Perjuangan Hari Ini, Bukan Nanti, Tak Kenal Henti

Perjuangan

Bangkok, Thailand

” Adapun orang-orang yang berjihad (mempersungguh) di dalam urusanKu maka akan Aku ( Allah ) tunjukkan jalanKu pada mereka, sesungguhnya Allah niscaya beserta orang-orang yang berbuat baik”. (QS Al-Ankabut: 69)

Apa yang terjadi jika yang kau perjuangkan ternyata tak menghasilkan? Pernahkan kita merasa hasil yang diraih tak sebanding dengan yang diperjuangkan? Tentu saja kita barangkali sering mengalaminya. Sudah menjadi sunnatullah bahwa keberhasilan selalu berhiaskan kegagalan. Setiap kebaikan yang dilakukan seringkali justru berbalas kejahatan. Bahkan tak jarang setelah perjuangan panjang dalam meraih impian, lantas kandas hanya karena sebuah pengumuman, secari kertas, bahkan se-baris tulisan.

Maka inilah hidup. Bukan hidup namanya tidak berjuang. Maka jika kau setiap pagi terbangun, lantas yang muncul adalah ingatan tentang perjuangan, bersykurlah kepadaNya. Sebab perjuangan hanya boleh berhenti jika ajal telah menjemput. Jika raga telah bersatu bersama tanaha. Jika sukma telah terpisah menuju tempat bermula. Jika belum? Canangkan mulai hari ini juga, bahwa perjuangan kebaikan tentu saja bisa direncanakan. Setiap hari, setiap kau bangun pagi, kala kau bersibuk dalam sujud di sepertiga malammu, ketika ba’da subuh kau berusaha melawan rasa kantukmu untuk sekedar tak kehilangan keberkahan, bahkan kau kuat-kuatkan dirimu melawan dinginnya udara untuk berolah tubuh sesuai sunnahNya.

Ya, begitulah agama kita telah mengajarkan bahwa perjuangan pun dimulai dari pagi buta. Sejak kantuk yang masih mendera harus dilawan untuk sekedar bersujud kepadaNya, bahkan sunnah Rasulullah pun mengajarkan agar kita mandi di pagi buta. Allah pun bersengaja menempatkan ibadah yang baiknya mengalahkan dunia dan seisinya, semata-mata sebagai pemacu agar hamba-hambaNya mau berjuang sejak matahari belum menampakkan sinarnya.

Pun demikian dengan kesalahan dan dosa-dosa yang kita lakukan. Entah mengapa tentu tanpa kita sadari kita pasti pernah melakukannya dalam setiap hari kita. Sebab itulah Allah canangkan agar kita bersujud lima kali sehari, semata-mata agar kita senantiasa mengingatNya. Agar kita senantiasa terhindar dari salah dan alpa, walau tentu saja mustahil kita sebagia manusia biasa takkan pernah luput darinya. Dan tentu saja dengan perjuangan yang tanpa kenal lelah, bahkan berdarah-darah hingga maut memisah, semoga menjadi hujjah di hadapanNya, agar Allah memudahkan kita kelak di yaumul hisab.

Lalu, apakah perjuangan kita sampai di sini saja? Tentu saja mereka lah yang bertahan yang akan mendapat keutamaan. Merekalah yang dalam sejarah bahkan dari jumlah 25 Nabi dan Rasul pun masih terseleksi kembali menjadi 5 utusan Allah yang memiliki kesabaran luar biasa, ialah Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Nabi Muhammad SAW. Dari sekian banyak sahabat Rasulullah, ada 10 orang yang bahkan terjamin masuk surga. Bahkan Rasulullah pun yang telah ma’shum, dijaga dari dosa oleh Allah, dijaminkan surga untuknya, masih menjalani kehidupan dengan penuh cercaan, cobaan, lemparan batu, kesederhanaan, bahkan shalat malam hingga kaki beliau bengkak karena lamanya berdiri membaca ayat-ayatNya. Jika mereka yang telah dijaminkan surgaNya saja masih berjuang hingga nyawa menjadi pertaruhan, lalu bagaimana dengan kita? 

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zhalim.” (QS. Ali Imran: 139-140)

Sebab itulah saya tuliskan judul di atas “Perjuangan Hari Ini”. Bukan esok hari, minggu depan, bahkan tahun depan. Jika saja kita tahu esok masih hidup, tentu saja perjuangan layak untuk ditunda. Tapi bahkan kita tak tahu apakah sedetik ke depan kita masih mampu mengirup udara kehidupan. Pun demikian bahkan jika kita tahu esok masih hidup, bukankah sebaiknya mempercepat dalam perjuangan? Maka bersegeralah dalam kebaikan, sebab kita takkan pernah tahu apa yang akan terjadi.

Bersegeralah melakukan amalan sholih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” (HR. Muslim no. 118)

Untukmu duhai para pemuda, jika masih terbersit kelelahan sebelum berjuang, maka banyakah beristighfarlah kepadaNya. Barangkali ada syetan yang sedang mencoba menggoda. Jika lelah itu datang di tengah perjuangan, maka beristirahatlah dengan mendekat kepadaNya, barangkali lelah itu bukan dari raga, tapi dari jiwa yang kurang tersirami oleh ayat-ayat kauniyahnya. Dan jika lelah itu datang di akhir perjuangan, maka sadarlah. Bahwa hanyalah ajal yang boleh menghentikannya, sebab masih banyak lahan-lahan perjuangan yang belum kau sentuh. Masih banyak peluang kebaikan yang belum kau coba. Cukuplah Allah tempat kau berhenti berjuang, bukan karena hal lainnya.  

Mengawali pagi di sini
Kantor Ternaknesia

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *