Resolusi

Resolusi

If you fail to plan you plan to fail

Anonymous

Sudah menjadi kebiasaan saya dan mungkin teman-teman sekalian bahwa tahun baru selalu menjadi momentum perubahan melalui resolusi yang dituliskan. Terlepas dari pro kontra tentang perayaannya dalam islam, namun aya memilih tidak terlalu berpusing dengannya karena ada yang jauh lebih penting untuk direncanakan. Ada yang jauh lebih berarti untuk dipersiapkan, dan ada yang jauh lebih berharga untuk dituliskan.

Awal tahun barangkali adalah saat yang tepat untuk merencanakan. Sekalipun kita sadar bahwasanya penentu dan perencana segalah yang akan kita hadapi nantinya adalah Allah, namun bukankah Allah takkan mengubah nasib kaumnya kecuali jika kaum itu berkehendak untuk mengubahnya sendiri? Terkadang bagi beberapa orang terlihat remeh atau sepele karena sudah tentu yang paling penting adalah aksi itu sendiri. Namun bukankah akan lebih baik jika aksi dilandasi dengan sebuah perencanaan yang matang? 

Banyak barangkali kita bahkan saya sempat beranggapan bahwa hidup selayaknya harus mengalir. Laksana air. Fleksibel. Ia akan selalu mengikuti ke mana arus akan bermuara. Namun jangan sampai kita salah memaknainya. Lantas kita tidak usah berusaha karena jika aliran itu adalah kehendak Allah maka sekuat apapun kita berusaha muaranya tetap sama, adalah lautan. Adalah sesuatu yang sudah ditetapkan olehNya. Apakah begitu kita memaknainya?

Mengalirlah laksana air. Namun bukan air yang pasrah. Air yang menghanyutkan. Ia membawa pengaruh bagi sekitarnya. 

Bagi saya kita memang air. Air yang tetap mengalir. Namun ingat bahwasanya air memiliki kekuatan untuk menghanyutkan sekitarnya. Gelombang air pula yang membuat air laut takkan busuk karena terus bergerak, bandingkan dengan air yang kau diamkan di dalam botol selama puluhan tahun, maka akan berbau tak sedap. Maka seperti itulah perumpaan kita jika hanya mengalir, padahal kita memiliki kekutan yang seringkali tidak kita sadari.

Kembali lagi ke resolusi, bahwasanya ia adalah bagian kecil dari ikhtiar kita. Setidaknya kita telah bermimpi, apalagi jika mimpi itu adalah niat kebaikan, bukankah itu sudah tercatat sebagai bagian dari ibadah kepadaNya? 

Menulis resolusi sudah seharusnya tidak susah, namun jauh lebih susah mewujudkannya. Kadang kita menginginkan banyak hal yang akan tercapai walau pada akhirnya hanya beberapa. Apakah kita akan menyesal? Tentu saja mungkin penyesalan itu ada. Tapi percayalah dengan resolusi yang pernah kamu tuliskan, itu berarti kamu telah jauh lebih siap menghadapi kegagalan jika saja itu terjadi. 

Lalu bagaimana dengan pencapaian tahun kemarin? Tak menutup kemungkinan jika pada akhirnya nanti kita menuliskan kembali di tahun selanjutnya. Setidaknya kita masih ingat bahwa ada mimpi yang belum sempat terwujudkan. Setidaknya itu akan menjadi bukti bahwa kita masih bersemangat untuk menggapainya. Jika gagal? Maka kita masih punya harapan untuk melakukannya di tahun depan.

Akhirnya pemaknaan akan resolusi sebenarnya sederhana. Menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya. Bukankah termasuk golongan merugi jika kita tak jauh lebih baik dari sebelumnya? Bahkan bukankah kita tergolong sebagai celaka jika kita malah lebih buruk dari sebelumnya? Semoga kita tidak bosan-bosan untuk merencana menjadi lebih baik. Dan yang terpenting kita dapat melakukannya dengan penuh kesabaran, penuh perjuangan, sekalipun lelah menggema dalam raga, tapi jiwa tetap lillah karenaNya.

Jangan lelah untuk merencana, sebab di situlah titik awal sebuah kebaikan dimulai. Jangan lelah untuk berbaik pada sesama, sebab itulah hujjah yang akan kelak kan kau kata. Jangan bosan tuk berresolusi, sekalipun Allah lah sang Maha Perencana, akan jauh lebih terasa jika kau pun terlibat dalam perencanaanNya. 

Di tengah rehat

Pare, H-11

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *