Ramadhan #2 : Nafas Panjang Kebaikan

Nafas Panjang

Nafas Panjang sesungguhnya harus tertuang dalam visi hidupmu. Yang mampu menjaganya adalah kamu. Tentu atas izin dan kekuatan dariNya. Tersebab itulah kita haruslah terus bergerak atas dasar mengharap ridhaNya, bukan karena yang lainnya.

Setiap manusia diciptakan olehNya sebagai seorang khalifah. Sekalipun dahulu sempat mendapat pertentangan dari Malaikat, tentang kerusakan yang akan ditimbulkan, namun itu telah menjadi ketetapannya. Bahkan tertuang dalam firmanNya.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”.” (QS Al Baqarah : 30)

Ada benarnya memang perkiraan para malaikat bahwa manusia memang ada yang membuat kerusakan. Ada pula pembunuhan, dan kejahatan-kejahatan lainnya yang seakan hampir selalu menjadi headline pemberitaan. Namun tentu saja tidak semua manusia membuat kerusakan. Masih banyak yang berpegang teguh kepada kebaikan. Walau tak sedikit yang tersengal-sengal menghadapi mafia-mafia keburukan, banyak yang akhirnya terseret, pun tak sedikit yang masih bertahan. Mereka yang bertahan adalah mereka yang memiliki visi. Ya ! Di sinilah visi besar seorang hamba Allah dipertaruhkan untuk kebertahanan kebaikan. Di sinilah nafas panjang yang dimaksud perlu dipertahankan. 

Visi itulah yang mampu membuat Nabi Muhammad SAW menuntaskan dakwahnya selama 22 tahun 2 bulan 2 hari. Menjadi penyempurna sekaligus penutup dari seluruh Nabi dan Rasul yang diturunkan oleh Allah SWT ke bumi. Visi ketauhidan, bahkan telah ditanamkan sejak pertama kali Nabi Adam diciptakan kala Allah mengajarkannya nama-nama benda. Diujikan manakala Allah menurunkannya ke bumi karena kesalahan Adam dan Hawa. Serta diujikan kembali kepada generasi penerusnya, Qabil dan Habil.

Saya menjadi ingat materi Kajian Islam Kontemporer saat di asrama Rumah Kepemimpinan dahulu. Bahwa kepemimpinan profetik dalam islam, sesungguhnya memiliki tiga misi besar yang menjadi dasar agar nafas panjang ini dapat diteruskan. Hal ini diungkapkan oleh Almarhum Bapak Kontowijoyo, dalam dimensi sosial profetik.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” – (QS. Ali Imran 110)

Ada tiga poin penting dalam firman Allah tersebut. Yang pertama ta’muruuna bil ma’ruf. Beramal kebaikan. Dalam artian karena dengan kebaikan itulah kita bisa memanusiakan manusia atau bisa disebut dengan Humanisasi. Tentu saja di sini memanusiakan manusia dalam konteks keislaman. Benar-benar memperlakukan manusia selayaknya manusia untuk mencapai keadaan fitrah. Namun di sinilah perbedaan islam yang bertuhankan Allah SAW. Tentu saja humanisme yang ditawarkan bukan menjadikan manusia sebagai pusat dari segala hal. Sebab dalam firman Allah tersebut, yang menjadi ujungnya adalah iman kepada Allah, bermakna bahwa kita memanusiakan sesama tentu saja atas ridha Allah, atas dasar ibadah kita kepada Allah, bukan malah meniadakan peran ketuhanan itu sendiri.

Kedua adalah tanhauna ‘anil munkar. Mencegah kemungkaran. Beliau menyebutnya liberasi, yaitu pembebasan. Mengapa bermakna dibebaskan? Karena sejatinya ketika manusia berbuat keburukan, ia sedang terperangkap. Maka di sinilah peran agama untuk membebaskan mereka untuk kembali ke jalan Allah. Tentu saja di sini bukan liberasi yang lagi-lagi seperti ditanamkan Karl Marx yang dalam ideologinya menuntut kesetaraaan bahkan menjurus ke arah komunisme. Kunto menawarkan Liberasi dalam empat sistem, yaitu: sistem pengetahuan, sistem sosial, sisten ekonomi dan sistem politik yang membelenggu manusia sehingga ia dapat mengktualisasikannya dirinya sebagai mahluk yang merdeka dan mulia. Liberasi dari sistem pengetahuan manusia yang matrialistik dan dominasi struktur. Kesadaran dari Marxisme adalah kesadaran kelas, kesadaran deterministik atau materi. Bagi Kunto kesadaran menentukan basis materi. Liberasi dalam konteks ekonomi adalah menjembatani anatar yang kaya dengan yang miskin agar tidak terjadi ketimpangan yang jauh. Liberasi ekonomi memiliki tujuan terciptanya ekonomi yang berkeadilan berpihak pada kaum miskin. Dalam hal ekonomi setidaknya ada dalam QS Al-Hasyr (59): 7 yang menyebutkan:”Supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu”. Liberasi dalam konteks politik membebaskan sistem politik dari diktator. Hal tersebut menjadikan demokrasi dan HAM yang terciptannya masyarakat yang berkeadilan.

Ketiga, dan yang paling penting adalah tu’minuuna billah. Beriman kepada Allah. Kunto membahasakannya dengan Transendesi, yang artinya naik ke atas. Gagasan transendensi ini menjiwai seluruh proses humanisasi dan liberasi. Proses memanusikan manusia dan melakukan proses pembebasan merupakan sarana untuk kembali pada Tuhan. Tujuan akhir dari proses liberasi dan humanisasi adalah Tuhan. Ya, sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran bahwa :

“Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku” (Q.S adz-Dzaariyaat ayat 56)

Di sinilah titik poin perbedaan terhadap pemaknaan nafas panjang yang digaung-gaungkan oleh barat. Bahwa nafas ini sesungguhnya berasal dari Allah. Manusia bisa bernafas tentu saja karena izinNya. Kenikmatan terkecil yang senantiasa harus kita syukuri kala bangun tidur. Jika barat dan proses modernisasi mereka seringkali menafikan ketuhanan, bahkan bercorak sekulerisme untuk memisahkan antara urusan dunia dengan ketuhanan (mempersempit dimensi agama hanya dalam ibadah mahdah saja), maka islam, dengan sifatnya yang syumul (menyeluruh) menegaskan bahwa segala rangkaian aktivitas keduniaan semata-mata untuk beribadah kepadaNya. Mulai bekerja, belajar, hingga hal-hal sederhana seperti mandi, cukur rambut, semuanya pun dilakukan atas dasar bakti seorang hamba kepada Allah semata.

Lalu sekarang muncul pertanyaan nih, bagaimana keterkaitan antara nafas panjang dengan konteks kehidupan saat ini? Saya ambil contoh dari orang-orang baik di negeri ini, misal saja Pak Dahlan Iskan yang telah divonis dua tahun penjara. Segala kebijakan beliau yang justru menjadikan perusahaan yang nyaris bangkrut bertransformasi menjadi BUMN dengan keuntungan yang besar, justru harus berakhir hanya karena melanggar birokrasi yang ada. Visi beliau untuk mengabdi itulah yang kita sebut dengan nafas panjang. Bayangkan saja di usia beliau yang tak lagi muda, dengan kondisi liver sudah di cangkok, beliau masih bergerak lincah layaknya pebisnis yang membebaskan permasalahan. Namun di sinilah, yang saya maksud di atas bahwa nafas panjang kebaikan janganlah sampai tersengal-sengal. Pak Dahlan tidak salah, namun andai saja beliau mau lebih memperhatikan konstitusi, maka barangkali beliau saat ini tidak dipenjara. Dan satu hal yang saya garisbawahi, bahwa dipenjaranya beliau, maka akan banyak yang merasa kehilangan dengan kebermanfaatan yang biasa beliau lakukan. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat, tapi bagi beliau selalu cukup untuk melakukan perubahan-perubahan di institusi yang beliau pimpin. Walau beliau sudah pernah menyadari konsekuensinya, namun tentu saja ada harga mahal yang harus dibayar. Walaupun begitu saya yakin nafas panjang beliau telah banyak mengakar dan mengideologi pada orang-orang di sekitarnya yang pernah bekerja dengannya. Ya, di sinilah salah satu titik poin terpentingnya.

Nafas Panjang Kebaikan tidaklah abadi di satu orang. Ia harus ada yang meneruskan. Sebab itulah dalam buku 5 level kepemimpinan John C Maxwell, level tertinggi kepemimpinan menurut beliau adalah pemimpin yang bisa mencetak pemimpin. Sebab dengan itulah visi yang ia bawa tidak akan pernah padam. Sebagaimana islam yang dibawa oleh Rasulullah berabad silam, tertuangkan visinya di dalam Al-Quran dan Al-Hadits. Agar kita sebagai manusia modern mampu meneruskan semangat yang telah diritintis oleh beliau beratus tahun yang lalu.

Hari ini kita sedang berada di Bulan Ramadhan. Momentum untuk mengekskalasi diri agar nafas ini benar-benar menjadi panjang. Setan dibelenggu, sementara segala kebaikan dilipatgandakan. Inilah latihan terbaik untuk nafas kita dan sekaligus ujian apakah benar pasca ramadhan nafas ini akan tetap tak tersengal-sengal layaknya ketika puasa? Semoga kita senantiasa menyadari bahwa kita tak cukup menafaskan kebaikan. Ia harus panjang. Dan di sinilah kita perlu menetapkan visi kehidupan. Juga jangan lupa kelak kita perjuangkan dan kita turunkan kepada anak dan cucu kita. Kita boleh mati, tapi nafas ini, harus ada yang meneruskan. Pertanyaannya,  sudahkah kita menetapkan visi kita? 

2 Ramadhan 1438 H
Malang

Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian #30daysramadhanwriting selama bulan Ramadhan 1438 H. Insya Allah akan terpublish setiap hari pukul 05.05 WIB. Untuk membaca tulisan lain dalam project ini. Ini adalah tahun kedua saya melakukannya, setelah tahun lalu mencoba memulainya. Semoga istiqomah 🙂 

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *