Catatan Mukhayyam Al-Quran

Al-Quran

Peserta, Panitia, dan Musyrif Mukhayyam Al-Quran 2017

Jika kamu belum pernah sampai menangis dalam perjuanganmu menghafal Al-Quran, itu berarti perjuanganmu belumlah sungguh-sungguh,

– Ustadz Baidun Makenun, Lc, MHi –

– dan kami pun menangis, karena kami belum pernah menangis dalam perjuangan menghafal Quran – 

Boleh jadi ini tulisan perdana saya semenjak genap 23 tahun akhir januari yang lalu :)) *ceileh, sudah tua ._.*. Ya, semenjak Januari kemarin, terhitung tanggal 24 Januari 2017, saya berpuasa sejenak untuk menulis, sembari berfokus menyeleseikan beberapa berkas-berkas beasiswa. Pun demikian sekarang, kesibukan pun tak jauh beda. Apply sono sini, minta surat rekomendasi, bikin motivation letter / statement of purpose, registrasi website, bikin essay, dan sebagainya. Juga sekedar bantu-bantu di ternaknesia (kalau mau investasi bisa ke sini ya wkkw, *malah promote*). 

Sekitar bulan Februari, saya menerima broadcast, bahwa dari SDM Iptek dan beberapa hunian di sekitar ITS mengadakan agenda ini. Well, sejujurnya saya sempat tidak tahu acara apa, dan menjadi penasaran. Sempat spoiler sedikit-sedikit dari timeline teman-teman di UGM yang sudah pernah mengikuti acara semacam ini. Simpelnya acara ini adalah sebuah “Camp Al-Quran” yang akan melatih kita untuk membangun dan meningkatkan interaksi kita dengan Al-Quran. Ga ada salahnya dicoba, dan terlebih lokasinya di Surabaya, pun juga saat Sabtu dan Minggu yang tentu tidak mengganggu aktivitas kerja saya. Bismillah, singkat cerita, saya pun mendaftar.

When you finally realize about your interaction with Qur’an…

Entah sudah berapa kali air mata saya tertetes dalam agenda kemarin. Beberapa poin masih benar-benar terngiang dalam ingatan ini. Dimulai dengan materi pertama dari Ustadz Saifudin Yahya mengenai bagaimana interaksi para Sahabat dengan Al-Quran pada zaman dahulu. Jika saat ini kita berlomba-lomba menghafalkannya, hafal sedikit setoran, hafal sedikit setoran lagi, maka berbeda dengan generasi terbaik di zaman Rasulullah dahulu. Berdasarkan Abi Abdurrahman as-Sulami, bahwa para sahabat dahulu menghafal maksimal 10 ayat secara talaqqi (diperdengarkan langsung dari Rasulullah), kemudian tidak akan menambah sampai benar-benar memahami makna kandungannya dan mengamalkannya). *Jleb* . Entah tiba-tiba di sini saya merasa tertohok. Maka pantaslah jika generasi sahabat menyandang generasi terbaik, sebab mereka sedikit-sedikit menghafal, benar-benar dipahami hingga merasuk lalu mengamalkannya. Bahkan ada seorang sahabat Rasulullah yang membutuhkan waktu 4 tahun untuk benar-benar menghafal, memahami, dan mengamalkan Surat Al-Baqarah.

Sahabat dahulu senang menawar agar ibadah ditambah, kita malah sebaliknya. Mereka sedikit makan, kalau kita sedikit-sedikit makan. Mereka sedikit tidur, kalau kita sedikit-sedikit tidur. Mereka sedikit bergurau, kalau kita sedikit-sedikit bergurau. Pun demikian tentang amal ibadah. Jika mereka sedikit-sedikit beramal, berkorban, istighfar, shalat malam, maka kita “hanya memakai satu kata sedikit”.

Demikian pula dengan mentadabburi. Seringkali kita merasa seperti “kejar setoran” dengan one day one juz, lalu kita lupa mentadabburi. Setidaknya hanya satu ayat. Padahal berkaca dari para sahabat, pribadi setegas dan sekeras Umar bin Khottob pun menangis sesenggukan ketika membaca Quran. Abdullah bin Syidad berkisah bahwa pernah suatu ketika beliau shalat berada di belakang Umar, dan tangisnya terdengar sampai Shaf ketiga. Lalu pertanyaannya sekarang, sudah seberapa seringkah kita menangis kala Quran dibacakan? 

Kunci Jawaban yang Nyaris Tak Pernah Dihiraukan

Pada materi kedua dan ketiga, setidaknya telah menggali cakrawala pengetahuan saya. Ada banyak rahasia-rahasia Al-Quran yang masih belum tersibak. Materi kedua yang disampaikan oleh Ustadz Ahmad Muzakky Al-Hafidz, berkisah tentang hidup mulia bersama Al-Quran. Ada sebuah kisah menarik yang disampaikan oleh beliau tentang pengalaman pribadinya, dan kisah ini benar-benar nyata.

Kisah ini terjadi sekitar tahun 2015, di mana beliau saat melaksanakan umroh. Beliau bertemu dengan seorang teman lamanya yang telah lama ‘menghilang’ dan ‘memiliki masalah dengan dia’. Ceritanya, sekitar tahun 2005-an beliau pada waktu itu mengajak temannya tersebut Umroh. Sebut saja namanya Abdullah. Nah, Abdullah ini sudah berkata, bahwa ia tak memiliki cukup uang, namun Ust. Muzakky bersedia menambahi kekurangannya. Sayangnya beliau tidak tahu akan ‘niat jahat’ yang terselubung dari Abdullah. Sesampai di Madinah, tidak ada masalah. Kemudian ketika di Makkah, Abdullah tiba-tiba meminta paspornya ke Ust. Muzakky, dengan alasan mau mengunjungi sanak saudaranya. Kemudian selepas itu menghilang. Tidak kembali lagi. Bahkan beliau sempat dipermasalahkan sebagai pemimpin rombongan ini kok kehilangan anggotanya, sempat berurusan dengan kementerian luar negeri, kementerian agama, ditahan polisi di Arab, dan sebagainya.

“Yaa akhi Muzakki,” panggilnya dari Masjidil Haram, saat Ust. Muzakky melintas di sebuah majelis ta’lim. Yang dipanggil bingung. Kok sepertinya pernah kenal, muka ini, tapi bagaimana mungkin ada orang non arab yang mengajar majelis ta’lim di Masjidil Haram. “Ana Abdullah !!!” Seraya dia sambil memeluk sahabatnya tersebut. Kontan saja setelah 10 tahun berpisah, ia sedikit tidak mengenali sahabt lamanya tersebut, dan terkejut begitu ditemuinya telah menjadi salah satu pengajar majelis Ta’lim di Masjdil Haram. “Kamu ini Masya Allah, ke mana saja, kamu ini nyusahin aku 10 tahun yang lalu,”. Abdullah tertawa, seraya mengajak Ust. Muzakky mampir ke rumahnya di Makkah.

Singkat cerita, pasca kabur dari jamaah Umroh, Abdullah bermukim di Masjidil Haram. Apesnya dia tertangkap, dan saat diperiksa paspornya, masa izin VISA nya telah habis. Ketika ditangkap oleh polisi Makkah itulah, barangkali pertolongan Allah datang. Beliau yang merupakan hafidz Al-Quran, ditanya oleh polisi yang menangkapnya. “Bisa baca Quran?”. Jelas saja bisa. Ketika di tes hafalannya, beliau pun juga mampu. Lebih lagi ketika di tanya kemampuannya bahasa arab, dia juga bisa. Maka, polisi tadi menjadi penjaminnya selama di Makkah untuk mengajar anak-anaknya yang bandel-bandel, dan sebelummya tidak pernah cocok dengan guru mengaji manapun. Qadrullah, ternyata anak-anaknya merasa cocok, bahkan prestasi hafalan anak-anaknya melejit. Kemudian, cerita itu tersebar dari mulut ke mulut antar polisi, sehingga Abdullah mengajar anak-anak para polisi. Cerita tersebar, dan singkat cerita karena kesuksesannya mengajar anak-anak polisi, beliau direkomendasikan langsung untuk menjadi pengajar di Masjidil Haram. Syaikh Abdurrahman As-Sudais yang sebagai koordinator Imam Masjidil Haram pun menyetujuinya.

Cerita di atas adalah kisah nyata. Ibrahnya yang dapat diambil adalah bahwa Allah tentu tidak akan membiarkan para penjaga Al-Quran hidup terlantar dan dalam kemiskinan. Allah akan menjaga bagi mereka yang menjaga kitabNya. 

Demikian pula dengan jawaban-jawaban dari segala persoalan. Di materi ketiga, Ustadz Ali Ridho mengajak kami berpikir. Sekaligus merenung. Satu-satunya mukjizat yang bisa diwariskan dibandingkan dengan mukjizat para nabi dan rasul lainnya adalah Al-Quran. Pertanyaannya sekarang, masihkah mukjizat itu terasa efeknya?

Mukjizat, secara bahasa berasal dari kata ‘ajaza yang artinya “Mengalahkan”. Maksudnya tentu saja untuk mengalahkan musuh-musuh Allah. Tongkat Nabi Musa awalnya hanya tongkat biasa, namun atas izin Allah menjadi tongkat yang luar biasa, mampu membelah laut bahkan menjadi ular. Sedangkan Al-Quran, bahwa di tangan para mereka yang memahaminya, maka ia akan menjadi mukjizat. Sedangkan kita, barangkali justru hanya menjadi buku biasa. :'(

Beliau menuturkan bahwa sejarah akan senantiasa berulang. Peristiwa-peristiwa yang terjadi saat ini tentu sudah dilukiskan dalam Al-Quran. Dari sejarah penciptaan bumi, proses penciptaan manusia, dan lain sebagainya. Sayangnya manusia saat ini malas mentadabburi atau mempelajarinya.

Al-Qur’an sebagai Ruh

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. – QS. Asy-Syuro: 52

Materi keempat ini disampaikan oleh Ust. Baidun Makenun, Lc, MHi. Beliau terkenal di kalangan mahasiswa ITS sebagai Imam Masjid Manarul Ilmi. Beliau selain hafidz, juga telah bersanad. Yang beliau tekankan adalah menjadikan Al-Quran sebagai ruh. Entah mengapa kata-kata beliau lah yang membuat saya menangis sesenggukan pasca Shalat Ashar.

Jika kamu belum pernah sampai menangis dalam perjuanganmu menghafal Al-Quran, itu berarti perjuanganmu belumlah sungguh-sungguh,

– Ustadz Baidun Makenun, Lc, MHi –

Entah mengapa dalam materi ini saya menjadi merefleksi perjalanan saya beberapa bulan pasca kampus ini. Murajaah tak istiqomah, hafalan pun tak bertambah-tambah, karena waktu tersita oleh fokusnya mengejar IELTS dan beasiswa. Saya pun menjadi terisak manakalah saya pernah menangis kala scoring IELTS saya tak naik-naik, tapi saya belum pernah menangis manakala hafalan saya tak bertambah-tambah. Tentu saja bukan menyalahakan IELTS, namun tetap saja kesalahan itu pada diri ini. Pada diri yang melupakan bahwa hakikat hidup adalah beribadah kepadaNya. Jika belajar dan menuntut ilmu apapun saja dapat diniatkan sebagai ibadah, bagaimana jika itu adalah Al-Quran? 

Demikian pula dengan perkataan beliau tentang kesibukan. Saya pernah mendengar bahwa saya kita lah yang harus meluangkan waktu untuk Al-Quran, bukan menungu waktu luang. Namun lagi-lagi perkataan beliau kemarin seolah menjadi cambuk bagi diri saya:

“Jika kamu terlalu sibuk akan duniawimu, yang terjadi justru Allah akan menambahi kesibukanmu, hingga engkau luput akan urusan akhiratmu”. Tapi berbeda ketika kamu menyediakan waktu untuk Al-Quran, percaya atau tidak, walau mengurangi waktu duniawimu, Allah pasti akan mencukupkannya. Entah dengan mempermudah urusan duniawimu, atau mempercepatnya – Ust. Baidun Makenun.

Satu hal lagi yang saya catat di sini. Bahwa sudah sunnatullah seorang yang ingin mengekalkan hafalannya maka ia harus memurajaahnya setiap hari. Ust. Makenun bercerita bahwa dahulu ketika menghafal Quran, bayangkan, karena pada dasarnya beliau bukan merupakan orang cerdas, dalam sehari satu malam saja beliau hanya mendapat setengah halaman. Itu pun masih terbata-bata dan belum lancar kala pagi harinya setoran. Dan beliau baru bisa benar-benar menyeleseikan hafalannya setelah 4 tahun, itu pun juga masih sedikit terbata-bata.

Materi terakhir, disampaikan Ustadz Umar Al-Faruq Abu Bakar. Materi ini lebih ke penguatan dan tips-tips meningkatkan hafalan. Beliau menceritakan beberapa tokoh-tokoh perjuangan, salah satunya adalah Syaikh Ahmad Yasin, ulama’ besar asal palestina yang berfisik cacat, tak bisa menggerakkan tangan dan kakinya. Namun dari pemikiran beliau lah lahir para tentara-tentara tangguh Palestina yang bahkan sampai sekarang tak bisa di habisi oleh pasukan zionis laknatullah.

Dalam cerita salah seorang anaknya, bahwa beliau dalam sehari bertilawah 5 – 8 juz. Yang membantunya untuk membuka halaman demi halaman adalah anaknya, karena beliau cacat. Pernah suatu hari karena kelelahan, putranya tersebut ketiduran. Saat terbangun, yang putranya lihat adalah Syekh Yasin masih berlanjut, namun membalik halaman demi halaman Al-Quran dengan lidahnya. Maka menangislah putranya tersebut melihat kegigihan dan tekad Syaikh Yasin untuk dapat bertilawah Al-Quran.

Terkait tips, Ustadz Umar memebrikan beebrapa saran. Tentu saja yang pertama harus menghindari dosa semaksimal mungkin, sebab menghafal Quran tentu harus dalam kondisi pikiran yang bersih. Kemudian seperti biasa membuat target, dan kita punya media untuk me-recharge kita di kala sedang futur.

Kemudian terkait setoran, seringkali kita (termasuk saya) kadang nih, dag dig dug di depan ustadz/ustadzah nya sehingga justru malah hafalan kita terlupa. Tipsnya adalah sebelum setoran, kita Shalat Sunnah dulu. Kemudian kita baca ayat yang mau kita setorkan. Atau mungkin bisa setor ke teman dulu untuk latihan, bahkan dulu Ustadz Umar pun menulisnya terlebih dahulu ayatnya.

Terkait murajaah, beliau memberikan tips yang cukup menarik, sebab cara terbaik memurajaah justru ketika Shalat. Selain pahalanya dilipatgandakan 100x per hurufnya, pun saat Tahajjud dan Shalat Lima Waktu adalah waktu terbaik untuk memurajaah hafalan. Sebab biasanya justru lebih menancap. Terakhir adalah sebelum tidur, kita memurajaahnya. Selain tentu dalam keadaan sudah bersuci, long – term memory kita lebih cenderung aktif saat itu, dan tentu agar diharapkan akan terbawa mimpi.

Sesi terakhir, saat penutupan, Ustadz Ali Ridho, selaku perwakilan dari Ar-Rahmah memberikan taujih. Bahwasanya kelak di hari kiamat ada dua hal yang dapat memberi syafaat. Al-Quran. Sebab, ketika nanti hari kiamat, maka Al-Quran akan bersaksi kepada Allah, bahwa para penghafal Quran seringkali kehilangan waktu malam-nya untuk menghafal. Yang kedua adalah Puasa. Ia bersaksi bahwa orang-orang yang berpuasa seringkali kehilangan kesempatan untuk makan di waktu siang, maka ia siap menjadi syafaat bagi orang yang berpuasa. Dan kedua hal itulah yang menurut Ust. Ali Ridha, layak untuk diperjuangkan dan dikombinasikan.

Refleksi Diri

Pada sebuah proses perjuangan adakalanya kita berhenti sejenak. Me-recharge diri agar lebih semangat lagi. Berkumpul bersama orang-orang baik agar kita senantiasa dapat menjaga izzah dalam hati. Mukhayyam Al-Qur’an seolah telah menjadi titik peristirahatan saya untuk mendekat kepadaNya pasca kampus setelah tidak lagi di asrama Rumah Kepemimpinan, dan berfokus mengejar bahasa inggris.

Seringkali kita mengharap pertolongan dari Allah. Kita berdoa, namun lebih kepada meminta. Padahal dalam salah satu adab dalam berdoa adalah didahului dengan memuji Allah, baru kita memohon kepadaNya terkait apa yang kita hajatkan. Apalagi jika dikolaborasikan dengan tilawah, maka akan semakin dahsyatlah perjuangan dan doa kita.

Saya menjadi teringat, akan sebuah hadis Rasulullah yang berbunyi:

يجيء القرآن يوم القيامة كالرجل الشاحب يقول لصاحبه : هل تعرفني ؟ أنا الذي كنتُ أُسهر ليلك وأظمئ هواجرك… ويوضع على رأسه تاج الوقار ، ويُكسى والداه حلَّتين لا تقوم لهما الدنيا وما فيها ، فيقولان : يا رب أنى لنا هذا ؟ فيقال لهما : بتعليم ولدكما القرآن

Al-Quran akan datang pada hari kiamat seperti orang yang wajahnya cerah. Lalu bertanya kepada penghafalnya, “Kamu mengenalku? Akulah membuatmu bergadangan tidak tidur di malam hari, yang membuatmu kehausan di siang harimu… ” kemudian diletakkan mahkota kehormatan di kepalanya, dan kedua orang tuanya diberi pakaian indah yang tidak bisa dinilai dengan dunia seisinya. Lalu orang tuanya menanyakan, “Ya Allah, dari mana kami bisa diberi pakaian seperti ini?” kemudian dijawab, “Karena anakmu belajar al-Quran.” (HR. Thabrani dalam al-Ausath 6/51, dan dishahihkan al-Albani).

Ya, kemuliaan para penghafal Quran adalah kelak orang tuanya akan diberikan mahkota kehormatan dan pakaian indah di hari kiamat. Maka kita, sebagai anak yang baik, tidakkah ingin kelak di hari kiamat memberikannya kepada orang tua kita? Barangkali itu yang bisa membalas jasa-jasa mereka. Barangkali pula itu yang setara dengan rasa sakit ibunda kita kala mengandung, melahirkan, dan menyapih kita. Bahkan mungkin itu yang sebanding dengan tetes keringat ayah yang bekerja keras tuk menafkahi kita.

Allahuma adkhulna jannata ma’al Quran

Allah, jadikanlah kami masuk surga bersama Al-Qur’an

NB : Kalau berminat materi kemarin, bisa di download di sini: http://bit.ly/2mZoxWu

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *