Ramadhan38 #1: Memulai dengan Refleksi

Refleksi

Awali qiyamu lail-mu tiap hari dengan Shalat Taubat. Sebab semoga itu akan menjadi pengampun akan dosa-dosamu. Bukankah dosa adalah salah satu penghalang doa? Jangan sampai doamu di sepertiga malam terakhir tak sampai, padahal waktunya mustajabah, tersebab dosamu yang belum terampuni olehNya.
– Ustadz Nasikin, dalam Muhasabah SKI SMAN 3 Malang 2010

Awal ramadhan, begitu banyak permintaan maaf bertebaran. Seakan sudah hari lebaran. Padahal bukan. Ini baru awalan kita membakar segala dosa dengan seluruh amal kebaikan yang kita rencanakan. Bulan ini bulan suci, maka tak heran setiap orang berupaya mensucikan diri. Pemanasannya bahkan sejak bulan Rajab, yang termasuk salah satu bulan haram. Kita dianjurkan untuk banyak beribadah, dan salah satunya tentu saja dengan berpuasa. Demikian pula dengan bulan sya’ban.

Belum pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Sya’ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Penjelasan saya di atas terkait “pemansan” yang telah dibangun sejak Bulan Rajab, kaitannya masih dengan hablumminallah. Hubungan kita kepada Allah. Lalu bagaimana dengan Hablumminannaas? Tentu saja dengan meminta maaf atas segala kesalahan. Maka dari itulah banyak permohonan maaf diucapkan, bahkan jauh sebelum lebaran. Semata-mata kita ingin memasuki ramadhan dengan keadaan sesuci mungkin.

Mengawali ramadhan ini, bagi saya cara terbaik adalah merefleksi diri. Memusabahi akan dosa-dosa setahun terakhir. Akankah ramadhan ini kita mampu menebusnya? Sebab dosa – dosa itulah yang barangkali menjadi cambuk diri kala nanti di tengah ramadhan semangat beramal yaumi mulai kendur. Sebab bisa saja ini Ramadhan terakhir dalam hidup ini. Maka bersyukurlah jika hingga hari ini, detik ini, kita masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk menghirup udara segar Ramadhan.

Hari ini adalah awal Ramadhan. Awal segala perjuangan. Menaklukkan hawa nafsu. Memperbanyak amal ibadah kepadaNya. Berbagi terhadap sesama. Merencanakan berburu lailatul qadar. Semoga refleksi di awal akan menjadikan diri ini sadar, bahwa sebagaimanapun kerasnya kita beribadah selama Ramadhan, belum tentu akan mampu menebus dosa-dosa kita setahun terakhir. Lantas? Apakah kita akan berpesimis? Tentu saja Tidak.  Kita sudah seyogianya yakin bahwa rahmat dan ampunan Allah jauh lebih luas daripada segala dosa kita. Yang bisa kita lakukan hanyalah memperjuangkan kebaikan di bulan Ramadhan. Agar 30 hari lagi, kita bisa benar-benar memasuk hari kemenangan sebagai seorang pemenang.

Selamat memusabahi dosa-dosa setahun terakhir. Menangislah hingga air matamu habis terkuras, sebab sekalipun habis belum tentu dosamu terkikis. Beristighfarlah sebanyak yang kau mau, sebab ampunan Allah pasti kan datang kepadamu. Raih 10 hari pertama yang penuh rahmat dengan “gas pol”, sebab tak ada yang tahu kapan Allah mengerem-nya dengan mencabut izin hidupmu.

1 Ramadhan 1438 H
Surabaya

Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian #30daysramadhanwriting selama bulan Ramadhan 1438 H. Insya Allah akan terpublish setiap hari pukul 05.05 WIB. Untuk membaca tulisan lain dalam project ini. Ini adalah tahun kedua saya melakukannya, setelah tahun lalu mencoba memulainya. Semoga istiqomah 🙂 

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *