Almost 5 Months Master Preparation: Sempurna yang (Nyaris) Tak Mungkin, Sempurna yang Tetap Diperjuangkan

Sempurna

It is a common desire for all people in the world to become perfect in everything. Unfortunately, it seems to be almost impossible, because perfect is solely owned by our Creator, Allah SWT. Even though that, it doesn’t to be a barrier for us to fight as strong as we can. Because the most important things is all about the process itself, not the result. The more you struggle, the nearer you will be with the perfect result. – Anonymous, 2016

Tanpa terasa udah sebulan lebih saya tidak menulis di sini. Sembari membersihkan debu dan mengerjakan tugas malam ini, tanpa terasa sudah hampir lima bulan lebih saya menjadi ‘pengangguran terdidik’. Memasuki bulan terakhir, saya kembali merenung akan perjalanan 4 bulan terakhir ini. Sudahkah saya melakukan hal yang terbaik? Sudahkah saya benar-benar tak membuang-buang waktu? Benarkah 24 jam dalam sehari telah teroptimalkan tuk kegiatan yang bermanfaat? Rasanya saya masih jauh dari hal itu.

Rasanya kesia-siaan itu juga makin terasa di bulan terakhir ini. Masih kesulitan untuk mempersedikit jam tidur, terkadang malah ketika libur menghabiskan waktu untuk hal-hal yang kurang produktif. Hingga tanpa terasa, minggu kemarin saya putuskan mendaftar real TEST IELTS bulan depan? Lalu? Benarlah kata teman saya, bahwa sensasinya akan terasa ketika kau menekan tombol submit. Dan sekarang? Saya merasakannya =)). Tentu saja dengan biaya yang cukup mahal untuk sebuah tes, dan untuk inilah entah mengapa saya tak tahu harus bagaimana lagi membalas jasa kedua orang tua  saya yang begitu mendukung segala langkah dan keputusan-keputusan yang saya ambil.

Setelah bulan-bulan sebelumnya saya menghabiskan banyak waktu dengan writing, berkutat di depan laptop, upload ke essayforum.com,  bahkan pernah mencapai 9 tugas writing dalam sehari, bulan ini saya bersama teman-teman master class diajarkan tentang materi-materi pendalaman. Sebut saja IELTS Advanced. Tentunya dengan listenting, reading, dan tingkat writing yang jauh lebih susah daripada sebelumnya, grammar yang jarang dipakai, bahkan beberapa kosakata aneh yang diperkenalkan membuat tekanan semakin terasa. Sekalipun tentor saya selalu berkata bahwa soal-soal real test IELTS takkan setinggi itu tingkat kesusahannya, namun tentu saja kekhawatiran itu akan tetap ada bukan?

When you are feeling down….

Entah mengapa, pada akhirnya yang dikatakan tentor saya di bulan pertama memulai master class dulu pada akhirnya menimpa saya juga. Sekalipun berusaha menguatkan diri, berusaha untuk berprasangka baik, percaya bahwa segala kekuatan bersumber dariNya, pada akhirnya saya merasakannya. Ya, memang sudah ada beberapa teman saya yang sakit, stress, ada yang menangis juga ketika melihat hasil simulasi test yang ada, bahkan sekitar 2 minggu yang lalu ada yang sampai kesurupan, setelah mungkin kelelahan semalaman menghafalkan script untuk speaking yang ditugaskan pada hari itu.

Saya barangkali tak pernah merasa puas dengan hasil pencapaian saya bulan – bulan sebelumnya. Selalu saja merasa kurang, dan lagi-lagi dengan kesalahan yang sama, entah misspelling, grammar, dan ya itu-itu saja. Ya, salah satu aspek yang lemah dalam diri saya adalah masalah ketelitian. Sejak kecil dahulu hingga sekarang. Selalu terlambat menyadari, bahkan tentor pun selalu berkata, “Faiz, please make a new mistake!”.

Hingga pada akhirnya, saya down juga. Saya menangis kala melihat hasil yang diperjuangkan tak sesuai ekspektasi. Kadang saya berpikir apakah ekspektasi saya terlalu tinggi? Mungkin ada benarnya. Untuk skor pun saya menargetkan tentunya semaksimal mungkin. Karena saya percaya setidaknya jika langit menjadi targetmu, maka jika kau gagal, kau masih jatuh di antara bintang-bintang. Namun yang terjadi kadangkala justru aku merasa terbebani.  Bahkan salah seorang teman akrab saya bertanya, “Faiz, Are you OK? I don’t see your happier face in your appearance just like last month.” . Dan saya hanya menjawab “Yha, it’s OK. No Problem!“.

Beberapa bulan terakhir, dari 4 indikator di Writing dan Speaking, problem saya tetaplah sama : Grammatical Range and Accuracy. Seakan ini menjadi hukuman dariNya karena sejak awal belajar bahasa inggris ketika MI dulu saya termasuk paling malas akan hal ini. Bagi saya yang terpenting bisa berbicara, mengerti akan makna bacaan, dan bisa mendengar dengan baik, sekalipun dengan tata bahasa yang salah. Namun hal inilah yang seringkali justru membuat saya jatuh di dua bulan terakhir ini. Ketika bagian yang lain setidaknya telah memenuhi, dan teman-teman lain sudah move on ke step yang lebih tinggi, entah mengapa diri ini masih berkutat di kesalahan yang sama. Hingga saya pada akhirnya belajar bahwa karena abai terhadap kesalahan – kesalahan kecil-lah yang membuat masalahmu menjadi semakin besar. Setidaknya itu insight yang saya dapatkan setelah merenungi akan kegagalan berulang saya beberapa bulan ini.

When you feel like “A Wasting Time”

Ketika perjuangan telah dilakukan, ketika doa – doa telah dipanjatkan dalam tiap sujud di sepertiga malam, ketika kantuk telah tertahan berjuta kali tak karuan, lalu jika hasilnya tak sesuai harapan, akankah kita menganggap waktu yang telah tergunakan serasa berujung kesia-siaan? 

Seringkali hal ini muncul dalam futurnya jiwa dalam perjuangan. Pun demikian dengan saya. Bahkan sempat seorang kawan saya meledek, “Iz, mau kejar skor 9? Yang penting kan memenuhi.” Well, saya tahu niat dia pasti bercanda, namun percaya atau tidak sempat membuat saya berpikir ada benarnya juga. Universitas mensyaratkan requirements yang mungkin bisa saya raih seandainya oktober lalu saya mengambil real test.  Agustus 2016 lalu, seperti yang telah saya ceritakan di sini. Hanya saja karena selama sebulan tersebut writing saya selalu jatuh, saya tak memiliki keberanian sedikit pun untuk melakukannya. Sekalipun teman-teman saya menyemangati saya, menyatakan bahwa 2 minggu study group sudah cukup untuk meraih hasil yang diinginkan, namun, tetap saja saya menyatakan tak mungkin, sebab ternyata writing IELTS tak semudah menulis puisi untuknya *eaaa*. Akhirnya ? Saya putuskan untuk ikut program lagi. Tidak tanggung-tanggung ! 3 Bulan ! Dan reaksi teman-teman satu kursus saya hanya geleng-geleng kepala.

Namun semua itu berubah, ketika seorang alumni bimbel saya mem-post di grup facebook, kira-kira begini isinya :

 

Lebih baik berdarah-darah untuk belajar di pare, sebelum dicaci maki dosen di UK – Anonymous, 2016

Lagi-lagi postingan tersebut seakan Allah titipkan jawaban akan kegelisahan yang menyerang saya. Saya pribadi tentu sangat-sangat setuju dengan hal tersebut. Ada benarnya juga bahwa ketika kita nantinya telah berangkat untuk mereguk ilmu-ilmuNya di penjuru dunia, sudah bukan waktunya lagi kita tersibukkan dengan kemampuan berbahasa kita, sebab waktu yang tersedia juga terbatas, sementara penguasaan akan kompetensi itu sendiri jauh lebih penting.

Kejar Skill-nya, Bukan Skor-nya

Bahasa hanyalah tiket, maka cukup membayar seperlunya saja, kau akan bisa mendapatkannya. Itu jika kita mengejar skornya. Namun sebagaimana tiket pada umumnya, ia memiliki kelas. Ada ekonomi, bisnis, eksekutif, dan first-class. Kau akan sama-sama sampai di tempat tujuan. Hanya saja dengan perasaan dan kenyamanan yang berbeda. Tentu juga dengan effort dan biaya yang berbeda untuk mendpatkannya. Maka kejarlah skill-nya. Bukan pada skornya. Karena nilai hanyalah bonus semata dariNya ketika Allah telah meridhai segala daya, upaya, dan doa yang telah kita perjuangkan.

Dan kali ini saya cukup tertampar. Terima kasih telah menyadarkan akan makna sebenarnya dalam segala pembelajaran mas :’)

Maka Izinkan Aku Mengejar Kesempurnaan….

Seperti mustahil dan bahkan memang nyaris benar-benar mustahil kita meraihnya. Sempurna, dalam hal ini saya mengartikan tak ada cacat, kesalahan, bahkan kegagalan sedikit pun. Sempurna bukan hanya tentang hasil, tapi tentang proses. Sempurna juga bukan hanya tentang keduanya, tapi juga tentang doa. Tentunya takkan habis jika saya menyebutkan satu per satu tentang kesempurnaan.

Manusia disebut tak pernah disebut sebagai makhluk yang sempurna. Allah hanya menyebutkan bahwa kita diciptakan dengan sebaik-baik bentuk, bukan dengan segala kesempurnaan.

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. – QS. At-Tin: 4

Tentu saja sebaik-baik bentuk akan selalu ada kekurangan. Bukan berarti kita mengabaikan akan kuasa Allah, tapi memang begitulah Allah takdirkan kita menjadi manusia. Sekuat apapun usaha kita, nyaris takkan pernah berujung kesempurnaan karena itu memang sudah takdirNya, kecuali jika Allah berkehendak untuk sebuah kejadian tertentu, dan itupun hanya sedikit jumlahnya. Bahkan para Nabi pun diciptakan dengan segala kekurangannya, pun apalagi kita sebagai manusia biasa.

Dan inilah yang menjadi renungan saya selama beberapa terakhir. Bukan tentang kesempurnaan yang menjadi tujuan, tapi tentang usaha untuk meraihnya. Bukan tentang bagaimana hasil akhir yang nantinya ditakdirkan, tapi tentang bagaimana kita memperjuangkan. Walaupun ada perih yang dirasa, ada jenuh yang mendera, bahkan tak jarang bertabur air mata, tapi inilah realita yang harus dihadapi menuju sempurna.

Saya akhirnya paham, bahwa sempurna bukan tentang hasil akhir. Sempurna adalah tentang penerimaan. Bagaimana kelak kita akan menerima akan apapun hasil yang kita peroleh setelah perjuangan panjang. Tapi sempurna bisa juga tentang ketidak puasan. Kita tidak menerima, bukan berarti kita tidak menysukuri, tapi menjadi motivasi untuk berjuang jauh lebih sakit lagi, jauh lebih keras lagi.

IELTS hanyalah awal perjuangan panjang. Masih banyak hal-hal yang harus dipersiapkan. Jika di sini saja saya sudah menyerah, lalu adakah hujjah yang nantinya kan dapat dipertanggungjawabkan di hadapanNya?

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. – QS. Al-Baqarah: 214

Sempurna hanyalah sebuah frasa yang mudah terucap namun abstrak tuk diwujudkan. Ia nyaris tak bisa diraih, sebab kala kita meraihnya, akan selalu ada langit di atasnya. Sebab itulah, di sinilah pentingnya penerimaan. Jika kita menerima, maka segalanya akan terlihat sempurna. Jika kita telah berjuang maksimal. Jika kita mengikhlaskannya, ada surga yang kesempurnaannya tak lagi perlu ditanya, siap menjadi rumah terakhir kita. Kita tak perlu mencari hasil yang sempurna, cukuplah dengan perjuangan yang sempurna, kita akan bahagia. 

H-16

Semoga Allah akan selalu kuatkan

Kampung Inggris

 

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

3 Responses

  1. hl says:

    Tetep semangat mas, mumpung muda, hahahaha
    dan mumpung belum mikir keluarga.

  2. Muflih Wahid Hamid says:

    Please, Make a new mistake Iz. hahahha lol
    Good job man, I know you can, it just the matter of time and effort. and yes, I agree, do not run for the result, but the process. Keep fighting, you deserve it!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *