Aksi Bela Quran : Cinta yang Sama, Jalan yang Beda #411

Aksi Bela Quran

Aksi Bela Quran

4 November 2016

Hari itu seolah menjadi sejarah bagi gerakan umat islam di Indonesia. Hari di mana berkumpulnya umat islam di seluruh pelosok nusantara di satu titik, Jakarta. Hari di mana beberapa orang yang tak memungkinkan berangkat menggelar aksi di kotanya masing-masing. Hari di mana Al-Quran diperjuangkan dengan turun ke jalan.

Saya percaya mereka memiliki kecintaan yang sama. Kecintaan kepada Allah dan Rasulnya. Kecintaan pada Al-Quran sebagai wahyu dariNya. Tapi cinta terlalu sempit jika diartikan dalam satu kata. Makna cinta adalah luas. Cinta bisa berupa rahmat, seperti Allah yang memberikan nafas bagi seluruh makhluknya. Cinta juga bisa berupa ampunan, sebagaimana Allah berikan ampunan kepada kaum Kaum Kafir Quraisy. Cinta bisa berupa ujian, sebagaimana yang Allah berikan kepada Nabi dan RasulNya. Cinta bisa peringatan, apapun bentuknya bahkan musibah jika dipandang manusia telah keterlaluan. Bahkan cinta bisa berupa kematian, ketika Allah telah merindu bertemu hamba-hambaNya.

Jalan Cinta Para Sahabat

”Umatku yang paling pengasih adalah Abu Bakar, yang paling keras menegakkan agama Allah adalah Umar, yang paling pemalu adalah Utsman, yang paling bijak aalah Ali bin Abi Thalib……” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)

Siapa yang tak mengetahui Abu Bakar Ash-Shiddiq? Sahabat karib sekaligus teman terdekat Nabi Muhammad SAW. Beliau lah yang mempercayai penuh Muhammad SAW manakala Isra’ dan Mi’raj. Abu Bakar pulalah yang menyerahkan seluruh hartanya dalam Perang Tabuk, dan meninggalkan hanya Allah dan RasulNya untuk keluarganya. Beliau pula yang menemani Rasulullah dalam hijrahnya menuju madinah, bersembunyi dalam gelapnya Gua Tsur, bahkan menahan sakitnya sengatan kalajengking demi tak mengganggu Rasulullah yang tertidur di pangkuannya.

Adapun Umar, yang menjadikan fisik kuatnya sebagai tameng bagi siapa pun pengusik Islam. Yang awalnya membenci begitu tinggi bertransformasi menjadi sahabat terbaik bahkan hingga liang lahat keduanya pun bersebalahan. Manakala baru berislam, dengan lantang beliau katakan di depan Ka’bah, bahwa “Aku telah berislam”. Manakala hijrah, beliau berteriak “Yang menghalangiku, maka bersiaplah menjadi yatim, menjadi duda atau janda”. Manakala Rasulullah wafat, beliau histeris dan berkata, “Kan kubunuh siapapun yang mengatakan wafatnya Rasulullah.” Hingga tak hanya manusia yang tergertak, bahkan Iblis pun tak berani menghadang.

Lalu Utsman, yang bahkan kecintaan beliau terhadap islam membuat bergelar dzunnuraini. Pemilik dua cahaya, dua putri Muhammad dinikahinya, Ruqayah dan Ummu Kultsum. Bahkan Rasulullah bersabda kepadanya,

“Demi Allah! Jika aku memiliki 40 anak perempuan, maka aku akan nikahkan mereka satu demi satu denganmu sampai satu per satu dari mereka meninggal dan aku tidak memiliki anak perempuan lagi”.

Dan Utsman pula yang membuat malaikat bahkan malu kepadanya. Sebab beliau kaya, namun lembut luar biasa. Dan kekayaan beliau konon katanya menjadi amal jariyah hingga sekarang, saat di sebuah Bank di Arab, terdapat rekening waqaf dari sumur yang masa lampau pernah dibelinya atas nama Utsman bin Affan.

Lain halnya dengan Ali. sosok yang sederhana namun dikenal tinggi ilmunya Bahkan bergelar pintunya ilmu. Beliau lah ayah dari dua pemuda yang kelak menjadi pemimpin di Surga, cucu Rasulullah Hasan dan Husein. Kemampuan bela diri dengan pedangnya membuat musuh-musuh Allah tunduk dalam libasan pedangnya. Dan seringkali permasalahan-permasalahan kaumnya diseleseikan dengan kebijakannya yang luar biasa.

Jalan Cinta Mereka, Sang Pejuang Masa Kini

Jikalau para sahabat pun punya ekspresi terendiri dalam mengungkapkan cintanya, pun demikian dengan mereka, dan semoga termasuk kita.

Ada mereka yang dikaruniai olehNya suara yang lantang, pengetahuan agama yang mumpuni, dan pengaruh yang tinggi. Maka mereka pun menjadi pemimpin orasi. Ada mereka yang memiliki fisik kuat, lantas mereka posisikan sebagai garda terdepan. Ada mereka yang mencintai kebersihan, maka sampah pun menjadi ladang amal kebaikan. Adapula yang lincah menarikan jemari di atas gadget, sembali menginformasikan dan memberi tahu kepada dunia tentang aksi yang terjadi. Bahkan ada yang buta, bergandengan satu sama lain, sembari hanya menggunakan telinga dan lisannya tuk mengekspresikan cinta kepadaNya. Sekali lagi, cinta yang sama, jalan yang berbeda.

Tapi tak semua harus turun ke jalan. Sebab dakwah, memiliki ruang tersendiri. Memiliki maqamnya masing-masing. Yang bersembunyi dibalik layar, yang berjuang di ranah diplomasi, bisa saja Allah karuniakan pahal berlebih dari yang turun ke jalan. Pun demikian sebaliknya.

Barangkali ada yang hari itu tidak turun ke jalan. Ia sedang bersafar, berfantashiru fil ardh. Dalam rangka mereguk ilmu-ilmunya. Sembari berikrar dalam hati, bahwa kelak, ia akan menjajah barat dengan ilmu pengetahuannya.

Ada mereka yang tersibukkan untuk urusan bisnis-bisnisnya. Ia tak datang, bukan karena ia lebih cinta dunia. Namun ia kirimkan berjuta bantuan sembari menyelipkan doa dalam setiap perjalannya.

Ada pula yang memilih berdiam di rumah. Dia tidak berani, tapi bukankah selemah-lemahnya iman adalah masih meyakini. Dia tahu hal itu dan dia tak henti melantunkan doa dari lisannya.

Sementara ada juga mereka yang tersibukkan di atas layar-layar komputernya. Hei, mereka bukan hanya berani berkomentar saja. Ada ribuan media lawan menyerang tiada henti. Ada hashtag, komentar negatif disebar secara sporadis. Ada tujuan agar trending topic bukan bernuansa pembelaan kepada Al-Quran, malah justru menjatuhkan umat islam sendiri. Dan mereka rela begadang di depan layar, rela terkena radiasi tanpa henti, demi membendung perang dunia maya. Lagi-lagi Jalan yang Beda, Cinta yang Sama

Karena di jalan cinta para pejuang, akan kau temukan perbedaan-perbedaan. Yang seharusnya tak perlu kau jadikan gesekan. Tapi sebuah kekuatan, agar membangun cinta yang sama kepadaNya, tinggi hingga mencapai surganya. Di jalan cinta para pejuang, akan kau temukan berbagai ekspresi yang berbeda. Sebab itulah jangan pernah sekali-sekali kau terbuai akan ketakabburanmu, merasa diri lebih baik dari mereka yang tak turun, atau sebaliknya. Sebab yang tahu dirimu hanyalah dirimu dan Allah semata.

Maka tersebab itulah, gurunda Ustadz Salim A. Fillah mengutip dengan indah dalam bukunya,

“Di jalan cinta para pejuang, biarkan cinta berhenti di titik ketaatan.. Meloncati rasa suka dan tidak suka.. Melampaui batas cinta dan benci.. Karena hikmah sejati tak selalu terungkap di awal pagi.. Karena seringkali kebodohan merabunkan kesan sesaat.. Maka taat adalah prioritas yang kadang membuat perasaan-perasaan terkibas. Tapi yakinlah, di jalan cinta para pejuang, Allah lebih tahu tentang kita..”

Mushonnifun Faiz Sugihartanto

Muslim

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *