Ramadhan38 #8: Merencanakan Kematian

Kehectic-an saya beberapa hari terakhir di pekerjaan membuat #30DaysRamadhanWriting ini sedikit tertunda. Semoga sekalipun tidak on-time, tidak mengurangi kebermanfaatannya. Tulisan ini sejatinya ramadhan tahun lalu telah saya post ke dalam 3 bagian. Kali ini saya akan coba merangkumnya dan merefleksikannya kembali, karena saya rasa mengingat kematian harus senantiasa kita lakukan.
merencanakan kematian

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.”
(QS. Al-Ankabut: 57)

Seperti yang telah sebelumnya saya tuliskan di hari ketiga di sini, maka kematian pun adalah sebuah hal yang tak pasti. Justru karena ini merupakan peristiwa besar, peristiwa yang membuat kita tak mampu lagi berbuat kebaikan. Peristiwa yang berarti itu adalah perpisahan. Peristiwa yang menghantarkan kita menuju alam baru, alam qubur, maka sudah sewajibnya kita merencanakannya. Bayangkan saja, untuk pekerjaan kita saja yang bersifat duniawi, kita seringkali memiliki rencana A-Z. Lalu, bagaimana dengan kematian? Sudahkah kita merencanakannya sebaik mungkin ?

” Perbanyaklah mengingat-ingat sesuatu yang melenyapkan segala macam kelezatan (kematian).”
(HR. at-Tirmidzi).

Ketika terbersit keinginan bermaksiat, lantas kita mengingat, bahwa kematian bisa datang setiap saat. Jika saja kita tak kunjung bertaubat, akankah kita mendapat maghfirah atau justru laknat? Sebab itulah dengan senantiasa mengingat, kita akan bertekad, kapanpun dan di manapun kita akan selalu memberi manfaat kepada ummat. Agar setidaknya kita mati dalam kondisi yang khusnul khatimah dan bermartabat.

Beberapa guru dan ustadz saya pun tak henti-hentinya mengingatkan akan hal ini. Bahkan dengan sedikit bercanda beliau berkata, bahwa Malaikat Izrail jaman sekarang lebih suka sama yang muda-muda. Mengingat banyaknya manusia yang masih berusia muda ternyata dipanggil menghadap Allah SWT. Sementara yang tua-tua ternyata masih banyak yang awet. Hehe.

Candaan yang berbobot sekaligus menjadi cambuk bagi diri sendiri, bahwa bisa saja nafas yang kita hembuskan saat ini adalah nafas terakhir. Maka dari itulah persedikitlah dosa. Ini nasihat dari salah seorang teman saya. Bahwa menurutnya jauh lebih susah mempersedikit dosa daripada memperbanyak pahala. Sebab dosa seringkali kita lakukan tanpa kita sadar. Sementara sesuatu yang berpahala justru seringkali kita sadari, dan terkadang kita lelah melakukannya, malas, atau barangkali memang kita sedang futur.

Maka cara terbaik untuk merencanakan adalah sudah saatnya kita mengubah orientasi hidup menuju kebermanfaatan. Setidaknya ada yang kita tinggalkan, entah amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta anak yang shaleh. Kesemuanya yang akan mengalir selama kita di alam qubur. Semoga kesemuanya itu pula yang dapat meringankan akan segala dosa-dosa yang pernah dilakukan.

Kita memang hanya bisa berencana, namun Allah tentu saja takkan menutup mata. Bisa saja lebih cepat, atau lebih lambat. Maka dari itulah dengan perencanaan, setidaknya anda menyadari bahwa pentingnya menentukan visi hidup. Setidaknya kita sadar pasca naza’, takkan lagi diterima taubat kita kepad Allah SWT.

Surabaya
8 Ramadhan 1438 H

Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian #30daysramadhanwriting selama bulan Ramadhan 1438 H. Semesetinya terpublish setiap hari pukul 05.05 WIB. Namun untuk saat ini karena kesibukan di pekerjaan, saya cukup telat, semoga bisa kembali tepat.  Untuk membaca tulisan lain dalam project ini bisa cari tag Islam / Ramadhan di website ini.  Ini adalah tahun kedua saya melakukannya, setelah tahun lalu mencoba memulainya. Semoga istiqomah  🙂 

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *