syair tentang Atiqah. Beliau pun terharu dan pada akhirnya luluh. Sosok ayah bijak itu kemudian meminta Abdullah rujuk dengan Atiqah dengan satu syarat, asal jangan sekali-sekali melalaikan cinta kepada Allah.

Hingga akhirnya, belum lama pasca rujuk, berangkatlah Abdullah bin Abu Bakar ke medan perang di thaif ketika pasukan muslim mengepung Kota Thaif. Maka gugurlah Abdullah bin Abu Bakar ketika pengepungan itu.

Ikhwah fillah, hari ini kita sering mendengar pernikahan yang justru ketika dipertahankan menjauhkan kita dari Allah. Hari ini kita sering mendengar bahwa sebab perceraian karena ketidakcocokan. Sementara barangkali hanya pernikahan Abdullah dan Atiqah lah yang bercerai hanya karena Abdullah lalai dalam Shalat jamaahnya.

Abdullah sang pejuang. Tak memiliki rasa takut walau bertaruh nyawa. Tak menyerah hanya karena lelah fisik dan gelap malam. Penuh perhitungan matang. Bergerak dan bergerak. Tapi saat cinta menyapa…

Abdullah sang pecinta. Tak hanya hati yang dikuasai cinta. Akal, tangan, kaki bahkan seluruh hidupnya. Cinta membuatnya berhenti. Tak mampu bergerak. Tak terlihat pergerakan dahsyat yang dilakukannya saat malam hijrah itu. Cinta menghentikan gerak mulianya. Cinta menguasai akalnya. Cinta menguasai lisannya. Dan setiap saat hanya cinta dan cinta.

Semoga kecintaan kita kepada istri dan anak-anak kita kelak semakin mendekatkan diri kepada Allah. Semakin merekatkan tangga-tangga tinggi menuju ke surgaNya.

Selepas Shubuh
04.48

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *