Resensi Buku: Curse To Blessing

Curse to Blessing

Curse to Blessing

Tidak ada kabupaten yang miskin. Yang ada hanyalah kabupaten yang salah urus – Kang Yoto

Akhirnya keinginan nulis saya kembali hadir. Setelah sekian lama tak meng-update blog ini karena entah dalam beberapa minggu ini saya lebih suka menulis dan melanjutkan novel saya (yang semoga segera selesai ._.). Well, kali ini saya akan berbagi sejenak tentang salah satu buku dari penulis favorit saya, Pak Rhenald Kasali : Curse To Blessing. Transformasi Bojonegoro Melawan Kutukan Alam.

Saking penasarannya, buku ini saya selesaikan sekitar 2 hari semalam saja. Ya, salah satu titik poin yang saya suka dari Pak Rhenald adalah bahasa yang digunakan membumi, membakar semangat, disertai teori-teori praktisi manajemen namun entah mengapa ringan dan mudah dipahami. Secara garis besar buku ini membahas tentang kesuksesan Bupati Bojonegoro, Bapak Suyoto dalam mentransformasikan Bojonegoro yang sebelumnya mendapat julukan daerah termiskin dan paling terbelakang di Pulau Jawa dan menjadi Bojonegoro yang berkembang dan luar biasa saat ini.

Kutukan Alam Bojonegoro

Sebagaimana yang dituliskan dalam buku, bahwa masalah Bojonegoro begitu kompleks dan seakan memang daerah ini ditakdirkan untuk menjadi miskin. Ia bahkan pernah disebut sebagai a story of Endemic Poverty in Indonesia oleh DR. C.L.M. Penders pada tahun 1900-1942.  Mari kita mulai dari alam. Kota ini tak pernah bersahabat dengan air. Ketika musim hujan, pasti banjir. Ketika berganti musim kemarau, pasti kekeringan. Berdasarkan topografi, wilayah Bojonegoro bagian utara lebih rendah daripada wilayah selatan, sehingga aliran sungai ketika musim hujan akan mengalir ke arah utara. Dampaknya air pun menyebabkan banjir, dan otomatis tanahnya tak lagi subur karena banjir selalu melarutkan unsur hara.

Berlanjut ke musim kemarau, sebanyak 19.42 persen wilayahnya merupakan jenis tanah kering. Tanahnya tanah aluvial, yang mana sulit meresap air. Sehingga ketika musim hujan, air akan langsung mengalir ke Bengawan Solo dan hanya sedikit yang tertampung dalam tanah, otomatis saat musim kemarau pun mereka mengalami kekeringan karena sedikitnya cadangan air dalam tanah.

Pribadi Masyarakat Bojonegoro

Menilik catatan sejarah masa kerajaan, Bojonegoro pernah menjadi tempat singah prajurit perang Aru Palaka, Raja Bone yang ikut berperang melawan Sultan Trunojoyo. Prajurit yang akhirnnya berbaur dengan masyarakat pun akhirnya mereka menurunkan watak pendendam dan mudah emosi pada penduduk Bojonegoro (Laporan Residen Rembang W.G. Frankel dalam Memorie van Overgave Potret Hindia Belanda dalam Ingatan Residen Rembang 1905 – 1936).

Paraodox of Plenty: Penemuan Minyak

Sejarah kelam Bojonegoro mulai berubah pada 2001 sejak penemuan lapangan minyak Banyuurip dan menjadi proyek pertama yang dikerjakan oleh kerja sama di Blok Cepu antara Mobil Cepu Ltd, Ampolex, dan Pertamina EP Cepu. Sejak saat itulah perekonomian mulai berubah. Di sinilah peran strategis pemerintah untuk menginvestasikan dana jangka panjang. Yang perlu dipahami, bahwa sumur minyak bersifat sementara dan akan ada masanya pada waktunya akan habis. Banyak cerita kelam tentang kota minyak di Indonesia yang pada akhirnya kota yang asalnya maju ketika puncak produksi berjalan, saat volume produksi menurun dan mulai habis, maka kota itu menjadi kota mati. Bahkan Pak Rhenald secara gamblang bahwa sebuah daerah yang ditemukan cadangan SDA di wilayahnya akan mengalami apa yang dinamakan “Kutukan SDA”. Sudah banyak contoh nyata seperti Kota Lhokseumawe di Aceh, Sangasana di Kalimatantan Timur yang menjadi sumber minyak. Namun kini keduanya kembali menjadi seperti dahulu lagi, sebab pemerintahnya tak memiliki rencana strategis jangka panjang. Sebab cadangan itu telah habis.

Kisah kelam itulah yang menjadi pelajaran bagi Kang Yoto. Beliau melakukan investasijangka panjang. Muali dari kawasan agrowisata, membuat trademark Bojonegoro melalui batik Bojonegoro, serta industri kreatif lainnya. Pun demikian dengan pembangunan SDM-nya. Berbagai macam training diadakan dengan target 12.000 pelatihan per tahun. Hal itu merupakan implementasi dari program Kang Yoto, yaitu enam pilar pembangunan yang meliputi ekonimi, lingkungan hidup, modal sosial, fiskal berkelanjutan, clean governance, dan kepemimpinan transformatif.

Anugrah yang Harus Tetap Diperjuangkan

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupmu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
– Koes Ploes, Kolam Susu – 

Petikan lagu di atas menunjukkan betapa makmurnya negeri kita, Indonesia. Konsepsi inilah yang justru acapkali sering diajarkan sejak masa kecil kita. Kehidupan yang nyaman karena dari sebuah anugerah, bukan dari usaha yang berdarah-darah. Sehingga konsep menikmati anugrah justru sangat gampang sekali ditemui di Indonesia, ambil saja contoh bahwa masyarakat Indonesia memiliki budaya konsumtif yang sangat tinggi. Mereka menganggap bahwa mereka adalah gifted society. Atau lebih kerasnya, sebenarnya adalah “Illusion of Gift”. Sehingga kita seolah menjadi lupa bahwa kita memiliki pekerjaan rumah untuk mengolah sumber daya di Indonesia.

Jer Karta Raharja Mawa Karya, itulah semboyan yang dimiliki Bojonegoro. Artinya, barang siapa yang hendak maju dan berjaya maka menysaratkan sebuah karya. Semboyan inilah yang berkonsep perjuangan. Kang Yoto pun berusaha meresapinya dan bahkan mengimplementasikannya dalam pemerintahannya. Dialog Jumat, salah satu programnya adalah salah satu langkah mendekatkan diri dengan masyarakat. Suasana kantor pemerintahan yang dulunya terasa kelas akan pemerintah dan rakyat, kini berubah menjadi seolah tanpa batas. Jalanan Bojonegoro kini pun diubah menjadi paving, untuk menghadapi kontur tanah yang bergerak. Aliran Bengawan Solo yang dulunya merupakan hantu bagi warga Bojonegoro, kini seakan justru menjadi “teman”. Ya, dengan adanya sistem irigasi yang baik, serta adanya waduk, membuat sistem DAS Bengawan Solo menjadi lebih terkendali. Memang banjir tak kunjung hilang, karena debit air dari daerah lain selalu melebihi daya tampung DAS Bengawan Solo. Namun lihatlah, bagaiman Badan Penanggulangan Bencana Daerah sudah memiliki sistem early warning system seperti ini :

Curse To Blessing

Saat kemarau, bojonegoro yang dulunya mengalami kekeringan kini bisa mulai dikurangi dengan pembangunan 1000 embung, yaitu penampungan air. Walaupun pada awalnya banyak rakyat yang tak setuju tanahnya dijadikan embung, dan belum mencapai 1000, namun ratusan embung yang ada sudah mulai menunjukkan sebagai penampung air.

Pun demikian, tidak hanya alamnya. Namun Kang Yoto menyadari bahwa perlu perubahan mindset dan itu tidak mungkin secara instan. Beliau menekankan bahwa secara sejarah, terbentuknya Bojonegoro merupakan daerah konflik antara Pajang, Mataram, dan Demak. Sehingga mental penduduknya menjadi curiga satu sama lain. Inilah yang berusaha beliau ubah agar menjadi mental yang konstruktif. Beliau bahkan menggubah lagu ciptaannya sendiri yang kini menjadi lagu wajib Bojonegoro, “Bojonegoro Matoh”.

Bojonegoro tempat ku bermimpi
Wujudkan masa depan nan jaya
Makmur damai sejahtera
Hijau indah asri tampak dimata

Tunas-tunas muda tumbuh subur
dan semangat selalu lahir trobosan
dalam semua lirih kehidupan
Saling mencinta senafas dan sejiwa

Tanah kerap hujan dan banjir
Kering waktu kemarau
Kekurangan keterbatasan
Cambuk untuk berkarya jaya

Bojonegoro semangat berbenah
Bojonegoro tak henti berkarya
Bojonegoro semua pasti suka
Bojonegoro matoh.

Melalui lagu inilah Kang Yoto berusaha mengajarkan konsep perjuangan dan cinta daerah pada kelebihan dan kekurangannya pada masyarakat. Betapa konsep “kekurangan” seperti tanah yang kerap banjir, serta kekeringan, menjadi lirik yang ditanamkan ke benak. Menggambarkan bahwa tanah ini bukanlah tanah yang akan dipuja sepanjang masa yang merupakan konsep anugrah. Lagu ini pun ditutup dengan semangat bahwa walaupun ada kekurangan yang sudah dikenali, justru di sinilah menjadi cambuk untuk berkarya.

Transformasi Birokrat Bojonegoro

Prinisip good and clean governance menjadikan pemerintah Bojonegoro kini mendapat kepercayaan dari rakyatnya. Dari prinsip itulah Kang Yoto merumuskan 4D: Direct, Dialog, Distribute, dan Digital. Hal itu diawali beliau ketika pada awalnya memenangi pilkada memenangi petahana. Tentu saja tidak mudah karena birokrat lama kebanyakan adalah pendukung incumbent. Tentu saja ia langsung dianggap sebagai seorang musuh. Namun disinilah kebijaksanaan beliau. Beliau memaafkan semua birokrat yang tak mendunkungnya, dan sebelum dilantik, Kang Yoto mengumpulkan mereka. Beliau memaafkan lantas memberikan Pakta Integritas agar bekerja penuh untuk rakyat.

Beliau merangkul semuanya, dan mengajak mengalahkan kepentingan ego demi rakyat. Budaya baru pun ditanamkan oleh beliau. Mereka yang bekerja di pemda pantang mengatakan sesuatu bukan tanggungjawabnya, pantang mengatakan tidak ada uang, pantang mengeluh, dan berusaha menjadi orang yang baik dan benar, dan tidak korup. Prinsip good and clean government tadi juga diwujudkan melalui Dialog Jumat. Sehigga kini orang tak lagi segan datang ke Pendopo Malopowati seperti dahulu, karena bupatinya dahulu dominan dan instruktif dengan gaya otoriter. Sementara Kang Yoto dengan gayanya yang terbuka serta egaliter, membuat orang lebih leluasa mengungkapkan pendapatnya.

Kunci politik itu adalah kepercayaan. Biala seorang politisi dipercaya, maka semakin murah biaya politiknya. Namun bila kepercayaan rakyat rendah, akan semakin mahal biayanya. – Kang Yoto

Transformasi lain yang dilakukan adalah masalah kecepatan. Speed merupakan sebuah indikator yang sangat penting untuk variabel reliabilitas sebuah layanan. Apalagi kita berada di zaman yang ketika kecepatan diharagai lebih, agar tidak tertindas perubahan zaman. Hal itu diwujudkan melalui management review yang dilakukan secara rutin oleh pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Setiap jumat, unit-unit pemerintah daerah memperesentasikan hasil kinerjanya.

Validitasnya dilakukan salah satunya melalui teknologi LAPOR!. Beliau sangat fair dalam menilai tiap-tiap dinas. Pun demikian nomor pribadi Kang Yoto juga terkoneksi dengan aplikasi tersebut, dan bahkan nomornya disebarkan ke masyarakat, sehingga keluhan-keluhan yang ada dapat dikonfirmasi secara cepat dan tepat. Selain melalui aplikasi tersebut, Kang Yoto juga menerima keluhan dari masyarakat yang ia peroleh dari akun Twitter miliknya. Sehingga arus informasi inilah yang menjadikan keluhan tak lagi menumpuk, namun dapat terselesaikan dengan cepat.

Long Term Thinking

Kembali ke penemuan sumber minyak di wilayah cepu yang mayoritas berada di Bojonegoro, seakan menjadi anugrah yang mencambuk pola pikir masyarakat Bojonegoro. Masyarakat yang awalnya sudah mulai biasa pada konsep pemikiran, kini kembali memikirkan konsep anugrah. Namun di sinilah peran strategis pemerintah untuk mentransformasikan kembali mindset masyarakat ke arah perjuangan. Dana dari hasil sumber minyak tersebut digunakan sebagai dana abadi untuk pendidikan.

Pejabat pemda pun tak lepas dari sasaran edukasinya. Mereka dilatih dengan kerja sama Universitas Gadjah Mada melalui Program Peningkatan Kapasitas Pemerintahan Desa di Kabupaten Bojonegoro. Mereka diajari bagaimana menerapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa, serta Rencana Kerja Pembagunan Desa. Selain itu juga diajarkan bagaimana mengelola anggaran pembangunannya. Pelatihan dan pendampingan tersebut dilakukan selama setahun lebih. Sebagai pemimpin, Kang Yoto tidak membiarkan birokratnya bodoh, namun diajak duduk bersama dan berdiskusi agar mereka merasa dianggap dan dihargai.

Kemudian untuk rakyatnya, beliau membuat Gerakan Ayo Sekolah, Anti Dropout, dan Program Kelompok Belajar (Kejar). Bagi anak-anak SMK juga pemerintah menyediakan beasiswa sekolah keluar negeri bagi mereka yang berprestasi. Bahkan Kang Yoto memberikan beasiswa hingga mencapai 2 juta per anak sekolah. Mengusung semangat “no one left behind”, Kang Yoto dan seluruh timnya juga melakukan pelatihan tenaga kerja baik vokasional maupun profesional, untuk meningkatkan keterampilan masyarakat Bojonegoro. Beliau percaya lebih baik memberikan kail daripada ikan, maka dengan pelatihan keterampilan, penduduk Bojonegoro dapat memiliki peluang untuk mencari penghasilan yang berkelanjutan.

Pun demikian dengan CSR – CSR perusahaan penambang gas di Bojonegoro, melalui mekanisme dan regulasi dari Pemerintah Bojonegoro, mereka wajib menggunakan dananya ke arah pembangunan SDM berupa pelatihan-pelatihan yang akan berdampak jangka panjang. Dari situlah, kolaborasi pemerintah daerah dan pihak swasta dibangun untuk memajukan bersama masyarakatnya.

Blessing to Disguise : Berkah dari Banjir

Berlanjut dari poster Selamat Datang Banjir, berawal dari ajakan Kang Yoto kepada penduduknya untuk tidak membenci banjir. Namun menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan, dan berupaya menemukan berkah dari banjir. Hingga akhirnya muncul ide budi daya belimbing. Buah ini dapat tumbuh di tanah yang langganan banjir. Hingga akhirnya saat ini, lahan banjir yang dulunya tidka produktif berubah menjadi kawasan agrowisata belimbing.

Pun demikian beliau melakukan antisipasi seandainya belimbing itu gagal dimanfaatkan dalam bentuk buah, maka beliau mempersiapkan juga olahan produknya. Masyarakat dilatih memproduksi jus belimbing, selai, dan makanan olahnya. Beliau juga merencanakan pengembangan ke arah jambu merah, lengkeng, dan sawo.

Keypoint : Universal Truth

Penjabaran panjang saya di atas, pada dasarnya bahwa Kang Yoto berhasil membawa dan menanamkan kepada rakyatnya apa yang dinamakan Universal Truth.  Maknanya adalah pengakuan benar pada sebuah perkataan atau perbuatan, siapa pun yang mengatakannya. Hal inilah yang dilakukan dan menjadi senjata Kang Yoto dalam melakukan lobi-lobi yang penting.

Sedari awal, pemerintahan Kang Yoto sudah mengambil masalah yang dihadapi masyarakat Bojonegoro berupa jalan rusak, persepsi pemerintahan yang korup, banjir, dan kekeringan. Ketika seorang kepala daerah memfokuskan kinerjanya pada permasalahan yang semua orang menyadari bahwa masalah itu adalah masalah utama, maka siapa yang akan menentangnya? Hal inilah yang disebut dengan Universal Truth.

Universal Truth inilah yang akan membantu setiap orang ketika bukan bagian dari orang kebanyakan. Seperti halnya Kang Yoto. Beliau bahkan seorang Muhammadiyah yang mampu memimpin Bojonegoro yang mayoritas Nahdliyin. Hal inilah yang menjadi alat yang ampuh karena melewati batas0batas seperti golongan, pengelompokan latar belakang, dan bahkan agama.

Berikutnya adalah Source of Power. Sejatinya sumber kekuatan dalam pemerintahan adalah rakyat itu sendiri. Contohnya KPK yang selalu dilindungi oleh publik dari upaya pelemahan dan selalu mendapat dukungan saat menjalankan fungsinya. Kang Yoto pun mendapat kepercayaan dari masyarakatnya karena program yang dijalankan memenuhi janji kampanye. Pribadi beliau yang suka menjelajah Bojonegoro, suka nge-trail, suka berbaur dengan masyarakat walaupun masa kampanye masih jauh,

Namun dibalik dua hal yang paling penting itulah, sebenarnya adalah Integritas. Solusi dari segala permasalahan yang ada. Ketika masalah itu sudah jelas dan clear, lalu bagaimana solusinya? Demikian pula dengan adanya power sharing yang dilakukan Kang Yoto. Misal ketika ada acara besar, dan Ketua DPRD datang, dia juga diberikan ruang untuk bicara dengan masyarakat. Hal itulah yang menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus mau berbagi dengan mitranya. Tidak haus kekuasaan dan bisa diajak kompromi. Sehingga dalam urusan lainnya ia bisa menjadi dinamis dan terbuka.

Epilog

Keberhasilan Kang Yoto memimpin Bojonegoro, pada akhirnya harus ada yang melanjutkan. Ya, 2018 nanti, telah usailah pemerintahan 10 tahun Kang Yoto di Bojonegoro. Tentu saja yang menjadi pertanyaan akankah yang melanjutkan memiliki kompetensi yang minimal sama dengan Kang Yoto. Hal ini tentu menjadi cut off sekaligus tantangan bahkan bisa saja ancaman. Namun dengan kegemilangan Kang Yoto saat ini, dengan rakyat sebagai source of power, setidaknya para calon penerus sudah mengetahui.  Bagaimana menjadi seorang pemimpin yang diharapkan oleh masyarakat Bojonegoro.

Sedikit ulasan saya di atas masih banyak yang belum lengkap. Misalnya bagaimana Kang Yoto mengatasi keberagaman umat beragama, membangun kerjasama dengan korporasi besar, dan lain sebagainya. Tentu saja dapat kalian temukan di buku tersebut jika membacanya. Semoga bermanfaat 🙂

Sekretariat Ternaknesia

Setelah lama ga nulis, dan memaksakan diri untuk nulis lagi

8 April 2017

14.46

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *