Yang Mudah itu Ilmu, Yang Susah itu Tawadhu’

Tawadhu

“Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.” – Ibnu Mubarok

Lagi-lagi entah ingin curhat. Seolah ini menjadi pengingat sendiri. Beberapa hari ini karena suatu hal, saya menjadi terpikir tentang diri saya sendiri. Tentang apa-apa yang telah saya lakukan kepada guru-guru saya sebelumnya, tentang segala tindakan yang pernah saya lakukan terhadap para mursyid dan para ustadz yang telah berjasa membuat saya seperti ini.

Saya menjadi ingat pengalaman pribadi saya saat di sekolah dahulu. Pernah suatu ketika saat pelajaran matematika. Saya ingat betul pada waktu itu tentang Persamaan Linier Satu Variabel. Jujur pada waktu itu guru saya mengajarnya tidak enak. Saya mengeluh dalam hati. Saat beliau sudah keluar dari kelas, ternyata teman-teman merasakan hal yang sama. Lantas kita sama-sama “ngerasani” atau bahasa Indonesia membicarakan beliau.

Hingga pada suatu hari beliau berbuat kesalahan dalam perhitungan di papan. Merasa benar, saya mengangkat tangan dan bahkan sebelum beliau suruh saya maju ke depan langsung menjelaskan kepada beliau. *Betapa kurang ajarnya saya T_T*. Singkat cerita ternyata beliau salah, dan meminta maaf kepada kami. Saya kembali ke tempat duduk bukan dengan perasaan bersalah, namun justru merasa senang. Sementara teman-teman malah bertepuk tangan :'( .

Mengingat itu semua barangkali saya membayangkan betapa teririsnya perasaan guru saya pada waktu itu. Bagaimana mungkin wibawanya telah saya jatuhkan sendiri di depan murid-muridnya. Untungya pasca itu saya tak pernah melakukan hal yang sama seperti itu lagi pasca menceritakan di rumah kepada ayah saya. Beliau spontan langsung memarahi saya, mengingatkan akan adab-adab seorang penuntut ilmu. Dan saya pada waktu itu menangis. Betapa sombongnya saya bahkan bukan saja kepada guru saya, tapi kepada Allah, sang Maha Pemilik Segala Ilmu.

Selepas itu apakah adab saya sendiri menjadi lebih baik? Ternyata tetap saja tidak. Ah, barangkali ini juga menimpa kita semua. Kita sering membicarakan dosen dan segala kekurangannya. Yang mengajarnya tidak enak, yang bikin ngantuk, yang nggak jelas, yang senang justru ketika beliau tidak hadir di kelas dan mengakibatkan kelas kosong.

Allah, masihkah ada kerendahan hati dalam diri kita semua ini ? :'(

Jikalau aib orang yang kita bicarakan itu benar, maka itu disebut ghibah. Namun seringkali ghibah berkembang menjadi sebuah fitnah, karena kebiasaan kita yang suka melebih-lebihkan, menambah-nambahkan omongan. Ketahuilah, omongan yang kita tambah-tambahkan / lebih-lebihkan itulah, yang termasuk fitnah. – Anonymous

Benarlah jika para ulama’ di masa lampau menekankan pentingnya adab. Betapa susahnya adab ini. Betapa susahnya tawadhu’ terhadap seorang guru yang sesungguhnya barangkali lebih buruk kualitas ilmunya dari kita sekalipun. Kita hidup di zaman di mana yang lebih tinggi yang layak dihormati. Sementara islam mengajarkan bahwa siapa pun orang itu jika itu gurumu sepanjang ia mengajarkan kebenaran tentang ilmu semudah-mudahnya ilmu yang diajarkan, serendah-rendahnya ilmu yang dimiliki maka kita wajib merendahkan hati kepadanya.

Kita tentu masih ingat kisah Ulama karimatik Ahmad ibnu Hambal yang menasihati muridnya, Harun ibn Abdillah. Imam Ahmad bin Hambal bahkan datang tengah malam, dengan berjingkat-jingkat, berhati-hati agar tak seorang pun tahu mengenai kedatangannya larut malam ke rumah Harun. Dinasehatinya agar tak bertempat di tempat yang sejuk manakala mengajari murid-muridnya seperti yang ia lakukan di depan muridnya siang pada waktu itu. Beliau menambahkan bisa saja mengingatkan saat itu, namun demi menjaga wibawanya, beliau mengingatkannya secara sembunyi-sembunyi. Di tengah malam hari, dan dengan suara yang berbisik.

Tak usah jauh-jauh pada tindakan. Saya sendiri barangkali sering sedikit ada keluhan dalam hati manakala guru mengajar tidak enak. Walaupun hanya menggumam dalam hati. Tapi sedikit saja keluhan itu seakan telah menunjukkan kesombongan kita. Dan itu seringkali berjalan spontan dan refleks. Astaghfirullah, kalau dipikir-pikir susah juga ya membersihkan hati kita dari pikiran-pikiran semacam ini. Entah sudah mendarah daging *semakin sedih* atau mungkin menjadi kebiasaan karena nyaris semua lingkungan kita seperti ini.

Saya pun pernah membaca kisah entah ini benar atau pun tidak. Ada seorang ulama’ yang begitu tinggi ilmunya, yang begitu tinggi kharismatiknya, selalu mengakhiri kajiannya atau kala menjawab pertanyaan dengan kalimat “Wallahu a’lam bisshawaab..” (Hanya Allah Yang Maha Tahu). Seorang santrinya merasa tidak puas lalu menanyakan tentang hal itu. Beliau hanya menjawab simpel, ya karena Allah Yang Maha Tahu, tetap saja ini bukan jawaban terbaik dan terbenar, karena bisa saja Allah memiliki jawaban yang jauh lebih benar dari jawaban atau kajian yang saya berikan. Subhanallah, kelihatannya mudah ya, padahal? Susah luar biasa 🙁 !

Pun demikian saya teringat seorang kawan saya yang suatu ketika mengikuti kajian dari Kyai pengasuh di pondoknya. Saya sendiri kala mengikuti sejujurnya merasa bosan, tapi tidak dengan para santri-santrinya. Ketika saya tanyakan ke mereka, bahwa sejujurnya materi itu telah berkali-kali disampaikan bahkan mereka sampai hafal. Tapi mereka tak berani untuk sekedar tertunduk bahkan mengantuk, hanya karena ingin memuliakan dan menunjukkan rasa hormat kepada gurunya. T.T

Maka teruntuk kita semua, betapa susah membersihkan kesombongan dari hati ini. Betapa tidak mudah membuatnya menjadi bersih. Seringkali kesombongan itu hadir walaupun hanya sedikit. Dan kesombongan itulah yang membuat ilmu menjadi tak barakah. Semoga kita senantiasa teringat agar senantiasa menyambungnya dengan stighfar pada kesombongan yang datangnya seringkali tak terasa, bahkan tiba-tiba.

Sebab seringkali kesombongan itu datangnya tiba-tiba, bahkan tak terasa. Ia berawal dari rasa ketidakpuasan, kekecewaan, atau bahkan hanya karena kesalahan kecil yang dibuat oleh guru kita. Pemaknaan tawadhu’ bukan hanya dalam tingkah laku yang terlihat, namun yang jauh lebih berbahaya justru yang terjadi dalam hati. Manakala ia tak terlihat, padahal sebenarnya menggerogoti. Maka ingatlah, jika ia telah ridha, akan ada keberkahan dan ilmu yang tak pernah kau sangka kan mengaliri dalam raga.

Nggak tau sering kepikiran ini jadinya 🙁
Pak, Bu, Ustadz, Ustadzah, maafkan saya 🙁

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *