Tulisan Ramadhan #26: Kamu Bersama yang Kau Cintai

Tulisan ini adalah tulisan ke 26/30 pada Ramadhan. Semoga mampu meningkatkan produktivitas dan menjadi amal kebaikan di Bulan Ramadhan. Silahkan di share jika bermanfaat, karena kebaikan akan terasa kebermanfaatannya jika dibagikan ?

Sumber : http://2.bp.blogspot.com/-_zowQbiJ3B0/UNh17IR_xsI/AAAAAAAAAc4/R0PDuG_MriM/s1600/habibieainun.jpg

Sumber : http://2.bp.blogspot.com/-_zowQbiJ3B0/UNh17IR_xsI/AAAAAAAAAc4/R0PDuG_MriM/s1600/habibieainun.jpg

Seseorang itu bersama orang yang dicintainya pada hari kiamat. – Al-Hadits

Beberapa waktu yang lalu, acara mata najwa menayangkan episode Cinta Habibie. Ya, siapa sih yang tak mengenal Bapak yang barangkali telah layak menyandang predikat Guru Bangsa, Bacharuddin Jusuf Habibie. Kakek yang kini genap berusia 80 tahun, yang kecintaannya kepada Ainun dan Indonesia menjadi teladan bagi kita semua.

Saya sendiri tak sempat menontonnya dikarenakan pada waktu itu masih ada kesibukan, namun pada akhirnya memilih mencari streaming di youtube dan menontonnya di rumah.

Eyang Kakung, begitu sapaan akrabnya, pada 25 Mei 2016 yang lalu tepat berusia 80 tahun. Di usianya yang senja, semangatnya masih 17 tahun. Begitulah habit dan perangai yang ditunjukkan beliau. Masih terlihat semangatnya yang membara saat memberikan wejangan dalam acara tersebut.

Dari kesemua apa yang disampaikannya, tak jarang mengundang applause dari para penonton yang hadir. Namun setidaknya ada dua kata-kata beliau yang cukup menggetarkan hati saya saat menonton acara tersebut.

Habibie adalah pecinta yang penuh seluruh
Cintanya pada Ainun selalu sungguh
Cintanya pada Indonesia tak pernah luruh

Cinta Ainun, Cinta Illahi

“Bagi saya ada tiga cinta. Yang tadi adalah cinta sejati, jika terus konsisten dengan orang satu sampai punya keturunan. Jika orang menikah, membagi apa adanya, memberi kasih sayang sesuai dengan kemampuannya, dan hanya maut yang bisa memisahkan keduanya.

Tapi saya rasakan sekarang, Ainun hari ini, 6 tahun 29 hari berada dalam dimensi yang lain. Berarti saya tidak bisa lagi pegang dan bicara. Tapi saya mengikuti. Saya merasakan ia ada. Berarti bagi saya, tidak berlaku bahwa cinta itu hanya maut yang bisa memisahkan cinta sejati. Bagi saya berlaku maut pun tidak memisahkannya. Itu namanya cinta illahi. “

Kata-kata ini barangkali yang membuat saya pertama kali bergetar. Ya, semenjak meninggalnya Hasri Ainun Habibie sekitar tahun 2010 yang lalu, terkuaklah romantisme Habibie kepada istrinya seorang tersebut. Sosok yang sebelumnya digambarkan jenius, nasionalis, presiden RI, ternyata memiliki kecintaan yang luar biasa kepada istri, anak-anak, dan juga keluarganya.

Kecintaan itulah yang seperti yang beliau katakan, bahwa setiap jum’at beliau selalu mengunjungi makam Ainun dan menaburkan bunga di atasnya, seraya berdoa untuk Ainun. Kecintaan itulah yang membuat beliau setiap malamnya setiap harinya membacakan Surat Yasin dan Tahlil untuk Ainun, istrinya. Bahkan kecintaan itu pulalah yang membuat Bapak Habibie saat ini tidak lagi takut untuk mati jika pada akhirnya nanti dipanggil oleh Allah. Beliau berkata, sebab di Taman Makam Pahlawan Kalibata, di Kapling nomor 121, ada makam Ainun, dan di sebelahnya, di kapling 120, masih kosong. Itu nanti tempat saya dimakamkan. Dan nanti ketika beliau telah berada di dimensi yang lain, bukan hanya ibunda, dan keluarganya saja yang akan menyambut. Tapi juga Ainun, “Hei, kamu sekarang sudah di sini ya…”.

Cinta Indonesia, Cinta yang Menyeluruh

“Buat apa kamu balik ke Indonesia, kamu tidak akan berkembang. Kamu buat kapal terbang mereka nggak akan mengerti – Illona, pacar Habibie ketika di Jerman

Ya, dalam film Rudy Habibie dikisahkan salah satunya adalah kisah cinta Habibie dengan Illona, seorang wanita jerman di perkuliahannya dulu. Hingga akhirnya Ibunda Habibie datang ke Jerman untuk menemui Illona, mengatakan dua syarat. Syarat yang pertama adalah harus kembali ke Indonesia. Syarat yang kedua dikarenakan keluarga Habibie adalah pemeluk muslim yang taat, maka dia harus menjadi islam.

Hingga singkat cerita saat pulang ke Indonesia dan bertemu Ainun, teman SMA-nya dulu setelah berpisah beberapa tahun, Habibie langsung jatuh cinta kepada Ainun. Singkat cerita mereka menikah dan menjalani susahnya bersama-sama kehidupan di Jerman.

Kecintaan Habibie kepada Indonesia pula yang menghantarkannya menjadi Menteri Ristek selama 20 tahun. Bayangkan 20 tahun, semenjak 1978 – 1998 beliau berusaha mewujudkan mimpinya untuk membuat pesawat terbang yang murni buatan anak Indonesia sendiri. Pun demikian ketika menjadi presiden. Tercatat dengan masa jabatan singkat selama 2 bulan saja, beliau telah menghasilkan puluhan kebijakan dan tata aturan perundang-undangan yang baru.

Pun demikian ketika di tanya tentang pesan Habibie kepada generasi terkini. Beliau menyebut “anak cucu saya”. Ya, saking cintanya barangkali kepada Indonesia, kepada generasi-generasi mudanya, beliau berani mengatakan demikian sebab kelahiran generasi muda saat ini pun adalah berasal dari generasi Habibie. Pun demikian beliau tidak mau di anggap sebagai eksklusif, beliau ingin menjadi inklusif. Semua adalah cucu dan anak intelektual saya. Begitulah kecintaan beliau terhadap Indonesia.

Cinta Illahi yang Berawal dari Mencintai Negeri

Ada sebuah pembelajaran menarik tentang kisah cinta Habibie. Ya, barangkali sudut pandang kebanyakan orang adalah romantisme Habibie pada Ainun yang luar biasa. Namun di sini, ketika kita mencoba merenungkan dalam-dalam, bahwa tidak akan pernah ada cinta Habibie pada Ainun andai ia menuruti ego-nya untuk tidak kembali ke Indonesia. Tidak akan pernah ada cinta Habibie pada Ainun seandainya ia memilih harta dan godaan dunia lainnya. Tidak akan peranah ada cinta Habibie pada Ainun andai ia tak kembali ke Indonesia.

Kecintaan itulah yang membuat Habibie dalam sesi Mata Najwa tersebut menganggap anak-anak muda laksana cucu-cucu Intelektualnya. Ya, pada akhirnya beliau merasa membersamai kita dalam setiap langkahnya. Membersama seluruh anak-anak negeri dalam setaiap nafasnya. Sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah berabad silam, kamu akan bersama dengan yang kau cintai.

Ya, di tanah Indonesia lah mereka dipertemukan. Di tanah negeri-lah cinta mereka bersemi. Ibu pertiwi, Indonesia, seolah “menghadiahkan” Ainun sebagai bentuk nyata kecintaan Habibie kepada Indonesia. Dan hadiah Ibu Pertiwi itulah yang kini abadi menghiasi hati seorang habibie. Hadiah itulah yang melahirkan cinta yang mampu mengalahkan cinta sejati. Cinta Illahi.

Bukan untuk di-Baperi,
Mencoba lebih mencintai Negeri
14.47

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *