Tulisan Ramadhan #25 : Detik – Detik Terakhir

Tulisan ini adalah tulisan ke 25/30 pada Ramadhan. Semoga mampu meningkatkan produktivitas dan menjadi amal kebaikan di Bulan Ramadhan. Silahkan di share jika bermanfaat, karena kebaikan akan terasa kebermanfaatannya jika dibagikan ?

Goal Graziano Pelle, Italy vs Spain Sumber : http://cdn.newsday.com/polopoly_fs/1.11973172.1467051107!/httpImage/image.jpg_gen/derivatives/display_960/image.jpg

Goal Graziano Pelle, Italy vs Spain
Sumber : http://cdn.newsday.com/polopoly_fs/1.11973172.1467051107!/httpImage/image.jpg_gen/derivatives/display_960/image.jpg

Menit ke-90 saat kedudukan masih 1-0 untuk Italia, Spanyol masih berupaya mengejar dengan terus melakukan serangan. Namun keasyikan menyerang akhirnya pertahanan Spanyol lengang. Hingga akhirnya lewat sebuah skema serangan Graziano Pelle membobol gawang David De Gea pada menit 90+1. Pupus sudah harapan Spanyol untuk mempertahankan gelar Euro sekaligus meraihnya 3x secara berturut-turut. Ya, hal itu berawal dari kelengahan sisi kiri pertahanan Spanyol di menit-menit akhir.

Begitulah sekelumit kisah Euro 2016 di mana tim jagoan saya akhirnya tunduk di tangan tim Negeri Spaghetty. Kemenangan Italia seolah menjadi pelajaran bagi kita bahwa terlepas sudah merasa unggul sejak menit ke-33, namun Italia tak mengendurkan serangan sampai menit-menit terakhir. Sampai akhirnya mereka mengubur harapan Spanyol untuk mengejar ketertinggalan dengan sebuah “gol menyakitkan” di menit-menit akhir pertandingan.

Filosofi inilah entah mengapa seolah hadir di penghujung Ramadhan. Memasuki detik-detik akhir ramadhan pun demikian inilah masa-masa akhir penentuan. Penentuan akan amal ibadah kita. Penentuan akan ketahanan kita menghadapi kantuk setiap malam-malam iktikaf. Bagi Spanyol mungkin terasa menyakitkan namun bagi Italia terasa dramatis dan sungguh bahagia luar biasa. Pun demikian di Bulan Ramadhan. Bukankan 10 hari terakhir adalah bertabur keutamaan akan pembebasan dari api neraka? Bukankah di 10 hari terakhir ada sebuah malam yang menjadi Lailatul Qadri?

Bahkan momentum lailatul qadri disebutkan sebagai momentum pilihan dari segala pilihan. Mari kita urutkan. Ramadhan adalah bulan pilihan dari ke-12 bulan selama Tahun Hijriah. Kemudian di dalam bulan pilihan tersebut, terdapat 10 hari terakhir yang keutamaannya adalah Allah SWT sedang “mengobral” voucher bebas dari api neraka. Kemudian di 10 hari terakhir terdapat lagi hari pilihan di mana jika kita beribadah di malam tersebut maka itu lebih baik dari 1000 bulan atau sekitar 83 tahun beribadah. Ya, itulah malam Qadri. Pun demikian di malam kemuliaan itu ada waktu yang dianjurkan untuk beribadah, yaitu sepertiga malam terakhir. Pilihan dari segala pilihan, bukankah sungguh Luar biasa Allah hadirkan keutamaan kepada ummat Muhammad ?

Di detik terakhir ini, mari kita mengencangkan amal ibadah kita. Agar kita mendapat keutamaan. Agar kita mendapatkan ampunan. Agar dosa-dosa kita habis terbakar. Agar nanti ketika hari raya, kita mendapat kemenangan yang sesungguhnya. Bukan kemenangan semu. Agar kita mampu membuat setan yang terbelenggu semakin tertunduk lesu, seperti sakitnya Spanyol yang terkalahkan di momentum injury time. Agar kita mampu membuat pintu-pintu surga merindu. Seperti (mungkin) piala Euro 2016 yang merindukan pemenang yang sesungguhnya. Pemenang yang tak lelah berjuang hingga detik-detik akhir.

Note To My Self
Sembari persiapan iktikaf bareng Muzammil Hasbalah
Kapan lagi bro ketemu imam muda Masya Allah ini..
14.54

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *