Pernikahan: Menyatukan Kepingan Keluarga, Bukan Sekedar Kepingan Hati

Pernikahan

Ini bukan tentang bertautnya dua hati. Terlalu sempit jika kita mengartikan pernikahan dengan “hanya dua hati”. Pun demikian jika diartikan sebagai kebersamaan. Bukan kebersamaan antara lelaki dan perempuan saja. Jika kelak menghasilkan keturunan, bukan juga sebagai keturunan “keduanya” saja. Bahkan jikalau bertikai atau bercerai sekalipun bukanlah bermakna keterpisahan dua manusia saja.

Menikahkan seseorang sama maknanya menikahkan satu keluarga. Entah beberapa kali saya memikirkan tentang hal ini. Mencoba terus mempelajari. Buka referensi sana sini, mengikuti kajian, dan tentu berdiskusi dengan ayah *my best partner for discussing everything*. Hingga akhirnya merujuk ke sebuah kesimpulan bahwa memang nasab seseorang memang bukan yang paling penting, tapi tidak kalah penting. Ibaratnya internal dan eksterenal. Internal adalah personality dari lelaki atau perempuan itu sendiri. Eksternal adalah siapa lagi kalau bukan dari keluarganya dulu, barulah teman-teman bergaul dan terdekatnya.

Seorang wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu beruntung – HR. Bukhari dan Muslim

Jelaslah dalam hadis di atas, bahwa memang keturunan atau nasab bukan faktor utama. Tetaplah agamanya atau personality lah yang menjadi faktor utama. Tapi mari coba melihat sejarah. Mari kita lihat istri-istri Rasulullah, bahwa hampir sebagian besar di antara mereka bernasab baik. Khadijah yang paling dicintainya pun berasal dari keluarga yang mulia lagi terhormat. Ayahnya, Khuwalid adalah saudagar yang dikenal perangai kebaikannya. Sedangkan Aisyah, putri dari Abu Bakar, sosok yang tiada pernah meragukan segala perkataan Rasulullah hingga gelar Ash-Shiddiq pun melekat erat di belakang namanya.

Well, akhirnya kadang saya paham mengapa beberapa kali diskusi dengan ayah tentang itulah pokoknya, selalu ditanyakan oleh beliau “Bagaimana nasabnya?”. Walau terkesan di awal saya kurang memperhatikan hal ini, tapi saya akhirnya menyadari bahwa sudut pandang saya adalah sudut pandang terhadap seorang istri, karena dia yang akan menemani saya dalam kehidupan. Namun sudut pandang ayah atau kedua orang tua saya adalah sudut pandang terhadap keluarga atau nasabnya, ya karena mereka nantinya yang juga akan banyak berkomunikasi dengan keluarga istri.

Barangkali juga ini menunjukkan ketidakberdayaan saya dan keluarga sebagai hamba Allah. Kami belum sekuat para ustadz yang mampu menikahkan putra-putrinya dengan muallaf, seperti Ustadz Arifin Ilham beberapa waktu yang lalu. Pun demikian apalagi jika seorang istri yang akhlaknya baik luar biasa, namun ia berasal dari keluarga yang kurang baik. Walaupun tidak menutup kemungkinan, namun saya sendiri merenungi barangkali belum siap untuk hal-hal yang seperti itu. Bahkan ada yang tak sekedar se-agama, tapi se-aliran, se-budaya, bahkan ada yang se-suku, semata-mata bukan mempersulit pernikahan itu sendiri, tapi untuk mempermudah kehidupan ke depannya. Karena setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, taraf iman yang berbeda, dan kita sendiri serta Allah-lah yang akan mengetahui jalan yang terbaik.

Kesemuanya tentu kembali kepada niat dan tujuan awal kita untuk menikah. Mengutip kata Ustadz Felix Siauw, bahwa ada dua pilihan ketika kau meniatkan untuk menikah. Berjalan atau Berlari dalam Dakwah. Berjalan adalah ketika mungkin kau menikahi seseorang yang baru saja belajar memahami islam. Kamu perlu memahamkan dia terlebih dahulu. Tak mungkin kau berceramah ke mana-mana, mengadakan pelatihan keislaman di tempat lain, sementara istrimu sendiri masih belum paham. Setelahnya, baru kau bisa mengajaknya untuk berkolaborasi kebaikan dalam dakwah. Atau yang kedua, berlari dalam dakwah. Manakala kau telah menikahi seseorang yang telah baik agamanya. Kau tak perlu mengajarinya lagi, tinggal menetapkan satu visi, lalu berlari bersama. Menebar kebaikan dan kebermanfaatan untuk sekitar.

Dan lari itu akan semakin cepat ketika ia bernasabkan keluarga yang benar-benar baik. Kamu tidak berlari berdua saja. Tapi lebih dari itu, berlari bersama dua keluarga. Kebaikan yang dijalani dengan sendiri saja menenteramkan. Lalu bagaimana jika dijalani berdua? Lebih dari itu bagaimana jika dijalani dengan persatuan dua keluarga? Pastilah akan terasa lebih dahsyat kebermanfaatannya, lebih dari itu amalan yang dijalankan secara berjamaah sudah tentu akan mengandung keutamaan yang jauh lebih luar biasa dibandingkan dengan sendiri-sendiri saja. Seperti ungkapan, bahwa hidup miskin asal bersama keluarga jauh lebih bahagia dibandingkan hidup kaya namun sendiri.

Meniatkan untuk menikah berarti bukan sekedar mencari kepingan hati yang hilang. Tapi kepingan keluarga. Karena pernikahan adalah bertemunya dan bersatunya dua buah keluarga. Memang itu bukan faktor utama, tapi percayalah itu akan mempermudah. Karena kamu bukan lagi berjalan atau bahkan masih merangkak. Kamu tinggal berlari, bahkan terbang bersama keduanya untuk berintegerasi dalam kebaikan, berlelah-lelah dalam perjuangan, hingga surga menjadi tempat berkumpul kembali dalam kebersamaan.

Ga tau kenapa senin pagi udah mikirin ginian

Di sela waktu istirahat kelas

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

1 Response

  1. dirja says:

    izin share dan copy paste y

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *