Dia: Yang Selalu Mencoba Tegar di Depanmu

Tegar

Seperti kebanyakan perempuan, maka ayah adalah sosok lelaki pertama bagimu. Dia sosok yang menemanimu sejak kau berada dalam janin. Membelikan ibumu rujak, buah, atau makanan lainnya yang bahkan pada saat itu susah ditemui. Dia yang rela lapar ketika keuangan menipis, selama kau tak kelaparan. Dia yang rela makan nasi garam, sementara dibelikannya kamu susu termahal dan terbaik untuk menunjang tumbuh kembangmu. Dia pula yang bersiaga sewaktu-waktu ketika ibumu bersiap melahirkanmu.

Ketika kau lahir, dia lah yang mengazanimu di telinga kanan dan mengumandangkan iqamat di telinga kirimu. Dia pula yang men”tahnik”mu sebagaimana Rasulullah melakukannya dahulu. Semasa kecilmu, barangkali kau banyak berinteraksi dengan air susu ibumu, padahal dia lah yang bekerja dibalik layar. Mencari nafkah untukmu. Bahkan di sela kesibukannya, dia tetap berusaha menyisihkan waktu kerjanya hanya untuk berkesempatan menggendong dan meninabobokanmu. Dia bukan karena tak percaya pada ibumu, namun karena dia tak ingin kamu kehilangan sentuhan hangat dari tangannya. Dia ingin agar kelembutan dari ibundamu berpadu dengan rasa berani dari dalam jiwa miliknya. 

Ketika kau sekolah, dia akan berusaha mengantarkanmu di setiap pagi. Dia yang tak pernah ingin kehilangan momentum ketika kau mengecup tangannya. Dia semakin bekerja keras manakala tahu biaya pendidikanmu semakin tinggi semakin kau ingin bersekolah lebih tinggi. Namun tetaplah dia lah yang paling merasa berdosa ketika berusaha pulang awal, namun justru larut malam. Menyaksikanmu telah tertidur tanpa sempat menyapamu, mendongengimu.

Lalu ketika kau lulus, dia lah yang seakan membentangkan jalan di depan peta kehidupanmu. Dia memberikanmu kebebasan untukmu meraih kesuksesan. Dia yang menguatkanmu kala takut, meyakinkan ibumu ketika merasa khawatir, membesarkan hatimu manakala kau gagal, dan menjadi yang pertama bersama ibumu yang menyelamatimu ketika kau berhasil. Kadang dia terlihat keras, tidak memperbolehkanmu meraih cita yang tak sesuai impiannya, namun percayalah, bahwa dia melakukannya karena mencintaimu, bukan untuk menghambatmu. Barangkali itu ujian dariNya seberapa besar kau masih mentaatinya.

Hingga ketika seorang lelaki lain datang kepadanya, dia lah yang pertama kali harus dihadapi lelaki itu. Lelaki yang tak pernah kau kenal sebelumnya. Tiba-tiba saja ingin mengambilmu dari dia yang telah membersamaimu sejak kecil. Kau tentu tahu bagaimana perasaanya. Betapa banyak pertanyaan yang ia ajukan kepada lelaki itu. Bahkan sekalipun kau telah benar-benar mengharapkannya, dia tak pernah main-main untuk urusan ini. Sebab dia tentu ingin agar kamu dibersamai dengan seburuk-buruk lelaki adalah seperti dirinya, bukan lebih buruk dari dirinya. Dia tentu tak ingin mempersulit lelaki itu. Percayalah bahwa dia paham bahwa dia pernah dalam fase yang sama. Ketika meminta ibumu dahulu menemani sisa hidupnya. Karena dia tahu, bahwa tanggung jawabnya sebagai ayah yang mendekati akhir adalah memilihkan sebaik-baik lelaki untukmu

Pada akhirnya, ketika mitsqan ghalidza bersenandung di depannya, dia lah yang mungkin akan mengusap air matamu pertama kali. Dia tampak tegar, walaupun sebenarnya hatinya menangis. Antara bahagia dan ketidakrelaan barangkali bercampur menjadi satu. Tangannya menggenggam erat lelaki di sampingmu, seakan memastikan bahwa kau telah dibersamai yang terbaik. Matanya berkaca-kaca, tapi saraf-sarafnya terlalu kuat untuk menahannya agar sampai tak tumpah. Dia ingin kamu kuat, sebagaimana lelaki yang kini menggenggam di sampingmu. Manakala prosesi sungkeman, suaranya terasa berat. Seolah ada yang tertahan kuat dalam batinnya. Namun dia memang betul-betul kuat. Ia tak ingin menambah air mata yang telah membasahi pipimu. Ia tersenyum, walau barangkali itu senyuman terberat dalam hidupnya. Tapi dia tetap tegar, Karena dia pasti mengingatnya bagaimana ketika berpuluh tahun yang lalu menatap mata ayah dari ibumu. Ada pancaran kekuatan yang begitu besar untuk sekedar menahan tumpahan air mata. 

Pasca itu, dia barangkali takkan lagi sering bertanya kepadamu. Sekedar memastikan jika kamu baik-baik saja. Dia percaya bahwa pertemuanmu dengan lelaki yang membersamaimu takkan pernah meniadakan cintamu kepadanya. Sebab dia telah memilihkanmu, sosok yang terbaik menurutnya. Dan dengan lelaki barumu itulah, sisa-sisa cinta yang dimilikinya seakan telah mengalir dalam darah lelaki yang membersamiamu. Bahkan bersama lelaki itu, kamu bisa meraih kenikmatan surgaNya dua kali lebih luar biasa, ialah dari bakti kepada ayahmu dan bakti kepada suamimu. 

Ya, dia adalah ayahmu. Yang selalu mencoba bersikap tegar di hadapanmu. Yang punya cara yang seringkali justru berbeda dengan kebanyakan dalam mencintaimu.

 

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *