Ramadhan38 #10 : Nikmat Kedua

Nikmat Kedua

Beberapa minggu yang lalu sebelum puasa tepatnya, saya mengurus segala macam keperluan untuk mendaftar beasiswa LPDP terutama yang berkaitan dengan kesehatan. Ya, beasiswa ini  memang mensyaratkan kami para pendaftar melampirkan hasil tes kesehatan. Beberapa serangkaian tes yang harus dijalani meliputi tes bebas NAPZA (Narkoba, Psikotropika, dan Zat Adiktif), tes kesehatan seperti biasa (periksa tensi, buta warna, dst), serta untuk applicant beasiswa yang menyasar tujuan perguruan tinggi luar negeri, maka wajib pula melampirkan Surat Keterangan Bebas TBC (ada 3 tes sendiri untuk ini ._. : tes dahak, tes foto rontgen, dan tes mantoux), [ini yang bikin mahal T_T]. 

Saya bukan membahas tentang prosedur LPDP kali ini hehe, (next time saja kalau sudah jadi awardeee… *AMIIIN*). Yang ingin saya ceritakan adalah tentang lingkungan sekitar saya. Prosedur tes kesehatan yang bermacam-macam membuat setidaknya saya menghabiskan waktu 4 hari untuk bolak balik ke RSU Dr. Soetomo. Beberapa kali izin ga masuk kantor, sampai kerjaan sedikit numpuk. Namun, saya percaya. Bahwa akan selalu ada hikmah dibalik setiap perjuangan. Bahwa terkadang dalam setiap kegagalan selalu ada misteri illahi tersembunyi yang justru kita akan menjadi mensyukuri kegagalan tersebut karena jika kita mengambil hikmahnya. (Well, kondisi sekarang sudah ditolakin 7 beasiswa dan masih nunggu bebeberapa wkwk, lain kali juga saya ceritain di serial #ToBeTheNextStudentDad)

Sepanjang di rumah sakit, saya senantiasa mengamati orang-orang sekitar saya. Namanya rumah sakit pasti juga isinya orang sakit yah haha. Mulai dari yang biasa, hingga yang cukup akut. Mulai dari yang memang sudah tua, namun tak jarang pula yang sudah tua. Saya menjadi teringat sebuah hadis yang dulu pernah masuk salah satu materi ceramah saya semasa saya menjadi Da’i Cilik.

“Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Ada dua nikmat dimana manusia banyak tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan waktu luang’.”
(HR. Bukhari)

Pun demikian dalam sebuah hadis yang lain, bahkan Rasulullah meneguhkan masalah kesehatan ini sebagai sebuah kenikmatan yang terbesar setelah iman dan islam:

”Mohonlah kepada Allah kesehatan ( keselamatan ). Sesungguhnya karunia yang lebih baik sesudah keimanan adalah kesehatan (keselamatan).( HR. Ibnu Majah )

Namun di sinilah kita barangkali sering lalai. Contoh simpelnya adalah salah satu sumber penyakit yang seringkali melanda manusia adalah makanan. Ya, entah mengapa makanan lah yang justru sering melalaikan dan tanpa sadar menyalahi konsepsi hadis Rasulullah di atas. Makanan nikmat adalah surga, padahal belum tentu sehat. Entah itu kurang bersih, berlemak, banyak kolestrol, banyak MSG, bahkan kadang kehalalannya pun dipertanyaakan.

Saya pun menjadi ingat dahulu ketika masih SD terkena sesak nafas, karena dulu alergi dingin dan debu, saya ketika di rumah sakit, bersebelahan dengan seseorang pria yang masih muda. Beliau terkena paru-paru basah. Beliau bercerita bahwa semasa dahulu dia setiap memakai motor tidak pernah memakai jaket. Hanya kaos tipis. “Badan saya ini kekar mas, karena rajin fitness. Makannya saya dulu motoran nggak pernah pakai jaket, bahkan seringkali pakai kaos ketat, biar pamer otot saya yang kelihatan. Sudah sering diingatkan orang tua juga saya abaikan, yah akhirnya gini mas, paru-paru saya yang kena. Padahal usia saya ya masih muda”. 

Pun demikian justru penyakit-penyakit yang aneh-aneh seringkali menyerang kali ini bukan kalangan masyarakat menengah ke bawah saja. Yang barangkali wajar saja jika mereka terkena penyakit tersebut, sebab secara edukasi, kebersihan makanan, juga terkadang kualitas bahan pangan yang mereka makan bisa saja mendekati busuk, atau bahkan tidak layak makan. Anehnya justru saat ini kalangan menengah ke atas, yang dalam kasat mata seharusnya bisa menjaga kesehatan dengan lebih awas, memilih makanan yang bersih dan sehat, justru pada akhirnya terkena penyakit yang aneh-aneh. Entah  kolestrol, diabetes, dan lain sebagainya.

Pada akhirnya saya merenungi bahwa kita memang lupa. Makanan yang lezat seakan kita anggap sebagai nikmat yang tiada tara yang dikaruniakan Allah kepada hamba-hambaNya. Hingga kita abai terhadap kolestrolnya, lemaknya, bahkan kadang kebersihannya, karena mindset kita nikmat adalah rasa makanan itu sendiri. Padahal sesungguhnya kesehatan itulah nikmat yang tiada tara. Memang benar, menjaga kesehatan tak mudah. Tidak boleh makan-makanan ini itu secara berlebih. Namun bukankah Allah SWT telah berfirman dalam Quran-Nya :

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
(QS. Al-A’raaf:31)

Bahkan kebaikan pun jika dilakukan secara berlebihan, justru menjadi hal yang membawa kemudhorotan. Ambil contoh saja puasa sepanjang tahun yang tidak diperbolehkan. Pun demikian ketika seorang sahabat beribadah sepanjang waktunya, dibandingkan mereka yang mencari nafkah dan tetap menjaga ibadahnya, maka Rasulullah pun berpendapat yang kedua lebih utama.

Sejenak saya merenung bahwa dengan nikmat sehat inilah, kita bisa ber-nafas panjang dalam menyebar kebaikan. (Seperti yang saya tuliskan di hari kedua. Bayangkan jika kita memiliki kebaikan namun kita terlalu terforsir mengabdikan diri, kemudian jatuh sakit, lantas berapa orang yang akan merasa kehilangan kebermanfaatan yang kita berikan? Semoga tulisan yang terlambat ini bisa menjadi perenungan bersama. Bahwa kesehatan sekalipun memperjuangkannya tak selalu nikmat, namun itulah kenikmatan yang sebenarnya.

Surabaya
10 Ramadhan 1438 H

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *