Ramadhan38 #11: Keutamaan bukan Kebahagiaan

Setelah 15 hari terakhir disibukkan dengan aktivitas di ProteinQu, pada akhirnya saya mencoba kembali menyempatkan menulis. Ya, seharusnya hari ini sudah masuk tulisan ke-25. Saya tidak tahu apakah pada akhirnya nanti akan mencapai 30 tulisan seperti yang saya komitmenkan di awal, namun setidaknya saya telah berusaha.

Kali ini, saya ambil dari ceramah tarawih dari Prof. Abdullah Shahab, di malam 25 kemarin. Ada salah satu poin yang saya ingat dari perkataan beliau. Dengan gayanya yang menggebu-nggebu, beliau menyampaikan dengan penuh semangat tentang hikmah-hikmah kehidupan. Salah satunya, yang saya jadikan judul di atas.

“Salah besar jika manusia mencari kebahagiaan dalam kehidupan. Justru kita harus berkaca dari para Nabi, Rasul, dan Sahabat. Bahwa mereka selalu mencari keutamaan. Kebahagiaan bisa diperoleh dengan cara apapun. Sementara keutamaan hanya diperoleh jika kita mengikuti jalanNya. Dari keutamaan yang beliau amalkan itulah kebahagiaan lahir”

Cukup dalam kata-kata beliau hingga membuat saya merenung seasaat. Bahkan beliau mengatakan bahwa belum pernah saya temui ayat Quran yang murni menceritakan tentang kebahagiaan. Semuanya selalu diawali entah dengan perjuangan, keutamaan, atau apapun yang menunjukkan bahwa tidak ada jalan instan untuk meraihnya.

Kembali lagi merenungi bahwa di sinilah barangkali makna kebahagiaan itu sendiri adalah pada kelapangan. Seperti yang difirmankan oleh Allah dalam QS. Al-Insyirah ayat 1 :

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?” [QS: Alam Nasyrah [94]: 1]

Maknanya adalah Allah telah melapangkan dada kita (hati kita), namun justru kita lah yang seringkali mempersempit itu sendiri. Sebab itulah manusia diperintahkan mencari keutamaan. Mengapa demikian? Sebab keutamaan itulah yang menjadi nutrisi hati kita. Ketika hati tercukupi, maka kebahagiaan itu akan datang sendiri.

“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (Surah al-Hajj [22]: 46).

Lain halnya jika kita menjadikan kebahagiaan sebagai orientasi awal kehidupan. Justru kita bisa memperoleh kebahagiaan dengan segala cara. Ada orang yang bahagia ketika menyiksa anak buahnya, namun sebenarnya hatinya rapuh. Ada orang yang bahagia ketika melakukan kemaksiatan, padahal ia tengah menyulut api neraka di dalam dirinya.

Sebab itulah, kembali kepada ramadhan, bahwa Allah memberikan kebahagiaan setelah kita melalui perjuangan panjang. Setelah berperih-perih dalam lapar, menahan kantuk demi tadarrus dan qiyamu lail, kehilangan sebagian harta demi zakat, infaq, dan shadaqah, maka Allah hadirkan hari kemenangan. Yang sebenarnya belum tentu setiap orang merasakannya. Yang bahkan para ulama’ seringkali menyambutnya bukan dengan suka cita, namun duka cita beriring air mata. Sebab ramadhan telah pergi meninggalkan kita. Seperti kekasih yang dirindu dan ingin bersama lama-lama, namun ia pergi seolah singgah sementara.

Selamat berjuang meraih keutamaan. Semoga 10 hari terakhir kita kan mendapatkan kemenangan yang sebenarnya.

Surabaya
25 Ramadhan 1438 H
#latepost

 

 

Faiz

Still Struggling to get new school :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *