Perubahan Terus Berubah, Namun Bisakah Mengubah?

Perubahan

Sumber: http://kelase.com/planet/wp-content/uploads/2015/01/change-510×340.jpg

“Awal” memang selalu rumit. Seperti kata Newton bahwa berubah itu tak pernah mudah. Manusia sejatinya benci perubahan dan menikmati nyamannya kelambanan. Dan salah satu bentuk perubahan yang paling rumit adalah melibatkan perpindahan tempat tinggal, hingga manusia yang paling mulia sekalipun berdoa ketika berhijrah, “Ya Allah, jadikan kami mencintai Madinah, seperti kami mencintai Makkah atau lebih”

– Ahmad Ataka, dalam buku Inspirasi dari Tanah Eropa

Mengubah status dari mahasiswa menjadi sarjana memang tak semudah menyetorkan KTM untuk mendapat ijazah. Demikian pula dahulu ketika kita mengubah status dari bayi menjadi balita. Kita harus berkali-kali terjatuh kala berlatih berjalan. Dari SD – SMP – SMA, mengubahnya membutuhkan perjuangan dalam belajar, pun demikian kala memperjuangkan mendapatkan status mahasiswa, kita bukan hanya mengubah diri, namun juga bersaing dengan generasi yang menginginkan perubahan dirinya.

Pun demikian pada akhirnya saya merasakan hal yang sama sekarang. Merasakan perubahan yang cukup luar biasa pasca kampus ketika dihadapkan dengan banyak pilihan. Melepas status mahasiswa seperti berat rasanya mengingat banyak sekali memorial perjuangan yang pernah diukir bersamanya. Benar kata sebagian besar orang, bahwa “mahasiswa” jauh lebih banyak meninggalkan kenangan dibandingkan dengan “siswa” yang padahal kita mengalaminya setidaknya 9 tahun. Sementara mahasiswa strata satu hanya 4 tahun bahkan ada yang kurang dari itu dan semasimal-maksimalnya 7 tahun.

Perubahan terbesar barangkali adalah status “pengangguran terdidik” yang akhirnya melekat dan identik dengan para fresh graduate. Jika kita amati bahwa sesungguhnya dalam setiap momentum perubahan selalu ada kompetisi. Siklus itu berulang terus sejak kita pertama kali berwujud cairan sperma untuk menembus sel telur, hingga kini kita berkompetisi kembali untuk mendapatkan posisi di dunia pekerjaan.

Berkompetisi dengan Para Pemenang

Semakin tinggi derajat seseorang tentu aroma kompetisinya semakin susah. Bayangkan saja, kita sudah sampai sejauh ini berarti kita sudah berkali-kali menjadi pemenang dari para pemenang. Kita terlahir buah dari sperma pemenang di dunia ini. Lantas saat masuk taman kanak-kanak beberapa tempat menggunakan sistem seleksi dan lagi-lagi kita menang. Saat masuk Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Atas, sampai kuliah pun kita berkompetisi dengan para pemenang. Dan kini ketika kita lulus kita kembali lagi dihadapkan dengan kompetisi para pemenang yang telah meraih kemenangan yang sama bersama kita di etape-etape sebelumnya.

Pun demikian ketika nantinya diterima bekerja di tempat kerja, kita tetap dihadapkan dengan kompetisi itu sendiri. Sebagaimanapun team work yang tetap dibangun antar rekan kerja, tentu tetap ada yang namanya atmosfer kompetisi. Pasca kenaikan pangkat pun, kita juga kembali berlomba dengan kawan-kawan yang setara di posisi kita. Mereka juga para pemenang. Bahkan hingga pucuk perusahaan pun ketika kita menempati jabatan CEO, kita juga tetap berkompetisi, bedanya dengan skala yang lebih besar, dan dengan para pemenang kelas-kelas kakap alias perusahaan-perusahaan yang lain.

Ketika kita telah berada di puncak mengalahkan mereka, kita pun juga berkompetisi. Kali ini dengan diri kita sendiri. Sebagaimana judul yang saya tuliskan di atas bahwa perubahan itu sejatinya adalah perubahan itu sendiri yang terus berubah. Zaman yang terus berubah tidak lantas membuat posisi puncak dalam kompetisi yang juga terus berubah aman dalam genggaman. Selalu ada perubahan yang harus dilakukan agar tetap bertahan. Bukan bertahan mohon maaf, tapi agar tetap berkembang.

Dan berkompetisi dengan diri sendiri seringkali justru menjadi titik balik yang malah menjatuhkan. Bayangkan kita harus berkompetisi dengan jiwa yang sudah menjadi pemenang dari sekian para pemenang. Kita harus mengalahkan diri sendiri yang sebenarnya telah menang. Dia bukan “para pemenang” tapi dia sudah mengalahkan “para pemenang”. Jadi sanggupkah kita berkompetisi dengan diri sendiri yang sesungguhnya sudah menjatuhkan para pemenang sebelumnya?

Perubahan yang Mampu Mengubah

Adanya perubahan seringkali membuat kita terus berubah. Demikian pula pasca perubahan status menjadi pengangguran terdidik ini, otomatis kita akan terseret dengan sendirinya suka tidak suka dengan perubahan tersebut. Namun pertanyaannya sekarang mampukah kita menjadi generasi pengubah? Nyatanya seringkali perubahan itu membuat kita berubah, namun tidak mampu mengubah.

Dalam artian kita hanya terseret oleh perubahan itu, dan kita berubah karena perubahan itu. Jika itu memang baik tentu akan menjadi lebih baik lagi ketika kita mampu mengubah. Perubahan yang menjadi dorongan eksternal, ditambah “mengubah” yang diperoleh dari kekuatan internal. Contoh simpelnya kita tidak hanya terseret untuk berubah menjadi lebih baik, tapi kita harus menyeret orang lain untuk menjadi lebih baik. Kita tidak hanya terpengaruh oleh perubahan yang ada, tapi bisa mempengaruhi orang lain dengan perubahan yang ada. That’s the point !

Terakhir, bahwa menjadi generasi yang terseret perubahan memang mudah. Menjadi generasi yang mengubah mungkin sedikit lebih susah. Namun menjadi generasi yang terseret perubahan sembari bersusah payah tetap mengubah seringkali membuat payah.

Kalau Prof. Rhenald Kasali mengatakan bahwa para pemenang adalah mereka yang resisten dan mampu bertahan dengan perubahan, maka sesungguhnya mereka kalah dengan yang mampu mengubah perubahan itu sendiri. Jadi pilihannya sekedar bertahan dalam perubahan, atau mengubah perubahan itu sendiri? 

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *