Tulisan Ramadhan #27 : Menari di Atas Ombak (Tribute to SapuAngin)

Tulisan ini adalah tulisan ke 27/30 pada Ramadhan. Semoga mampu meningkatkan produktivitas dan menjadi amal kebaikan di Bulan Ramadhan. Silahkan di share jika bermanfaat, karena kebaikan akan terasa kebermanfaatannya jika dibagikan ?

Suasana Kompetisi Mobil Irit

Suasana Kompetisi Mobil Irit

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah.  Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”
(At-Taubah : 41)

Hari-hari terakhir ramadhan ini, entah mengapa banyak sekali rekan-rekan saya ber-“fantasiru fil ardh”. Bertebaran di muka bumi. Ada rekan saya satu asrama pergi ke Jepang. Ada rekan perjuangan saya yang pergi ke Korea. Pun demikian rekan-rekan saya yang saya tak mengenalnya, namun masih dalam lingkungan kampus yang sama, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, sedang berjuang di luar negeri sana.

Ya, tercatat ada tiga tim kebanggaan ITS kalau tidak kurang. Yang pertama adalah tim Solarboat Jalapatih ITS, yang saat ini sedang berlomba dalam Dutch Solar Challenge di Belanda, Yang kedua adalah tim Robot Barunastra yang berlomba dalam AUVSI International RoboBoat Competition di USA, dan yang ketiga yang akhir-akhir ini banyak menghiasi pemberitaan media, Tim Mobil Irit Sapu Angin yang sedang berlomba dalam  Shell Eco Marathon Challenge Divers World Championship (DWC) di London.

Ujian bernama Kebakaran

Mobil Sapu Angin yang Terbakar, Sumber : Official Line@ Team Sapu Angin

Mobil Sapu Angin yang Terbakar, Sumber : Official Line@ Team Sapu Angin

Sekitar seminggu yang lalu media sempat heboh. Pun demikian dengan jagat bumi ITS. Mobil sapu angin terbakar di dalam dek kontainer yang mengirim ke London. Namun perjuangan mereka tak pupus sampai di situ saja. Dengan perlengkapan dan peralatan seadanya, mereka berupaya merekonstruksi ulang dan membangun kembali mobil dari sisa-sisa barang yang ada. Sempat dilarang oleh panitia membongkar peti kemas dikarenakan alasan investigasi, namun melihat semangat juang dan kenekatan arek-arek suroboyo ini akhirnya panitia luluh dan mempersilahkan.

Gila ! Satu kata yang muncul. Mobil yang membutuhkan waktu sekitar 6 bulan untuk menyusunnya pada akhirnya mereka selesaikan dalam dua hari saja. Hasilnya ? Mobil pun lolos melakukan uji inspeksi. Terpasang dua stiker sebagai tanda mobil lolos uji inspeksi.

Hingga pada saat kualifikasi, saat uji coba, mobil mampu melesat dengan penghematan 183 km/liter. Masih belum mencapai 90% record catatannya  saat dulu menjadi juara Asia-Pasific, yaitu 90% × 249.8 km/l = 225 km/l. Namun hal setidaknya membuka asa.

Pada akhirnya sebelum dicoba untuk tahap akhir, tentu setelah dilakukan pembenahan mesin, malah muncul vonis dari panitia untuk melarang ITS ikut serta. Dengan alasan masalah keamanan, karena sebagian besar mesin mengalami panas saat terbakar di kontainer, sehingga dikhawatirkan ketika mengikuti balapan, mobil akan mengalami breakdown dan mencelakai pengendara yang lain. Yah pada akhirnya pupus sudah perjuangan mahasiswa ITS ini walaupun perjuangan mencari kebenaran terkait alasan panitia ini tidak berhenti begitu saja.

Menari di atas Ombak : Tribute to Sapu Angin

Tim Sapu Angin ITS Sumber : Official Line@ Team Sapu Angin

Tim Sapu Angin ITS
Sumber : Official Line@ Team Sapu Angin

Ombak itu bernama ketidakpastian. Sebagaimana ombak yang menerpa tim sapu angin di kala mobil yang seyogianya mereka sudah persiapkan berbulan-bulan, dari pagi, siang, malam, hingga membuat tidur terkurangi justru terbakar di saat mereka bersiap berselancar di atasnya.

Namun barangkali itulah semangat kepahlawanan ITS yang telah ditanamkan. Bukannya menyerah, namun mereka tetap berselancar di atasnya. Seorang peselancar tentu sudah tahu resiko saat berselancar di atas ombak. Tanpa pengaman, tanpa berbekal pelampung atau tabung oksigen. Hanya berbekal papan kecil dan semangat keberanian. Bukan hanya berselancar, namun tim sapu angin bahkan menari di atas keterbatasannya. Menembus batas 19 jam puasa di tanah inggris.

Barangkali inilah jalan cinta para pejuang yang terlahir dari kerasnya didikan kampus pahlawan. Para pejuang itu akan selalu menemukan alasan dan jawaban untuk berjuang. Yang membuat jiwa mereka menari di atas ombak, sekalipun jasad dan fisik telah melemah. Di tengah payahnya berpuasa 19 jam.

Begitupun sirah islam mencatat  ‘Amr ibn Al Jamuh, seorang lelaki pincang dari Bani An Najjar pernah diminta berisitirahat kala hari peperangan Uhud tiba. “Dengan kaki pincangku inilah”, katanya, “Aku akan melangkah ke surga!” Jiwanya menari di atas batas, dan Sang Nabi di hari Uhud bersaksi, “Ia kini telah berada di antara para bidadari, dengan kaki yang utuh tak pincang lagi!”. Maka dengan nikmat Allah yang begitu besar atas jiwa dan raga ini, apa yang harus kita katakan pada ‘Amr ibn Al Jamuh, Ahmad Yassin, dan orang-orang semisal mereka saat kita disaput diam dan santai?

Demikian pula kita harus mengingat sosok Abu Ayyub Al Anshari yang di usia 80 tahunnya bergegas-gegas ke Konstantinopel, menjadikan pedangnya sebagai tongkat penyangga tubuh sepanjang jalan. “‘Udzur untukmu”, ujar kita. Katanya, “Tak tahukah engkau Nak, bahwa ‘udzur telah dihapus dengan firmanNya: Berangkatlah dalam keadaan ringan maupun berat!’?”

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah.  Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”
(At-Taubah : 41)

Di jalan cinta para pahlawan, hari itu tim SapuAngin membuktikan bahwa ombak sebesar apapun tak menyurutkan langkah mereka untuk tetap menari di atas keterbatasannya. Membuat lawan-lawan merasa gerah. Membuat panitia salah tingkah. Membuat dunia terperangah. Membuat Indonesia makin terlihat gagah. Sekalipun pada akhirnya ombak itu menelan para penari sapu angin mentah-mentah, namun semerbak semangat juang mereka terlanjur merekah. Menebarkan inspirasi perjuangan yang tak kenal lelah. Hingga layak tersebut bagi mereka juara yang sesungguhnya tersebab mental pantang menyerah.

Tribute to Tim SapuAngin ITS
Kalian tetap juarane CUK !
10.18

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *