Tulisan Ramadhan #30: Kemenangan yang Sesungguhnya

Tulisan ini adalah tulisan ke 30/30 pada Ramadhan sekaligus menjadi tulisan penutup saya di Bulan Ramadhan ini. Terima kasih kepada para pembaca sekalian yang telah membaca, terima kasih pula yang telah membagikan. Semoga kebermanfaatan ini dapat berlanjut juga pasca Ramadhan. Tulisan-tulisan saya yang sebelumnya terkait bulan Ramadhan bisa diakses di sini

articlesplus_016

Sumber : http://2.bp.blogspot.com/-9JexvaGoiY/TmJjbekzJII/AAAAAAAAAIY/aXfR70t-GMQ/s320/articlesplus_016.jpg

“Laisal ‘iid, liman labisal jadiid. Balil ‘iid, liman tho’atuhu waziid.” Tidak disebut hari raya orang yang berpakaian baru. Tapi yang disebut hari raya adalah ketaatannya kepada Allah bertambah

“Laisal ‘iid, liman rokibal jadiid. Balil ‘iid, liman ghofaro dlunuub.” Tidak disebut hari raya orang yang berkendaraan baru. Tapi yang disebut hari raya adalah dosa-dosanya diampuni oleh Allah.

Tanpa terasa Bulan Ramadhan 1437 H berlalu. Ada sebuah kebahagiaan karena kita telah melaluinya. Namun barangkali kesedihan tersebab bulan kemuliaan itu meninggalkan kita. Bulan yang merupakan bulan terpilih dari 11 bulan lainnya. Bulan yang sebenarnya merupakan tempat latihan bagi kita. Tempat latihan dengan berjuta fasilitas tak terhingga. Dari lingkungan yang ditawarkan adalah kondusivitas untuk beribadah, setan yang dibelenggu, ditambah amal ibadah yang dilipatgandakan.

Hari ini barangkali kita boleh berbangga dan menyambut hari kemenangan. Namun benarkah kita telah meraih kemenangan yang sesungguhnya? Benarkah kita layak disebut sebagai pemenang? Benarkah dengan kualitas ibadah kita selama ramadhan kita layak berbahagia di hari raya ini? Hal itu seakan menjadi refleksi akan kemenangan yang katanya digaung-gaungkan saat lebaran. Benarkah kita para pemenang?

Sebab kemenangan bukan bicara masalah ibadah yang dijalani selama ramadahan. Ia juga bicara tentang keikhlasan kita dalam menjalani. Ia juga bicara tentang niat kita dalam menjalani. Kemenangan tidak hanya bicara ketika sebulan kita telah berusaha sebanyak mungkin mereguk keutamaan ibadah. Bukan! Tentu saja bukan. Itu hanyalah kemenangan kecil. Kemenangan yang barangkali tak berarti apa-apa. Kemenangan yang barangkali hanya euforia sesaat saja.

Sebab itulah, pasca ramadahan inilah adalah ladang untuk meraih kemenangan sejati. Bagaimana agar puasa kita tetap dilanjutkan mungkin dengan senin kamis ataupun Daud. Bagaimana agar tilawah tetap kita lantunkan. Bagaimana agar shalat 5 waktu tetap berjamaah di masjid. Walaupun pada kenyataannya seakan semua kembali seperti sedia kala. Ketika shaf shubuh hanya menyisakan satu shaf, ketika gema tilawah sudah tak seramai di ramadhan, dan ketika seakan kejahatan kembali merajalela pasca ramadhan.

Maka ikhwah fillah, kemenangan yang sesungguhnya baru akan kita raih, ketika kita mampu membawa nuansa ramadhan di waktu pasca ramadhan. Kemenangan sesungguhnya baru kita raih, ketika kualitas ibadah dan pribadi kita meningkat menjadi lebih baik. Kemenangan sesungguhnya adalah berawal besok. Ketika medan tempur 11 bulan selanjutnya telah tiba. Akankah kita mampu melakoninya?

Ditengah riuh takbir yang mengema
20.08

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *