Ramadhan38 #6 : Kebersamaan 27 Derajat

Kebersamaan
Shalat jama’ah melebihi shalat sendirian dengan (pahala) dua puluh tujuh derajat.
(HR. Muttafaqun ‘Alaih)

Satu hal yang seringkali kita lupa mensyukuri adalah kebersamaan. Ya, ada banyak sekali kebersamaan yang dibangun selama bulan Ramadhan. Mulai dari hablumminallah (hubungan kita dengan Allah) dari Qiyamu Lail berjamaah yang banyak dilakukan di masjid-masjid utamanya 10 hari terakhir Ramadhan, Subuh, Tadarrus, kemudian shalat berjamaah yang rasanya jauh lebih ramai dibandingkan bulan-bulan yang lain, hingga tarawih di malam hari, sampai hablumminannas (hubungan kita dengan manusia) justru acapkali ramadhan mempertemukan kita dengan rekan-rekan yang lama tak bertemu. Memulihkan tali silaturrahmi yang sudah renggang melalui buka bersama, ngabuburit, sampai i’tikaf bersama.

Kebersamaan itulah yang membuat semuanya terasa indah, hal yang sering acapkali kita abaikan dalam aspek ibadah. Hadis di atas, mengenai keutamaan shalat berjamaah sesungguhnya bisa dimaknai secara mendalam. Bukan sekedar pahalanya saja. Lebih dari itu, dalam ibadah yang menjadi amalan pertama yang dihisab di hari kiamat nanti ini, Allah menekankan agar hamba-hambaNya berjamaah. Jamaah, secara bahasa arab artinya adalah berkumpul. Sebab itulah manusia cenderung suka ‘kongkow-kongkow’ atau berkumpul dengan rekan-rekannya, entah itu bertujuan baik atau buruk. Padahal sesungguhnya inspirasi kebahagiaan berkumpul, melakukan kebaikan secara bersama-sama, salah satunya sesungguhnya dimulai dari hadis ini. Namun acapkali kita abai melakukannya.

Hal yang dapat direnungi kembali adalah 1 banding 27. Pahala yang jauh lebih banyak dibanding shalat sendiri. Sama halnya dengan kebaikan yang dilakukan berjamaah, tentu saja dia barangkali 27 kali lebih powerful dibandingkan dengan jika dilakukan sendiri. Pun juga dengan menikah, semestinya 1 + 1 = 27, bukan justru mengendurkan perjuangan. Jika kendur, maka perlu dipertanyakan, apakah pernikahan itu bertujuan untuk perjuangan, atau sekedar kesenangan?

Momentum ramadhan kali ini banyak sekali momen-momen kebersamaan yang tanpa kita sadari sesungguhnya kita menikmati. Namun mengapa acapkali pasca ramadhan justru itu luntur saja? Barangkali sebab kita tak memahami maknanya secara mendalam. Bahkan seakan itu menjadi hal yang lumrah ketika pasca ramadhan shaf masjid kembali menjadi satu shaf kala Subuh, kajian berkurang pun dengan jamaah yang datang. Seakan ghirah yang telah dilatih dan digembleng selama sebulan penuh menguap begitu saja.

Kebersamaan 27 Derajat. Bahwa percayalah dengan kebersamaan yang kita bangun, sungguh jauh lebih impactful, jauh lebih berpahala jauh lebih indah. Ibaratnya lebih suka mana masuk surga sendiri atau bersama-sama? Tentu saja bersama-sama. Apalagi jika kelak surga menjadi tempat reuninya kita semua yang senantiasa memperjuangkan kebersamaan. Kebersamaan dalam kebaikan di dunia, hingga pasca jurang kematian yang memisahkan, Allah kumpulkan kembali serpihan kebersamaan di dunia dulu di SurgaNya. Semoga kita termasuk di dalamnya. Semoga kebersamaan itu bukan sekedar 27 derajat, namun mengakar dalam segala urusan dalam kehidupan.

6 Ramadhan 1438 H
Surabaya

Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian #30daysramadhanwriting selama bulan Ramadhan 1438 H. Insya Allah akan terpublish setiap hari pukul 05.05 WIB. Namun untuk saat ini mohon maaf sedikit telat, semoga bisa kembali tepat.  Untuk membaca tulisan lain dalam project ini bisa cari tag Islam / Ramadhan di website ini.  Ini adalah tahun kedua saya melakukannya, setelah tahun lalu mencoba memulainya. Semoga istiqomah  🙂  

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *