Ramadhan38 #7 : Membaca Tanda-Tanda

Tanda-Tanda
Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi no. 2396, hasan shahih kata Syaikh Al Albani).

Ada banyak sekali tanda-tanda kekuasaanNya yang telah ditunjukkan di dunia. Sejak zaman Nabi Adam diturunkan ke dunia, peristiwa pencarian Tuhan seorang Nabi Ibrahim, Banjir besar yang melanda dunia kalah Nabi Nuh dan bahteranya berlayar, hingga Bulan terbelah di zaman Nabi Muhammad. Kesemuanya terjadi kala dahulu agama kita ini awal mula disebarkan. Ketika hati masih ragu, ketika banyak manusia-manusia yang hidup dalam kejahiliyahan, maka Allah tunjukkan kuasaNya agar manusia percaya. Lantas, bagaimana ketika di zaman sekarang kala fitnah terhadap islam seringklai ditujukan, namun akankah tanda-tanda yang dulu Allah tunjukkan terulang kembali?

Saya menjadi ingat akan puisi Taufik Ismail yang judulnya sama dengan judul tulisan saya ini. Membaca Tanda-Tanda. 

Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan
dan meluncur lewat sela-sela jari kita

Ada sesuatu yang mulanya tak begitu jelas
tapi kini kita mulai merindukannya

Kita saksikan udara abu-abu warnanya
Kita saksikan air danau yang semakin surut jadinya
Burung-burung kecil tak lagi berkicau pagi hari

Hutan kehilangan ranting
Ranting kehilangan daun
Daun kehilangan dahan
Dahan kehilangan hutan

Kita saksikan zat asam didesak asam arang
dan karbon dioksid itu menggilas paru-paru

Kita saksikan
Gunung memompa abu
Abu membawa batu
Batu membawa lindu
Lindu membawa longsor
Longsor membawa air
Air membawa banjir
Banjir membawa air

air
mata

Kita telah saksikan seribu tanda-tanda
Bisakah kita membaca tanda-tanda?

Allah
Kami telah membaca gempa
Kami telah disapu banjir
Kami telah dihalau api dan hama
Kami telah dihujani abu dan batu

Allah
Ampuni dosa-dosa kami

Beri kami kearifan membaca
Seribu tanda-tanda

Karena ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan
dan meluncur lewat sela-sela jari

Karena ada sesuatu yang mulanya
tak begitu jelas
tapi kini kami
mulai merindukannya.

Ya, puisi yang beliau tuliskan di atas setidaknya menjadi gambaran akan tanda-tanda zaman. Allah tetap menunjukkanya, namun entah mengapa manusia seringkali tidak sadar?  Sebab manusia seringkali tenggelam dalam keegoisannya. Sebab kita bukan tidak tahu, mata fisik kita mengetahui, namun seringkali mata hati kita tak terbuka. Padahal, dengan tanda-tanda itulah Allah menunjukkan kecintaan kepada hamba-hambaNya. Dia segerakan segala hukuman di dunia, agar kelak di akhirat kita seakan sudah tak memiliki dosa, atau setidaknya tersisa sedikit saja. Seandainya tidak, siapkah kita kala Allah menimpakan segala balasan atas dosa kita kelak di akhirat?

Semoga kita diberi hati yang terbuka akan segala tanda-tanda. Setidaknya kita akan selalu menyadari. Semoga Allah lunakkan hati ini untuk agar senantiasa menyadari bahwa kerasnya hati ini akan menjadikan balasan itu terkumpul di akhirat kelak. Sebab tanda-tanda dariNya, adalah bentuk cinta Allah kepada hamba-hambaNya. Tinggal kita mau menerimanya atau tidak. Ketika kita tak pernah rindu kepadaNya, sesungguhnya Dia jauh lebih rindu kepada hamba-hambaNya. 

Surabaya,
7 Ramadhan 1438

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *