Ramadhan38 #4 : Mengapa Khawatir?

Khawatir
“…… dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan dijamin Allah rezekinya”

(Surah Hud, ayat 6).

Akhir-akhir ini perenungan saya mengarah ke suatu hal. Tentang rezeki yang Allah berikan kepada hamba-hambaNya. Ya, seringkali kita, dan barangkali saya khawatir tentang “nanti bakal kerja apa”, bagi mahasiswa tingkat akhir. Pun demikian masih ada beberapa teman saya yang tak kunjung mendapat pekerjaan, padahal mereka secara kemampuan juga secara indeks prestasi jauh lebih hebat daripada saya.

Fenomena inilah yang sempat membuat saya berpikir ketika akan melanjutkan S-2, S-3, hingga untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Banyak beberapa orang yang menanyakan, “Iz, ente yakin? Udah bangun jaringan komunikasi belum sama tempat kamu bakal ngabdi?”. Pun demikian ketika melihat fenomena banyak dari mereka yang sudah lulus S-2, bahkan S-3 ternyata belum jua mendapat pekerjaan yang layak. Di sini, tiba-tiba saya sedikit “keder” juga akhirnya. Sudah benarkah life plan yang telah aku rencanakan selama ini? 

Saya sendiri merefleksi perjalanan selama kuliah. Menjadi akademisi memang nyaris tak pernah ada dalam pikiran saya. Pun demikian dengan track record saya selama kuliah, saya pure anak organisasi banget. Dari mahasiswa baru, hingga bahkan tahun keempat ketika sebagian besar teman-teman memutuskan untuk pensiun dari aktivitas organisasi, saya tetap melakoninya. Sebab dahulu saya memang berencana ingin memilih dunia profesional sebagai dunia pasca kampus yang akan saya geluti. Dan untungnya saya masih bisa lulus tepat waktu walaupun sedikit berdarah-darah di deadline pengumpulan.

Namun semua berubah ketika negara api menyerang (?) , haha. Intinya berubah kala saya merasakan magang di salah satu perusahaan BUMN besar. “Ini bukan aku banget kalau nanti pas kerja kayak gini,”gumamku saat itu. Terbiasa bersosialisasi dengan banyak orang, menjadi narasumber di beberapa acara, serta berbagi kebermanfaatan yang melibatkan banyak orang membuat saya seolah tak betah jika setiap hari harus bertemu komputer, atau orang-orang itu saja. Belum lagi energi pikiran yang tercurahkan selama seharian untuk memikirkan perusahaan. Hingga akhirnya, dalam sujud-sujud yang dipanjatkan, muncul kembali saran dari orang tua yang selalu dinasehatkan, benarkah akademisi ini merupakan jalan hidup yang harus kutempuh? 

Merujuk kembali ke life plan yang saya buat, pada akhirnya saya memperjuangkannya. Pasca sidang tugas akhir dulu, boro-boro cari kerja saya justru pergi ke pare ambil intensif bahasa inggris. 4 + 1 bulan intensif sendiri. Bukan main, hampir setengah tahun saya mempersiapkannya, karena andai saja life plan saya dari dulu di sini, niscaya saya pasti menyiapkan jauh – jauh hari. Singkat cerita saya tes, dan nilai saya sudah memenuhi untuk submit beberapa universitas dan beasiswa.

Januari 2017 menjadi babak baru dalam perjuangan saya. Aneka berkas, essay, motivation letter, study plan saya buat dan saya submit ke berbagai macam beasiswa, entah berapa jumlahnya. Lima bulan telah berlalu, namun seakan peluang itu makin menipis dengan penolakan-penolakan yang keluar sebagai jawaban. Lantas, wajar bukan jika mulai muncul rasa khawatir? 

Kekhawatiran itu pun entah mengapa semakin diperkuat dengan pernyataan beberapa teman-teman seperjuangan ketika diajak berdiskusi. Entah yang bilang, “Iz, kalau jadi dosen biasanya ya udah harus punya link ke dalam”. Atau dominasi ormek tertentu, atau yah apapun itulah yang membuat motivasi ini sedikit menurun. Hingga akhirnya, saya sempat memutuskan akan berhenti saja submit beberapa beasiswa yang tersisa, karena seolah hasilnya akan sama. Ditambah saat ini kepastian menjadi PNS tak kunjung ada karena pun dosen sistemnya kontrak, yang itu berarti lagi-lagi menjalani pekerjaan dengan status tidak tetap. Di sinilah pada akhirnya kekhawatiran saya memuncak.

Pada akhirnya orang tua adalah tempat terbaik berdiskusi. Ayah, entah mengapa saya bersyukur memiliki beliau sebagai ayah sekaligus teman curhat yang baik. Dan se-simple ini beliau mengingatkan kepada saya tentang niat menuntut ilmu yang langsung membuat saya tersentak,

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”
(QS. Al-Mujaadilah : 11)

Saya tersadar bahwa niat ini ternyata salah. Saya sadar bahwa niat ini harus kembali ditata. Bukankah Allah berjanji mengangkat derajat seseorang? Mengapa harus khawatir jika kita nantinya memiliki ilmu yang banyak melalui etape pendidikan yang telah diperjuangkan, padahal cicak di dinding yang tak bersayap pun Allah cukupkan rezeki mereka dengan nyamuk yang justru bersayap dan mampu terbang lincah. Di sinilah ujian yang seringkali menimpa seseorang yang berproses. Rasa ketakutan yang berlebih seolah kita meragukan keadilan dan pertolongan dariNya.

Sebab itulah, saya menjadi ingat akan salah satu kajian seorang Ustadz, bahwa salah satu kenikmatan adalah dicabutnya rasa takut dan khawatir dalam hidup. Maka teruslah berdoa, dan berusaha agar rasa itu mampu hilang. Tentu saja dengan meyakiniNya sepenuh hati, sebagaimana Allah meyakini hamba-hambaNya kan menjadi Khalifah di muka bumi beribu tahun silam kala belum tercipta, padahal malaikat pun sempat meragukannya.

4 Ramadhan 1438 H
Malang

Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian #30daysramadhanwriting selama bulan Ramadhan 1438 H. Insya Allah akan terpublish setiap hari pukul 05.05 WIB. Untuk membaca tulisan lain dalam project ini. Ini adalah tahun kedua saya melakukannya, setelah tahun lalu mencoba memulainya. Semoga istiqomah 🙂 

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

1 Response

  1. Hanza says:

    Kakak hits Faiz, terimakasih sharingnya ya!
    sangat bermanfaat dan menginspirasi buat saya pribadi 🙂

    Keep writing ya!
    ditunggu tulisan-tulisan berikutnya :3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *