Tulisan Ramadhan #29: Senyum yang Dinantikan

Tulisan ini adalah tulisan ke 29/30 pada Ramadhan. Semoga mampu meningkatkan produktivitas dan menjadi amal kebaikan di Bulan Ramadhan. Silahkan di share jika bermanfaat, karena kebaikan akan terasa kebermanfaatannya jika dibagikan ?

berbagi-buka

Sumber : https://1.bp.blogspot.com/-_0EnzPB1K_w/V145Y_NVwlI/AAAAAAAAB3E/2WJHO6MKCtEANE0MmQAbEfuDyJIMJjFDwCLcB/s1600/berbagi%2Bbuka.jpg

Ada banyak wajah-wajah yang bermuram durja ketika ramadhan. Wajah saudara-saudara kita sendiri. Wajah yang sebenarnya telah lelah menjalani kerasnya kehidupan. Wajah yang setiap hari seringkali terpanggang sinar matahari. Wajah yang seharusnya mereka tidak berada di tempat yang bertabur kekerasan, tindakan amoral, atau tindakan buruk lainnya.

Ada banyak pula tangan-tangan yang menengadah. Mereka bukan tak mengenal sabda Nabi Muhammad. Tangan yang di atas jauh lebih baik daripada tangan yang dibawah. Namun keadaan yang barangkali memaksa mereka melakukannya. Entah karena tak tersantuni, tak punya keterampilan mumpuni, atau jangan – jangan tak mau berusaha lebih keras lagi. Namun cukuplah menjad bukti jika masih banyak tugas para pemimpin negeri ini.

Ya, mereka adalah kaum fakir miskin yang begitu ingin mendapatkan bantuan. Mereka adalah wajah-wajah di pinggir jalanan yang seringkali kita melihat begitu berbahagia berlarian bersama teman-temanya. Mengamen dari satu mobil ke mobil lainnya. Namun jika kau melihat bibirnya, senyum mereka adalah senyum kepedihan. Senyum yang mengharapkan mereka bisa hidup selayaknya kita.

Anak-anak jalanan itu tentu ingin bisa seperti kita. Menjalani Ramadhan dengan suka cita. Menghabiskan malam-malamnya dengan Qiyamu Lail kepada Allah. Menghadirkan tadarrus di siang-siang yang panas di pelataran masjid yang sejuk. Bermain bersama teman-temannya sembari menunggu waktu buka. Mendengakan ta’lim ba’da subuh untuk me-recharge diri. Namun entah mengapa semua hanyalah impian. Tuntutan untuk mengais penghidupan jauh lebih tinggi dibandingkan itu semua. Maka jangan heran di siang-siang bolong mereka rela berpanas-panas untuk mengais rezekiNya. Jangan heran jika mereka tidak berpuasa karena lingkungannya yang buruk. Jangan heran ketika malam-malam mereka penuh dengan siksa para pemalak dan bos-bos keji yang mempekerjakan mereka.

Maka wujudkanlah syukur kita kepadaNya dengan memberikan sedikit dari yang kita punya. Mungkin bagi mereka penolakan adalah hal yang sudah biasa. Namun tahukah kamu, ketika kamu memasukkan selembar seribuan saja ke kantung-kantung mereka, ada senyuman paling tulus dari mereka. Kamu mungkin tidak tahu bisa saja mereka mendoakanmu. Dan se-mustajabah-mustajabahnya salah satunya adalah doa dari mereka yang teraniaya.

Imam Al-Ghazali bisa masuk surga hanya karena menolong seekor lalat yang nyaris mati. Bisa saja kamu masuk surga hanya karena selembar seribu yang kau berikan kepada mereka dengan penuh ketulusan dan keikhlasan.

Maka marilah jadikan hari-hari akhir ramadhan ini sebagai ladang kita untuk berbagi. Konsepsi matematika ketuhanan adalah semakin banyak memberi semakin banyak rezeki, semakin banyak kembali. Bukan seperti matematika bisnis yang mengajarkan bahwa harta akan berkurang. Apalagi konsepsi tersebut diterapkan di sebuah bulan suci, Bulan Ramadhan. Di mana pahala dan amal ibadah dilipatgandakan.

Insya Allah puasamu akan semakin bermakna, ketika kau setiap hari melihat senyuman mereka yang membutuhkan. Senyum yang penuh ketulusan. Senyum yang senantiasa mendoakan.

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *