Ramadhan38 #9: Menikahimu, Mencuri Mimpimu

Kehectic-an saya beberapa hari terakhir di pekerjaan membuat #30DaysRamadhanWriting ini sedikit tertunda. Semoga sekalipun tidak on-time, tidak mengurangi kebermanfaatannya.

Menikahimu

“Apabila seorang isteri mengerjakan shalat yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya (menjaga kehormatannya), dan taat kepada suaminya, niscaya ia akan masuk Surga dari pintu mana saja yang dikehendakinya.”
(HR. Ibnu Hibban).

Barangkali karena inilah kedudukan wanita lebih tinggi beberapa derajat di mata Allah dibandingkan laki-laki. Selain merasakan perihnya mengandung dan melahirkan, menyusui selama dua tahun hingga menyapihnya, pun ketika berumahtangga maka ketaatan kepada suami-lah yang akan menjadikannya jalan lapang menuju surgaNya. Tentu saja selama ketaatan itu untuk hal-hal kebaikan.

Di sinilah perenungan saya seringkali hadir menghiasi pikiran saya akhir-akhir ini. Seperti halnya manusia biasa, saya yakin bahwa setiap perempuan memilki rencana hidup masing-masing. Ia tentu saja memiliki impian layaknya lelaki. Apalagi di era trend global saat ini di mana kesetaraan gender dan emansipasi wanita selalu diperjuangkan. Saat ini wanita tidak lagi seperti dahulu yang diposisikan seolah hanya menjadi pengepul dapur saja. Peluang berkarir bagi wanita sangat terbuka, bahkan banyak sekali opsi yang memang dikhususkan untuk mereka. Sebab itulah, setiap orang saat ini bebes bermimpi ingin memberikan kontribusi apa baik ke negara atau pun masyarkat.  Namun seringkali mimpi yang telah dirancang di awal, “dicuri” oleh seorang laki-laki, yang bisa saja mereka baru mengenal sekian bulan, atau bahkan sekian hari.

Tapi mereka mau. Entah sudah berapa wanita yang melakukan hal ini, bahkan hampir semuanya. Di sinilah barangkali, saya selaku sudut pandang laki-laki yang mengedepankan rasio / logika selalu bertanya-tanya, mengapa mereka mau, bahkan kadang dalam usia yang masih muda. Hmm, sepertinya tentu berbeda dengan sudut pandang wanita yang lebih mengedepankan perasaan. Para wanita mau menukar karir cemerlang mereka dengan mengabdikan diri menjadi pendamping hidup seorang suami, yang bahkan kadang sosok yang mendampinginya tersebut berada jauh di bawahnya seara materi. Ya, memang tak sebatas materi, namun mereka mau menukar segala kenikmatan yang mereka dapatkan dengan Surga yang dijanjikan oleh Allah. 

Begitu kuucap qabiltu, maka genaplah separuh agamaku. Kau menjadi penyempurna akan perjalanan hidup dan akhiratku. Surgamu ada dalam taat padaku, walau tetap saja aku yang bertanggungjawab untuk membimbingmu. Kucuri mimpimu, untuk kuperjuangkan raih surgaMu. 

Ya, pada akhirnya perenungan saya sampailah pada suatu kesimpulan, bahwa memang surga pastilah selalu akan diperjuangkan, walau bagaimana pun caraNya. Dan surga bagi seorang wanita adalah ketaatan pada suaminya. Jika mereka mampu melakukannya dalam usia yang begitu muda, sudah tentu peluangnya akan jauh lebih berlipat pahalanya, daripada yang masih memutuskan untuk menunda-nunda. Sebab itulah pada akhirnya saya kembali meresapi akan makna hadis ini:

“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.”
(HR. Tirmidzi)

Hadis di atas menjelaskan bahwa intinya kembali lagi kepada ridha orang tua. Namun seyogianya adalah bersegera, karena peluang kebaikan belum tentu datang kedua kalinya. Pemaknaan di sini adalah bahwa kebaikan memang harus disegerakan, termasuk perkara menikah, terlebih jika seseorang sudah mampu.

Maka terima kasih kepada para wanita yang mau menukar segala mimpi-mimpinya dengan sebuah ketaatan kepada suaminya. Padahal surga yang dijanjikan pun belum tentu ia peroleh. Sebab dalam sudut pandang saya, tidak semata-mata taat saja, yang dalam artian itu hanya satu arah. Tapi seorang suami pun juga harus mampu menjadi imam yang baik, imam yang bijak. Sehingga surga, bukan terlahir dari ketaatan saja, namun dari kolaborasi keduanya. Imam yang baik, makmum yang taat, niscaya Allah akan pertemukan keduanya di surga.

Terima kasih kepada para lelaki yang berusaha memperjuangkan wanita yang ingin dinikahinya. Semoga perjuangan mereka tak semata hanya di awal, namun bertanggungjawab atas konsekuensi memperjuangkannya. Semoga para lelaki mampu “menebus mimpi-mimpi” pasangannya dengan kenikmatan surga, yang tentu saja masih belum pasti, se-pasti mimpi-mimpi para wanita.

Surabaya
9 Ramadhan 1438 H

Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian #30daysramadhanwriting selama bulan Ramadhan 1438 H. Semesetinya terpublish setiap hari pukul 05.05 WIB. Namun untuk saat ini karena kesibukan di pekerjaan, saya cukup telat, semoga bisa kembali tepat.  Untuk membaca tulisan lain dalam project ini bisa cari tag Islam / Ramadhan di website ini.  Ini adalah tahun kedua saya melakukannya, setelah tahun lalu mencoba memulainya. Semoga istiqomah  🙂 

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

2 Responses

  1. sifar says:

    T_T

    Terasa makjleb ya. Thanks tulisannya faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *