Ramadhan #3 : Memperjuangkan Ketidakpastian

memperjuangkan ketidakpastian
Jika saja kita sudah tahu akan masuk surga, lantas akankah kita masih berjuang? Atau jika saja kita sudah tahu bahwa kita ditakdirkan menjadi penghuni neraka, lantas akankah kita berputus asa? Kehidupan kita memang selalu menjadi misteri illahi. Itu sudah menjadi alasan yang cukup untuk senantiasa beristiqomah dalam berjuang. – mfs

Entah mengapa akhir-akhir ini hal-hal yang berbau ketidakpastian senantiasa menjadi perenungan saya. Well, sebagai orang yang masih terhitung hijau memasuki dunia pasca kampus, tentu saja menjadi pilihan antara realistis atau tetap idealis. Dan sungguh menariknya, keduanya ternyata mengandung kesamaan. Sama-sama tidak pasti. Namun tetap saja harus dipilih salah satu.

Masih berjuang mencari kepastian beasiswa, ya, sejauh ini saya sudah akrab dengan kata penolakan. Seakan bahasa inggris yang sudah saya perjuangkan selama sekian bulan di tahun 2016 lalu belum ada apa-apanya. (Serial kisah Master Preparation saya, bisa dilihat di post saya di blog ini sebelumnya ya, sengaja belum dilanjut memang hehe). Juga seakan beberapa LoA Unconditional yang telah saya dapatkan tak ada artinya, ketika beasiswanya belum kunjung dapat jua. Sementara itu teman-teman se-angkatan saya sudah banyak yang merasakan dunia kerja, dan mendapatkan gaji yang nominalnya tentu saja “wah”. Sehingga sekarang seolah-olah saya berada dalam ketidakpastian, sementara teman-teman saya mendapatkan sesuatu yang pasti. Pertanyaannya : Benarkah demikian? 

Ketika saya merenungkan lebih jauh, ternyata barangkali tak jauh beda. Ya, dunia kerja saat ini kebanyakan sistem kontrak. Bahkan impian saya menjadi dosen pun, saat ini penerimaan PNS juga tak kunjung pasti, hingga Perguruan Tinggi pun juga menggunakan sistem kontrak. Yang mana ketika kontrak itu habis, maka belum tentu mereka akan memperpanjang. Bukankah hal ini saja sudah merupakan ketidakpastian? 

Ketidakpastian itu pula yang sebenarnya merupakan ujian sekaligus bentuk cinta Allah kepada hamba-hambaNya. Kita boleh saja mengeluh dengan itu. Namun ingatlah, bahwa Allah tak pernah memberikan ujian melebihi kemampuan hamba-hambaNya.

Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(Q.S. Al-Baqarah: 286)

Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”
(Q.S. Al-Insyirah: 5-6)

Dengan ketidakpastian itulah, pilihannya ada dua. Kita akan semakin mendekat atau justru menjauhkan kita kepadaNya. Kala mendekat, kita bermunajat, dalam setiap sujud saat shalat, niscaya kita akan merasakan nikmat. Sebab seringkali ketika ketidakpastian itu mencapai puncaknya, justru Allah memberikan pertolonganNya. Tentu setelah berjuta doa dan air mata ditumpahkan. Kala menjauh, Allah tak semata-mata langsung murka. Tapi Dia turunkan peringatan yang rasa sakitnya tentu telah terukur olehNya. Bukan semata dendam, agar kita kembali kepadaNya. Sebab saat kita merasa diabaikan olehNya itulah, percayalah bahwa sesungguhnya tiada suatu peluh perjuangan kita yang Allah sia-siakan. 

Maka dengan ketidakpastian, kita sesungguhnya tengah diuji, bagaimana kita bisa dengan cepat mengubah life plan kala hasil yang ada tak sesuai dengan yang diekspektasikan. Kita bisa saja salah perhitungan, namun sesungguhnya itu telah sesuai dengan perhitungan Allah kepada hamba-hambaNya. Terkadang bukan soal ketidakpastian itu yang membuat kita tak nyaman, tapi hati kecil ini yang justru kita persempit dari segala ketetapanNya. Ya, bisa saja memang karena iman kita belum tertempa rasa sabar dan ikhlas dalam setiap keadaan, belum tersemai tangguh dalam setiap ketetapan. Maka lagi-lagi itu semua perlu perjuangan. 

Lantas sampai kapan kita kan terbelenggu dalam ketidakpastian? Bukan! Bukan terbelenggu. Frasa terbelenggu malah justru seringkali membuat itu menjadi beban. Mari kita ubah mindset diri, bahwa ketidakpastian itulah cinta terbesar Allah. Dengan ketidakpastian, kita akan tekun bermunajat, agar mendapatkan yang terbaik. Dengan ketidakpastian, kita akan semakin peka terhadap sekitar. Melihat bahwa masih banyak di antara mereka yang bahkan untuk makan besok pun masih belum pasti. Mengutip kata KH. Rahmat Abdullah, bahwa…

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”

Semoga perjuangan dalam ketidakpastian senantiasa dibungkus dengan kulit tebal keikhlasan. Sebab energi keikhlasan sesungguhnya adalah obat termanis untuk mengobati segala luka yang menggores perjuangan. Ia adalah cahaya yang tak pernah berhenti menenrangi gelapnya hati. Ia pula sumber kekuatan jiwa yang takkan pernah lelah memompakan semangat juang setiap hari. Karena dengan ikhlas, kita bisa tersenyum walau perih perjuangan sedang mendera. 

Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu tetapi ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu tetapi ia buruk bagimu, dan Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui
(Q.S. Al-Baqarah:216)

3 Ramadhan 1438 H
Malang

Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian #30daysramadhanwriting selama bulan Ramadhan 1438 H. Insya Allah akan terpublish setiap hari pukul 05.05 WIB. Untuk membaca tulisan lain dalam project ini. Ini adalah tahun kedua saya melakukannya, setelah tahun lalu mencoba memulainya. Semoga istiqomah 🙂 

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *