Hijrah dan Cinta Rasulullah pada Makkah

Sumber: http://1.bp.blogspot.com/-_6MIq8fW1bE/VbN9j-TIR7I/AAAAAAAAIIw/1uh1kMcC9_U/w1200-h630-p-nu/10%2BFacts%2Babout%2Bthe%2BHijrah%2Bof%2BProphet%2BMuhammad%2B%2528PBUH%2529.jpg

Sumber: http://1.bp.blogspot.com/-_6MIq8fW1bE/VbN9j-TIR7I/AAAAAAAAIIw/1uh1kMcC9_U/w1200-h630-p-nu/10%2BFacts%2Babout%2Bthe%2BHijrah%2Bof%2BProphet%2BMuhammad%2B%2528PBUH%2529.jpg

“Wahai Allah, jadikan kami mencintai Madinah, seperti kami mencintai Makkah atau lebih dari mencintai Makkah.” ( HR. Bukhari )

Adalah air mata Rasulullah yang mengiringi doa tersebut. Beliau mencintai Makkah. Terlahir di Makkah dan menghabiskan masa kecil di Makkah serta melewati masa remajanya dengan berdagang di Makkah, maka pantaslah ketika doa tersebut keluar dari lisan Rasulullah.

Dalam perjalanannya beliau sempat singgah ke Gua Tsur. Terletak di selatan Kota Makkah. Sedangkan Madinah justru terletak di utara Makkah. Dan langkah ini diambil untuk mengelabui kaum Kafir Quraisy yang pada waktu itu mencoba mengejar untuk membuhunya. Selepas 3 hari di Gua Tsur, manakala beliau akan berangkat, beliau kembali menatap Makkah dari kejauhan. Dengan berlinang air mata, beliau bersabda,

“Demi Allah, engkaulah bagian bumi Allah yang paling baik dan paling aku cintai. Andai kata tidak diusir, aku tak akan meninggalkanmu, wahai Makkah.”

Dari latar belakang keluarga beliau merupakan keturunan Bani Hasyim, kakeknya Abdul Muntholib dan pamannya Abu Thalib merupakan sosok yang begitu disegani di Makkah. Sifatnya yang cerdas, dan amanah membuat Beliau mendapatkan julukan Al-Amin, bahkan sebelum kerasulannya. Bahkan pada akhirnya sosok Khadijah, saudagar cantik nan kaya pun terpikat oleh kebaikan dan ketekunan beliau. Lantas dengan segala kemuliaan yang beliau miliki di tengah penduduk Makkah, layakkah ketika pada akhirnya beliau terusir dari tanah kelahirannya sendiri?

Maka wajarlah jika Rasulullah begitu bersedih. Namun kecintan beliau pada islam dan dakwahlah yang membuat beliau kuat untuk melangkah. Dan di sini terdapat beberapa ibrah yang dapat kita ambil dari hijrahnya beliau.

1. Pergi untuk Kembali

Sebagaimana yang kita tahu bahwa penindasan kaum Kafir Quraisy yang semakin menjadi-jadi di Makkah itulah yang menyebabkan seolah Rasulullah dan Umat Islam terusir dari tanah mereka sendiri. Yang perlu dipahami bahwa hijrahnya Rasulullah bersama umat islam pada waktu itu bukan semata untuk kabur, namun menenangkan diri, serta menyusun kekuatan. Di sinilah ibrah yang kita ambil. Jangan sampai kita lari dari masalah. Kita boleh pergi. Tapi hanya sementara. Ketika segalanya telah cukup, maka sudah waktunya kita kembali. Dan Rasulullah beserta umat islam pun pada akhirnya kembali melalui peristiwa Fathu Makkah. Sebagaimana sosok yang mencintai tanah kelahirannya, maka umat islam kembali tanpa menumpahkan darah sedikit pun!

2. Hijrah 100%

Memaknai hijrah jika hanya sekedar berpindahnya tempat tentu sangat sempit. Hijrah bermakna sangat luas. Tidak hanya raga, namun juga jiwa yang berpindah. Dan para sahabat memahami itu semua bahwa pemaknaan hijrah yang paling penting adalah jiwa dan raga. Tidak semua hal dapat dihijrahkan. Sebagaimana kisah Shuhaib Ar-Rumi yang menyerahkan semua hartanya kepada Kaum Kafir Quraisy agar dapat berhijrah. Dan harta pun tidak menghalangi kecintaan Shuhaib kepada Islam. Dalam riwayat yang lain pun dikatakan bahwa Shuhaib membawa beberapa persenjataan dan ketika dihadang beliau bisa saja melakukan perlawanan. Namun beliau memilih langkah yang tak menghasilkan masalah. Ia serahkan rumah dan seluruh hartanya di Makkah kepada kaum Kafir Quraisy selama ia bisa bebas ke Madinah.

3. Kepindahan Menguatkan Persaudaraan

Karena kecintaan pada hal yang sama, pada akhirnya akan membuat raga yang awalnya terpisah menjadi sedekat hati yang sebenarnya telah bersatu. Ibarat kaum Muhajirin dan Anshar, keduanya tidak pernah mengetahui dan kenal dengan baik satu sama lain. Hanya karena cinta kepada Allah, cinta kepada Rasulullah, maka mereka pun menjadi rela satu sama lain. Sebagaimana kisah  Abdurrahmân bin ‘Auf yang dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’ Sa’ad ra. berkata kepada ‘Abdurrahmân bin Auf, “Aku adalah kaum Anshâr yang paling banyak harta. Aku akan membagi hartaku setengah untukmu. Pilihlah di antara istriku yang kau inginkan, (dan) aku akan menceraikannya untukmu. Jika selesai masa ‘iddahnya, engkau bisa menikahinya”. Dan Abdurrahman pun menolak itu semua dan meminta disediakan tempat berdagang di pasar.

Bayangkan saja, keduanya baru mengenal, keduanya baru berpapasan, namun ketika tali persaudaraan telah mengikat, bahkan kecintaan Sa’ad ra. kepada saudaranya mampu mengalahkan kecintaannya kepada istri dan harta-hartanya. Bukankah itu semua berawal dari kecintaan kedua orang tersebut kepada hal yang sama?

Begitu besarnya cinta Rasulullah pada Makkah, namun kecintaan beliau terhadap islam dan dakwah lah yang mampu membuatnya berhijrah. Hingga pada akhirnya beliau pun malah diwafatkan Allah di Madinah. Hal itu bukan berarti memupus kecintaan beliau kepada Makkah. Namun kita bisa memaknainya dengan kembali kepada pemaknaan hijrah. Bahwa hijrah adalah berpindah menuju ke tempat yang lebih baik. Dan barangkali Allah menjadikan madinah sebagai tempat sumber kebaikan dan kejayaan islam bermula. Barangkali itu menjadi jawaban dari doa Rasulullah, bahwa agar mencintai Madinah seperti mencintai Makkah. Rasulullah telah dilahirkan di Makkah, maka Allah wafatkan di Madinah, sebab barangkali agar cinta keduanya sejajar.

Notes : Semoga di Tahun Baru Hijrah ini menjadi momentum kita untuk senantiasa berbenah menjadi lebih baik lagi. Menjadi pelajaran bagi kita bahwa sebaik-baik hijrah meninggalkan apa-apa yang kita cintai demi menuju cinta yang sejati, cinta yang abadi. Bukan lain adalah Cinta kepada Illahi Rabbi

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *