Berjarak untuk Melesat

Sumber: http://kralspor.ensonhaber.com/resimler/kok/2016/03/26/tiki-taka_3528.jpg

Sumber: http://kralspor.ensonhaber.com/resimler/kok/2016/03/26/tiki-taka_3528.jpg

Gagasan ini entah mengapa terpikir di kosan pasca perjalanan saya dari Surabaya untuk berburu buku di Big Bad Wolf Books, Jatim International Expo. Manusia seringkali mempersempit jarak untuk melesat padahal sebenarnya tak selalu dengan sempitnya jarak kita bisa melompat ke tahap atau level yang lebih tinggi lagi. Bingung ya ? Sama -____- haha.

Jadi simpelnya begini teman-teman. Karena saya fans berat klub sepak bola barcelona, maka saya ambil contoh ini dari filosofi bermain barcelona. Filosofi tiki taka Barcelona sempat membuat geger dunia manakala di tahun 2009 memborong 6 gelar dari 6 kompetisi yang diikutinya sekaligus menjadi satu-satunya tim hingga kini yang menjuarai semua kompetisi yang diikutinya dalam satu musim. Pada waktu itu Barcelona dibesut Pep Guardiola yang dikenal sebagai anak bawang lantaran hanya menyandang status mantan pelatih tim Barcelona B yang dipromosikan ke tim senior. Namun ia ternyata mampu memutarbalikkan fakta itu.

Sumber: http://media3.fcbarcelona.com/media/asset_publics/resources/000/001/823/size_640x360/FCBarcelona_3_.v1312809372.jpg

Sumber: http://media3.fcbarcelona.com/media/asset_publics/resources/000/001/823/size_640x360/FCBarcelona_3_.v1312809372.jpg

Filosofi bermain tiki taka sungguh menarik dan memantik kesabaran. Menguasai bola selama-lamanya, mengandalkan passing-passing pendek, akurasi, ketepatan dan kecepatan menjadikan lini belakang tim lawan selalu keteteran bahkan madrid pun tumbang 6-2 di Santiago Barnebau. Dan filosofi jarak, diterapkan oleh barcelona dalam permainan ini.

Saat menguasai permainan di setengah lapangan, pemain barca menyebar seluas-luasnya ke semua sisi. Memperlebar jarak untuk membuat pemain lawan melebar. Gaya permainan barca yang mengandalkan tumpuan lini tengah, sehingga sisi sayap pun minim dieksplor. Skema 4-3-3 yang diusung menempatkan dua striker sebagai second sekaligus penopang center forward, bukan berfungsi sebagai wing forward. Ketiganya ditumpu gelandang serang, center midfielder, dan gelandang bertahan. Suatu hal yang unik ketika mengandalkan permainan tengah, namun justru pemain barca memperlebar jarak. Di sinilah, yang membuat pemain lawan akan menyebar, mengantisipasi serangan yang datangnya bisa dari mana saja.

Saat mendekat ke kotak penalti, alih-alih mencari ruang yang luas di kedua sisi sayap, justru pemain barca mempersempit jarak. Mengandalkan positioning, short pass, dan kecepatan, pemain barcelona melakukan passing-passing pendek dan pergerakan ke semua sisi. Tak cukup 6 pemain depan dan tengah, bahkan dua wing back pun ikut maju ke depan, dan tak jarang center back pun ikut ke depan menyisakan hanya seorang kiper di belakang. Jarak yang sempit semestinya menjadikan permainan tak fleksibel bukan? Namun semua teratasi dengan kecepatan, positioning, di tambah akurasi umpan. Akurasi dan otak cemerlang Xavi, ditambah determinasi Iniesta, dan pergerakan messi, eto’o, pedro yang bisa muncul dari mana saja, ditambah alves dan abidal di sisi kanan dan kiri, bahkan terkadang puyol dan pique pun bisa menjelma menjadi striker, membuat pemain lawan selalu kebingungan ke mana bola akan mengarah. Satu poin pelajaran, sempitnya jarak tak menjadi masalah ketika banyak pilihan yang mendukung, disertai dengan timing yang tepat.

Sumber: http://2.bp.blogspot.com/-0-_QvzACkdA/UkfXgadGTWI/AAAAAAAABfU/nFbN20D7a0g/s1600/lonely.jpg

Sumber: http://2.bp.blogspot.com/-0-_QvzACkdA/UkfXgadGTWI/AAAAAAAABfU/nFbN20D7a0g/s1600/lonely.jpg

So, bagaimana jika ini dikaitkan dengan kehidupan nyata? Anggaplah gawang lawan itu adalah impian dari kita. Memang jauh lebih mudah memasukkan bola ke dalamnya jika kita memperkecil jarak terhadap gawang. Peluangnya jelas lebih besar. Eitt tunggu dulu, semakin dekat dengan gawang, semakin banyak pemain belakang yang menumpuk. Jadi logikanya, sama saja. Sama-sama susahnya.

Terus hubungannya mana nih dengan filosofi tiki taka? Ya, terkadang kita dalam menggapai impian tak harus dengan mendekat. Kita bisa melakukannya dari jauh, sembari memancing nya agar mendekat. Jarak yang jauh tak menjamin akan lebih mudah. Begitu pun jarak yang dekat, tak menjamin berbuah keberhasilan. Yang perlu kita lakukan adalah memaksimalkan peluang yang ada. Se-fleksibel mungkin. Jika kita masih berjarak jauh dengan tujuan kita, bukan berarti kita akan mengalami kesulitan. Tentu dibutuhkan kesabaran yang tinggi, konsentrasi, dan daya ledak yang tinggi. Jika kita sudah dekat dengan tujuan kita, yang terjadi adalah malah konsentrasi telah hilang dan tak fokus karena semakin banyak godaan. Maka di sini dibutuhkan ketepatan waktu dan kecepatan pengambilan keputusan. Apakah melakukan atau masih mengotak-atik kesempatan. Jadi jarak, bukanlah masalah selama kita mampu memaksimalkan potensi yang kita miliki. Yang berjarak jauh bisa saja ia akan melesat lebih dahulu daripada yang berjarak dekat. Jadi jangan remehkan mereka yang masih jauh, bisa saja ia memiliki daya lontar yang jauh lebih luar biasa.

Dan tujuan itu, tak selamanya tentang dunia. Bisa tentang akhirat dan kenikmatan surgaNya. Juga bisa kau ganti kata tujuan dengan “calon jodoh”.

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *