3 Months Master Preparation: Antara Berakselerasi atau Menikmati

Master Preparation

“There is No Shortcut to be Success. Every people has their own way that is already “scripted” by Allah, but don’t make it as an excuse to be lazy for trying everything hard. Just make it enjoy, keep work hardly, and always pray to Him”

Holaaa… Tanpa terasa sudah 3 bulan saya berada dalam ‘pertapaan’ ini yang rasanya entah nano-nano atau cenderung flat. Sudah lama juga saya nggak curhat di sini terkait progress perkembangan saya di sini *padahal tulisan yang kemarin isinya curhatan doang hihihihi*. Mencoba merenungi ternyata Whattt??? Sudah 3 bulan?? Udah dapat apa aja aku? Entah merasa tak maksimal, mudah lelah dan terlelap, atau kesulitan-kesulitan lainnya yang tak pernah henti untuk menyapa. Sudah seyogianya nggak usah kaget dong dengan kondisi yang ada, ketika segala kesulitan hadir, berarti normal. Berarti kita sedang berproses. Seekor ulat saja butuh berpuasa panjang dari makan bahkan dari dunia luar, di dalam kepompong yang gelap lagi sempit untuk menjadi seekor kupu-kupu. Nah bagaimana dengan saya? T.T

Sedikit flashback, pasca sidang dan menyeleseikan segala urusan Tugas Akhir di akhir Juli 2016 lalu, saya memutuskan pergi mengembara  ke Kampung Inggris, Pare. Saya mengambil program sebulan IELTS Camp *alhamdulillah ini lolos placement test* di TEST English School. Sistem pembelajaran yang drill dari jam 05.30 pagi hingga jam 21.00 dan hampir setiap hari (beberapa hari cuman sampai jam 17.00), ditambah scoring setiap pagi alhamdulillah tidak membuat saya kaget karena kondisi pasca mengerjakan tugas akhir *keseringan begadang* . Namun, karena dengan sistem seperti itu, yang tidak lagi diajari benar-benar dari 0, membuat aspek writing dan speaking saya tidak terlalu berkembang. *Hiks emang saya nggak pintar bahasa inggris*. Hasilnya selama sebulan tersebut, dengan sistem scoring setiap hari, nilai saya nggak bagus-bagus amat. Listening masih berkisar 5.5 – 6 . Reading di angka 6 – 7, Writing 5 [STUCK DI SINI T_T] , Speaking 6 – 6.5. Sementara universitas yang ditargetkan meminta overall 7 dengan each band-nya tidak boleh dibawah 6.5 *Hiks tinggi banget T_T

September 2016 saya memutuskan rehat sejenak pasca program selesai. Sebenarnya bukan rehat juga sih, karena september bertepatan dengan momentum wisuda saya, ditambah terdapat urusan administrasi kampus yang harus diseleseikan, persiapan-persiapan wisuda, gladi bersih, dan tentunya menghabiskan hari-hari terakhir bersama rekan-rekan seperjuangan saya :’) *ciyeee malah baper*.

Saya pun memutuskan belajar sendiri otodidak. Saya print buku CAMBRIDGE IELTS GRAMMAR yang saya peroleh dari download gratisan *hihihi*, dan saya belajar grammar pure dari 0. Ditambah buku Basic Grammar karya Betty yang dulu pernah dijadikan rujukan guru saya di MTs dalam mengajarkan grammar. Ya, ini kelemahan utama saya di penulisan, yang membuat band writing saya masih di angka 5. Sebulan penuh saya berusaha menghabiskan buku itu walaupun pada akhirnya hanya setengah yang baru terpelajari. Sembari menunggu Oktober saat saya kembali ke Pare di English Studio, lembaga lain, dengan harapan saya bisa lebih intens di situ. Saya mengambil Master Class 3 bulan dengan target Band Score 7.

Tanpa terasa sekarang telah sebulan berlalu, dan Alhamdulillah saya merasakan berkembang di writing. Semenjak belajar otodidak ditambah dengan kelas master class akhirnya writing saya sekarang stabil di Band 6 berdasarkan beberapa kali simulasi *yeay*. Walaupun di sini saya merasakan beratnya. Jam belajar tak terlalu padat seperti di TEST dahulu, tapi tugas-tugasnya jauh lebih banyak -_____-“. Pun demikian suasana kelas yang tak terlalu banyak (hanya 14 anak) membuat saya lebih fokus dan well improved di sektor writing karena sistem di sini adalah setiap anak harus memberikan setidaknya dua komentar sebelum meng upload tugas writingnya. Jadi, saya di sini menjadi “sok-sok bisa ngasih komentar” ke tulisan teman-teman sekelas, terkait grammar, coherence, idea, padahal sebenarnya tulisan saya komentarnya berlembar-lembar =)). Jadilah kemampuan saya dilatih dua kali. Bagaimana memberikan feedback ke orang serta bagaimana menerima feedback dari teman-teman untuk perbaikan tulisan saya. Well, cukup efektif ternyata untuk membuat kemampuan writing saya improve dalam sebulan ini.

Menikmati dalam Akselerasi

“Aku telah membaca kitab arRisalah (karya asy-Syafi’i) sejak 50 tahun lalu dan setiap kali aku baca aku menemukan faidah yang tidak ditemukan sebelumnya” – Al-Muzanni

3 bulan terakhir ini saya juga entah mengapa banyak merenung. Yah, saya sempat tuliskan sebelumnya di tumblr saya di sini kemudian pasca website saya kembali normal saya repost lagi di sini, bahwa kesabaran, keistiqomahan, dan ketabahan lah yang menjadi kunci seseorang dalam suksesnya menuntut ilmu. Pun demikian ketika kembali merenungi, saya tuliskan di posting saya sebelumnya, ada pula nilai ketawadhuan yang harus dijaga dan dimiliki oleh para penuntut ilmu, semata-mata agar ada barakah dariNya dalam setiap ilmu yang dipelajari.

Pun demikian ketika saya tuliskan curhatan saya di sini, ketika menginginkan segala sesuatunya mudah dan akan cepat dipelajari, ternyata itu memang salah. Kita tetap bisa berakselerasi. Belajar jauh lebih keras lagi, namun tetap saja kita harus menikmati segala proses yang ada. Sebagaimana yang saya tuliskan di atas, Imam Al-Muzani, ulama’ asal Mesir yang merupakan salah satu murid Imam Syafi’i bahwa akan ada hal-hal yang baru yang akan selalu kita temukan ketika kita mendalami semua ilmu-ilmuNya. Tentu saja sambil diimbangi dengan mengharap keridhaan kepadaNya dan jangan lupa tuk selalu memohon doa kepada orang tua.

Hingga kini, tepatnya esok hari, saya akan mulai memasuki bulan keempat. Masih ada dua bulan lagi jika sesuai rencana saya akan mengambil IELTS Real Test di Bulan Januari nanti *mohon doanya teman-teman, dagdigdug nih*.  2 bulan ini sistem pembelajaran menurut lembaga yang saya ikuti akan banyak dilakukan review dan review kembali terhadap apa yang telah kami pelajari selama sebulan terakhir. Sembari tetap memperbanyak practice untuk writing dan speaking yang akan jauh lebih intens daripada listening dan reading.

Mungkin seringkali kita, termasuk saya merasa bahwa untuk apa mengulang-ngulang kembali yang telah dipelajari. Kadang saya pun sendiri merasa begitu, padahal sudah jelas hasil yang saya peroleh belum optimal. Ada kejenuhan yang menyerang, ada kelelahan yang mendera, walau seringkali malah masih melakukan kesalahan yang sama entah di writing atau pun speaking. Dan itu jelaslah salah ketika kita menyebutnya sebagai kesia-siaan. 100% salah ketika kita tak mau mengulang-ngulang kembali. Ilmu bukan seperti buku jika kita baca berkali-kali akan semakin lusuh, namun sebaliknya ia akan semakin kuat tertancap dalam otak. Sebagaimana Imam Al Muzani yang bahkan hampir selalu menemukan hal baru ketika karya Imam Asy-Syafii.

Yang terpenting pula  saya yakin bahwa sesungguhnya dalam setiap proses menuntut ilmu, manusia telah berakselerasi, namun ketidakpuasan-lah yang membuatnya merasa tak berkembang. Apakah itu salah? Tentu tidak, selama ketidakpuasan itulah yang membuatnya terus bekerja keras. Ketidakpuasan itulah yang mampu mengalahkan lelah dan bosannya dalam menuntut ilmu. Bahkan ketidakpuasan itu pulalah yang bahkan terkadang membuatnya rendah hati sebab senantiasa merasa ilmu yang dikuasai tak sebanding dengan apa yang teman-temannya miliki.

Kita seringkali mengharapkan sesuatu yang cepat sembari melupakan proses. Padahal sesungguhnya kita sedang berakselerasi walau tak secepat yang kita ingini. Sebab kita telah terbutakan oleh rasa ketidakpuasan. Ingatlah, bahwa Allah mempersiapkan Rasulullah selama hampir 40 tahun sebelum diangkat menjadi Nabi, setelah diuji dari keyatimannya, menggembala domba, hingga berdagang antar negara. Dibandingkan dengan beliau kita tak ada apa apanya. Maka nikmatilah akselerasi yang kau jalani, yakinlah jika masanya tiba, kau akan menikmati buih perjuangan yang telah kau ingini.

Menyelesikan tulisan di atas travel di hp, setelah tadi menunggu travel yang tak kunjung datang

Pare, aku kembali

Surabaya, 09 11 2016

 

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

2 Responses

  1. Nice, boleh lah berbagi itu cambridge #eh. Nanti aku tanya2 ya, setelah demisioner bem km, dan menapaki fase master preparation 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *